Tentang Jempol sang Pemimpin (KMSM 1306)

August 29, 2010 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

JEMPOL = PEMIMPIN YANG IDEAL. DIA PALING KUAT, TETAPI SEKALIGUS PALING RENDAH HATI, KARENA MAU MENYENTUH SEMUA JARI LAINNYA…

TELADAN SIKAP MENTAL POSITIF MUHAMMAD YUNUS UNTUK INDONESIA

August 26, 2010 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Rekan eksekutif sekalian mungkin sudah sering mendengar kisah tentang Grameen Bank, sebuah bank dari negeri Bangladesh yang melayani nasabah-nasabah dari kaum papa, terutama para pengemis. Pendirian bank ini mencengangkan banyak ekonom, pengamat ekonomi ataupun para bankers,  karena menurut pandangan mereka, pendirian bank khusus kaum miskin -apalagi pengemis-, adalah tidak mungkin. Berikut adalah cerita teladan M. Yunus dan Grameen banknya yang disarikan dari koran Kompas.

Ternyata, bank yang didirikan oleh Muhammad Yunus itu berkembang bisnisnya dan sekaligus membawa misi sangat mulia, yaitu perlahan-lahan mengajak para pengemis sebagai nasabahnya untuk mulai meninggalkan profesinya dan mencari profesi lain yang lebih bermartabat.

Bank ini -yang berkantor pusat di Dhaka, Ibukota Bangladesh- dipenuhi dengan nilai-nilai filosofi kehidupan yang luar biasa. Semuanya ini dimulai dari teladan sikap mental positif/perilaku dan karakter positif dari sang pemimpinnya sendiri yakni Muhammad Yunus. Lihat saja uaraian ini:

Berdasarkan penuturan General Manajer Grameen Bank Muhammad Shahjahan, Muhammad Yunus senantiasa menempatkan dirinya sebagai karyawan biasa dan bukan bos. Ia berkantor di lantai satu, sehingga langsung dapat melihat semua permasalahan di bank-nya. Di kantornya pun tak ada barang-barang mewah sama sekali sebagai hiasan. Dan dengan suhu udara 380 C di Bangladesh (yang membuat orang Rusia pada kolaps), tak ada AC di ruangan beliau! Hanya ada kipas angin sebagai pengusir gerah. Kondisi gerah ini selain untuk menerapkan efisiensi energi, juga untuk mengingatkan bahwa karyawan lapangan Grameen Bank benar-benar bekerja dengan peluh bercucuran.

Meja untuk para karyawan Grameen adalah meja kayu sederhana yang digunakan kaum kebanyakan di Bangladesh, dengan ukuran 1 M2. Dan, seukuran itu pula meja Yunus. Ukiran-ukiran indah nan mewah? Tak bakalan ditemui di Bank ini. Uniknya pula, tak ada laci di meja-meja ini. Yunus berkata, ”Tak ada laci di meja kami. Sebab, laci membuat karyawan cenderung memasukkan dokumen ke dalamnya. Mereka menjadi lupa akan pekerjaan yang harus diselesaikan. ”

Sebagai pendiri bank dengan kaliber dan reputasi internasional serta peraih Nobel Perdamaian 2006, pendapatan Yunus sungguh membuat orang tak habis pikir. Sebagai orang nomor satu di Grameen, gajinya perbulan hanyalah 650 US $. Gaji itupun masih harus dipotong 250 US $ untuk sewa tempat tinggal Yunus di gedung Grameen Bank. Meski merupakan pendiri, rupanya hal itu tak membuatnya dikecualikan dari pembayaran sewa tempat tinggal. So, gajinya tinggal 400 US $ atau Rp. 3.786.000,-/ bulan jika diRupiahkan. Hal yang sangat  kontras dengan gaji bankir senior nasional kita yang bernilai puluhan bahkan ratusan juta rupiah sebulan.

Ternyata, disparitas gaji Yunus dengan anak buahnya sangat kecil. Jadi, penghasilan yang tak jauh berbeda antara Yunus dan anakbuahnya, membuat jurang perbedaan pendapatan nyaris tak ada. Gaji manajer keliling Grameen bank adalah 175 US $ saja. Ketika ditanya besar atau kecilkah nilai itu dalam standar negara Bangladesh, Muhammad Shahjahan menjawab,”Yang penting, pegawai merasa hidup berkecukupan.”

Gilanya lagi, mobil Yunus sebagai orang nomor satu tidaklah mewah. Ia hanya punya sebuah minibus, yang dipilih karena efsiensinya, yang bisa memuat paling tidak 6 orang. Gilanya lagi-lagi, mobil yang sudah dipakai 8 tahun ini juga tak ber-AC. Dan setelah dipakai selama 20 tahun nantinya, Yunus juga belum berencana mengganti mobil itu. Gilaa……

Bagaimana dengan para menajer keliling? Setali tiga uang, merekapun juga diliput kesederhanaan. Bagi manajer keliling yang mempunyai jarak jauh dalam kerjanya, mereka hanya dibekali sepeda. Sehingga tercipta jukukan untuk mereka sebagai ’bicycle bankers’, atau bankir bersepeda. Mereka diwajibkan menjaga sikap independen dan etika bisnis yang kuat. Mereka tak boleh tergoda tawaran-tawaran dari nasabah, termasuk air putih!

” Jadi, semangat mereka bekerja bukan pada semangat kapitalismenya, tetapi lebih pada motif merasa bahagia bisa membuat masyarakat miskin bisa hidup lebih baik,” ujar Shahjahan. Mantaaap…

So, ladies and gentlemen. Apa yang bisa kita ambil dari paparan luar biasa ini? Tentu saja ini adalah contoh sikap baik atau positif yang ekstrem dan mungkin tak bisa diterapkan an sich begitu saja di Indonesia. Ada yang menyamakan semangat atau moralitas Yunus dengan semangat Ibu Theresa dalam mengabdi pada kaum papa di India. Ibu Theresa memang dari kaum biarawati…tetapi Yunus, bagaimanapun dia adalah seorang eksekutif bank.

Semangat yang bisa diambil disini adalah semangat kebersahajaan. Bahwa kita boleh saja berusaha kaya, tetapi memang ada batasnya. Ada kata cukupnya, seperti yang diutarakan oleh ekonom Jerman terkemuka, Prof. Ulrich Ducrow dari Univesitas Heidelberg. Beliau mengutarakan prinsip ’Economy of Enough’, bahwa pertumbuhan ekonomi harus ada cukupnya. Jika tidak, kecenderungan pertumbuhan adalah bergerak menuju penghancuran diri manusia.

Kemudian adalah sikap mental positif semangat melayani. Boleh kita berusaha meraih harta keduniawian lebih, tetapi tetap didasari semangat melayani orang lain dengan sempurna. Juga, didasari oleh semangat untuk membahagiakan orang lain, bukannya semangat ingin dilayani atau semangat mengakali, membohongi, memanipulasi seperti yang dipertontonkan oleh para pemimpin, eksekutif kelas tinggi, para wakil rakyat, serta pejabat departemen atau lembaga tinggi negara lain.

Hal ini masih diperparah dengan niat membuat lakon-lakon politik dan ekonomi yang sangat membingungkan rakyat (karena tak pernah ada arah dan ending yang jelas), yang bisa dilihat dan diruntut mulai dari Century Gate, teruuuuus sampai masalah Gayus, Susno Duaji, DPR yang selalu merasa kurang sejahtera, Polri dan KPK, ledakan gas yang terus terjadi tanpa penanganan adekuat dari pemerintah. Dan sebagainya…

Mungkin kita memang tak bisa berharap pada pemerintah. Tetapi sebuah penelitian kecil dari seorang sahabat saya memperlihatkan bahwa agen perubahan yang paling mungkin adalah para eksekutif swasta. Mengapa? Karena merekalah yang sudah lebih akrab dengan sistem, SOP, peraturan, PKB, reward punishment, dan sederet perilaku manajemen lainnya. Singkatnya, mereka terbiasa untuk hidup lebih teratur, bisa mengatur dalam lingkup negara kecil yang bernama perusahaan…

Dan, sosok perilaku positif eksekutif seperti Muhammad Yunus sungguh bisa memberi inspirasi untuk kita para eksekutif, agar mampu membawa semangat-semangat sikap mental positif di atas yang ditanamkan beliau untuk kita jalani sedikit-sedikit dalam unit terkecil sehari-hari. Jika semua bisa melakukan hal seperti ini, maka kebesaran bangsa Indonesia adalah sebuah keniscayaan yang tak perlu menunggu waktu terlalu lama untuk mewujudkannya….

Salam kebersahajaan Yunus…

Drg. T.A. Tatag Utomo, MM., ASM

Direktur Pendidikan KPPSM
‘Pelatihan Pengembangan SIKAP MENTAL’
F.X. Oerip S. Poerwopoespito
WISMA KPPSM
Cibubur Indah III Blok F-7 Jaktim 13720
T: (021) 8716968, F: (021) 8719981
email: tatag@kppsm.com, website: www.kppsm.com
Weblog: www.pengembangankarakter.com
HP: 0818-874430, YM: tatag_kppsm@yahoo.com

FB: Tatag Utomo

FB: Pengembangan Sikap Mental Positif

Twitter: @tatagkppsm

Pelatihan Perilaku dan Karakter Positif SP Kalbe Farma, Tbk sebagai Partner Mutualistis Perusahaan’

August 26, 2010 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

KPPSM dan Serikat Pekerja PT Kalbe Farma, Tbk mengadakan pelatihan:

‘Perilaku dan Karakter  Positif SP PT Kalbe Farma, Tbk sebagai partner Perusahaan yang Mutualistis.

Pelatihan diadakan untuk anggota serikat pekerja perusahaan dan diadakan di Villa Renata Cimacan Jawa Barat, tanggal 27-28 Agustus 2010, pukul 10.00 sampai 17.00.

Case 9: Pemimpin Tahu Kesalahan Kita dari Teman Sejawat

August 24, 2010 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Selamat sore, boleh saya bertanya:
Bagaimana jika Pemimpin mengetahui sebuah kesalahan kita dari informasi teman sejawat kita, yang sebetulnya tidak tahu apa-apa dan memang tidak bermaksud menjerumuskan kita. Sikap mental positif  apa yang seharusnya kita lakukan?
Meifi Sanderlina, Surabaya
—————————————————–—————————————–
Jawab:
Kalau terjadi seperti ini, sikap mental positif atau perilaku positif yang tepat dilakukan adalah menghadap ke pimpinan dan minta maaf terhadap kesalahan yang sudah kita lakukan (ini dilakukan baik dia sudah tahu atau belum tahu bahwa kita sudah tahu kesalahan kita dari teman yang ‘tidak tahu apa-apa’ itu, tanpa meyebutkan bahwa kita tahu dari teman sejawat ‘yang tidak tahu apa-apa’ itu). Dan kemudian, boleh berikan semacam penegasan halus bahwa jika memang pimpinan merasa kita melakukan hal yang tidak pas dalam pekerjaan, jangan ragu untuk memanggil dan menegur kita sebagai anak buahnya secara 4 mata.
Okey…sampai jumpa pada pertanyaan berikut
Mas Tatag, KPPSM

Tentang Kesalahan Pimpinan (KMSM 1206)

August 24, 2010 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

TIADA PASUKAN YANG SALAH, YANG SALAH KOMANDANNYA. TIADA ANAK BUAH SALAH, YANG SALAH PIMPINANNYA. DAN TIADA ANAK SALAH, YANG SALAH adalah…ORANGTUANYA!

SIKAP MENTAL POSITIF DALAM INDUSTRI KEUANGAN

August 24, 2010 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Kompas Senin 24 Mei 2004 pernah memberitakan tentang persaingan tidak sehat, sangat sengit dan menjurus sampai tingkat hancur-hancuran yang mengancam pasar obligasi. Adapun persaingan yang terjadi adalah persaingan komisi, dimana perusahaan efek berlomba menawarkan fee (komisi) yang sangat rendah, bahkan konon bisa sampai 0 (nol) persen.

Dalam tender penjamin emisi obligasi perusahaan yang berperingkat bagus seperti “idAA+” dari Pefindo, sudah ada yang menawarkan dengan komisi 0,4 %. Tingkat komisi ini sudah dikeluhkan banyak pihak sebagai upaya yang dapat merusak pasar. Dengan fee serendah itu, maka perusahaan penjamin akan menciptakan seolah-olah terjadi kelangkaan atau kelebihan permintaan. Ini saja sudah dipertanyakan kebenarannya.

Lalu kemudian, perusahaan efek tersebut akan cenderung bersikap mendahulukan kepentingan  sendiri atau kepentingan nasabah sendiri. Kalau ini yang terjadi, maka konsep penyelenggaraan perusahaan yang bersih, transparan dan berwibawa (good corporate governance) sudah terlanggar.

Indeks Standard and Poor’s, indeks bursa Nasdaq dan Indeks Dow Jones menukik mencapai rekor terendah tahun 2002. Apa pasal? Semuanya ini ternyata berawal adanya bom skandal keuangan, yang membuat perusahaan Amerika bernilai ratusan milyar dollar AS seketika dinyatakan bangkrut, karena skandal keuangan yang melibatkan top eksekutif perusahaan tersebut, yaitu: Mulai dari skandal Enron corp., Worldcom dan Walt Disney Company (karena manipulasi pembukuan), Tyco (karena penggelapan pajak), dan Xerox corp (juga karana manipulasi pembukuan). Begitu juga dengan Global Crossing yang bangkrut akibat pegawainya menghilangkan dokumen penting. Ini semua menyebabkan kepercayaan investor terhadap keamanan investasi di AS menyurut. Dan sedihnya, manipulasi-manipulasi ini diduga juga melibatkan konsultan kondang seperti Arthur Andersen.

Jika anda mempunyai perusahaan dan ingin perusahaan bertumbuh besar dan langgeng, mulailah untuk membuat perusahaan yang sungguh bernuansa ‘good corporate governance’ yang berdasarkan sikap mental positif/perilaku/karakter positif seperti sikap Jujur (faithful), adil (justice) dan sehat (fairness). Tetapi jika ingin mengalami kehancuran (cepat atau lambat) tak perlu belajar dari sejarah, dan meneruskan sikap-sikap/perilaku/karakter negatif, seperti melakukan mark up, insider trading, manipulasi pajak dan laporan keuangan, rekayasa negatif keuangan, melakukan moral hazard dan fraud dan sebagainya….So? Pilihan ada di tangan anda! Cuma harap diingat, kejatuhan perusahaan anda dapat menyeret anda dalam kesulitan yang tak terbayangkan sebelumnya, serta menyebabkan banyak orang menderita.…..

Salam sikap mental positif dalam keuangan…

Drg. T.A. Tatag Utomo, MM., ASM

Direktur Pendidikan KPPSM
‘Pelatihan Pengembangan SIKAP MENTAL’
F.X. Oerip S. Poerwopoespito
WISMA KPPSM
Cibubur Indah III Blok F-7 Jaktim 13720
T: (021) 8716968, F: (021) 8719981
email: tatag@kppsm.com, website: www.kppsm.com
Weblog: www.pengembangankarakter.com
HP: 0818-874430, YM: tatag_kppsm@yahoo.com

FB: Tatag Utomo

FB: Pengembangan Sikap Mental Positif

Twitter: @tatagkppsm

Case 8: Tentang Tugas di Luar Jobdesc dari Pimpinan

August 18, 2010 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Tanya: Pak, bagaimana jika harus mengerjakan tugas yang diperintahkan oleh atasan, tetapi sebetulnya tugas itu tak ada dalam job desc kita. Lalu bagaimana jika pemimpin yang lebih tinggi mengetahui situasi seperti ini? Sikap Mental Positif apa yang idealnya kita lakukan sebagai anak buah?
Terima kasih
Bambang, Cibinong
——————————————————————————————–
Jawab:
ini memang agak sulit. Di dalam jobdesc, sebetulnya ada klausul tentang ‘mengerjakan tugas tambahan yang diberikan oleh pimpinan’. Dengan klausul ini, maka memang pimpinan boleh memberikan tugas tambahan yang diperlukan kepada anak buahnya. Namun, sebaiknya memang dia bisa mempertimbangkan dengan bijak bahwa tugas tambahan tersebut tetap masih dalam koridor jobdesc, dan tidak mengganggu jobdesc utama, serta tidak membuat keadaan dimana yang bisa membantu akhirnya ‘terus diminta membantu’, sehingga membuat bagian yang dibantu menjadi ‘terlena dan manja’. jadi, memang kunci teletak di pimpinan yang harus tahu mana batasannya agar tidak menjadi sebuah boomerang effect. Dari sisi kita sebagai anak buah, sikap mental positif yang dilakukan: Kita bisa memberikan pertanyaan kepada pimpinan ketika diberi tugas tambahan yang menurut kita sudah terlalu jauh dengan: ‘Maaf pak, bagaimana jika tugas utama saya menjadi terbengkalai?” atau ” Kalau begitu pak, mana yang harus saya kerjakan terlebih dahulu?”, atau juga bisa dengan kasus, “Baik pak akan saya kerjakan. Tetapi jika nanti pimpinan  memarahi saya karena meninggalkan tugas utama, apa yang  harus saya katakan?” Pertanyaan-pertanyaan ini sebetulnya adalah suatu ‘permintaan ketegasan pernyataan’, bahwa dia memang yang memerintahkan kita melakukan tugas tambahan tersebut. Dan jawaban ini tetap dibarengi dengan jawaban nomor 2 tentang Catatan Kerja Pribadi, sehingga menghindarkan kita dari tunjukan kesalahan kepada diri kita karena melakukan pekerjaan tambahan.
Oke…selamat mencoba.
Drg. T. A. Tatag Utomo, MM., ASM

Case 7: Cara Membawakan Renungan Sikap Mental Positif

August 17, 2010 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Selamat siang Mas Tatag… boleh nanya nih. Dalam menjalani program follow up dengan renungan sikap mental, berapa lama waktu yang ideal? Dan model waktunya mana sih ya terbaik: Teratur setiap tanggal/hari tertentu, atau acak saja? Bolehkah dimasukkan diskusi dalam program renungan sikap mental? Saya juga ingin mengatur program renungan untuk divisi saya yang tampak sibuk sekali, sehingga cukup sulit untuk menentukan waktunya…
Tx dan maaf pertanyaannya banyak….
Siswanto, PT Interbat Surabaya
———————————————————————————————
Jawaban:
Halo Brother Siswanto….
Ok..jadi awalnya aku memperhitungkan bahwa waktu total rata-rata untuk sebuah renungan adalah 10 menit. Namun akhirnya dalam realitasnya waktu itu kurang. Jadi berdasarkan pengalaman, waktunya kira-kira 15-30 menit. Artinya setiap peserta mendapat kesempatan mengungkapkan konsepsinya, walau hanya 30 detik sampai 1 menit.

Nah…memang kalau lebih mantap, renungan sikap mental boleh berkembang jadi diskusi yang dikaitkan dengan dunia kerja sehari-hari, diisi dengan usulan atau ide untuk perbaikan kinerja. Bisa juga dimasukkan 1 (satu) saja, sikap mental positif baru yang akan dilaksanakan bersama-sama, misalnya saja: Sikap mengucapkan salam ketika sampai di kantor….
O ya mengenai waktunya. Ada beberapa pilihan: Mau secara Interval-Tetap, Interval-Variabel atau Acak Sesuai Kebutuhan. Kalau Interval-Tetap, renungan dibuat teratur setiap -misalnya- 1 atau 2 minggu sekali.  Pada Interval-Variabel karyawan diumumkan bahwa dalam 1 bulan pasti ada 2 kali renungan sikap mental, tetapi dengan jadual yang mendadak. Pada sistem Acak, ya renungan sikap mental diadakan jika dirasakan ada kebutuhan mengenai sebuah variabel perilaku, ambil artikel yang cocok dan direnungkan/disharingkan.

Dari riset bersama kami di Indah Kiat Pulp and Paper, Tbk, renungan sikap mental membawa hasil baik dengan sistem Interval-Tetap, dimana renungan berjalan 2 tahun penuh dengan jadual yang sudah ditetapkan secara teratur. Kalau dari riset terbaru di Amerika, jadual Interval-Varibel dapat lebih memaksimalkan hasil, karena karyawan akan lebih serius menyiapkan renungan, apalagi jika dari hasil renungan dapat dimasukkan sebagai faktor penilaian kinerja karyawan.

Sementara model perenungan yang Anda rencanakan berdasarkan waktu sibuk departemen, saya kira juga tidak masalah. Itu akan lebih memudahkan. mengenai kelemahan akan kurangnya sudut pandang karena karyawannya dari grup yang sama, tidak masalah. Anda bisa masukkan pengamat (mungkin lebih pas kalau diambil dari pimpinan satu level lebih tinggi) atau peserta tamu dari departemen lain sesekali.

Ok…saya senang sekali dengan semangat anda. Yang penting jangan melakukan renungan sikap mental dengan harapan hasil jangka pendek, karena pada hakekatnya pembinaan manusai relatif merupakan long term investment. Tetapi pasti, asal kita menjalaninya dengan senang hati, sabar, teratur dan niat baik. O ya kalau bosan renungan sikap mental dengan materi dari buku, materi bisa diambil dari artikel orang lain, atau materi Mini Artikel KPPSM yang sudah mencapai nomor 130.

Nah…selamat bekerja, berkarya dan berkontemplasi. God bless u always…

Mas Tatag yang Imut dari Cibubur ..he..he..he..(begini nih kalau sudah kehabisan ide salam penutup)

Tentang Mesin Produksi (KMSM 1106)

August 17, 2010 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

SAYANGILAH MESIN PRODUKSI ANDA SEPERTI MENYAYANGI DIRI ANDA SENDIRI…

Tentang Attitude (KMSM 1006)

August 13, 2010 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

ATTITUDE FIRST! APAPUN YANG ANDA IMANI, PELAJARI DAN KUASAI, SEMUANYA AKAN TERLIHAT DARI PERILAKUNYA..