Case 12: Bila Anak Punya Sikap Mental Suka Mencuri

May 26, 2011 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Selamat malam pak Tatag. Merdeka!

Pak Tatag sebelumnya saya minta ma’af karena mengganggu waktunya.

saya cuma ingin sekedar curhat, dan minta sedikit masukan dari njenengan,ini tentang anak saya yang ke dua, Marcell.

Saya kurang tahu dari mana Marcell bisa punya sikap mental negatif baru yaitu berbohong,dan mulai meningkat jadi mencuri.

Waktu pertama berbohong kita ajak dia ngobrol tentang bahayanya berbohong.Kita beri dia sangsi tidak boleh menonton TV selama 4 hari. Setelah itu berjalan,dia ketahuan kalau punya uang Rp 5.000, padahal kita tidak penah memberi uang sebesar itu. Kita beri dia Rp 2.000, itupun selalu minta yang logam/koin karena maunya dimasukkan kecelengan.waktu kita tanya dia berbohong kalau dia diberi teman,k ita tanya nama temannya dia jawab si A, lalu diralat si B, ralat lagi si C, sampai kita(saya dan ibunya) bilang kalau kita tidak marah kalau Marcell jujur,tapi bisa marah kalau tetep saja bohong. Akhirnya dia mengaku kalau ambil punya kakaknya yang jatuh di lantai(kamar kakaknya). Kita haruskan juga dia untuk mengganti uang kakaknya itu, dantidak nonton TV maupun main komputer selama 7 hari. itu bisa berkurang 1 hari kalau dia melakukan tugasnya tanpa disuruh.

Nah…yang baru terjadi ini yang buat kita bingung bagaimana cara mengatasinya. Istri punya kebiasaan mengumpulkan uang logam yang kuning baik yang Rp. 100, 500 maupun yang 1000.Pagi tadi istri bingung uang  koin 500 berkurang, sewaktu Marcell sekolah ibunya coba cek kamar Marcell, ketemu uang-uang logam kuning tadi, cukup dilihat saja.Bangun tidur siang Marcell ditanya ibunya, dan jawabannya berbelit-belit. Akhirnya juga mengaku juga. Yang membuat saya dan istri kesal dan prihatin, dia mengambil dari kamar kita saat ibunya masak di dapur. Aduh-aduh pak Tatag…..bingung aku pak, apa yang harus kita lakukan buat Marcell.

Kami minta saran dan masukkan dari njenengan untuk masalah ini. MATUR SEMBAH NUWUN. BERKAH DALEM.

Bapak Teguh, Gunung Putri…

————————————————————————————————————————

Halo pak Teguh…

Waah saya ikut prihatin juga ya…tapi it’s okay. Semua anak mempunyai masalah-masalah baru yang timbul. Kebetulan saja, Marcell dapat masalah yang seperti ini. Oke ada beberapa hal yang akan diklarifikasi dan bisa dilakukan, yaitu:

1.       Terlihat sikap Marcell bukanlah sifat atau watak, tetapi lebih kearah karakter. Mengapa? Karena tidak dari usia dini sekali perilaku itu muncul, tetapi dari usia sekolah dasar. Dengan kata lain, perilakunya itu bukan masalah gen, tetapi terlihat sebagai faktor lingkungan.

2.       Terlebih dahulu kalau bisa, kita melihat faktor lingkungan apa yang mendorongnya berbuat demikian. Misalnya: Diperas oleh teman (ini yang saya pernah alami, yaitu diperas teman untuk selalu membawa mainan atau uang untuk diberikan kepadanya). Atau, dia ingin punya uang untuk main PS, Time Zone atau model-model permainan seperti itu yang kini banyak tumbuh. Atau ingin membeli mainan banyak, atau menyewa komik-komik Jepang seperti Naruto, Sinchan, dll

3.       Setelah tahu faktor pendoronganya, pelahan-lahan kita mulai memberi dia pengertian, yaitu:

a)      Beri tahu tentang konsep Kejujuran. Bahwa kalau Marcell tidak jujur atau suka mencuri, nanti bisa akan menjadi pencuri sesungguhnya. Dan pencuri atau perampok adalah pekerjaan yang sangat hina. Ayah dan ibu sangat malu/sedih jika nanti kamu menjadi seperti itu. Pak Teguh bisa mengeluarkan kata-kata dengan gaya bicara yang ‘berat dan dalam’, agar kuat ‘kesan bijaksananya’.

b)      Beritahu pula ia bahwa kalau butuh uang, lebih baik minta. Tetapi kalaupun diberikan usahakan agar tidak hanya dibuang-buang untuk bermain dan bermain. Harus berusaha ditabung. Ini penting untuk mengajarkan sikap mental positif keuangan yang produktif dan bukan konsumtif.

c)       Gunakan Teori  Cermin: Bayangkan kalau Marcell dalam posisi yang dicuri uangnya oleh orang lain, pasti Marcell juga akan tidak senang dan marah. Maka sebaiknya Marcell tidak melakukan hal yang sama pada orang lain. Atau Pak Teguh boleh mencoba mengambil barangnya secara diam-diam. Ketika dia kelabakan mencari, kita kembalikan sambil mengutarakan konsep Cermin di atas. Bahwa seseorang sedih dan marah jika barang-barang nya dicuri orang lain.

d)      Ingatkan tentang ajaran Tuhan. Bahwa Tuhan sedih, jika Marcell -sebagai anak-anak yang empunya sorga- melakukan tindakan mencuri.  Jika Tuhan sedih, nanti Tuhan tidak mau membantunya lagi jika masuk dalam kesulitan.

e)      Perlihatkan film tentang sikap mental positif kejujuran yang pas (boleh kasih film ‘Untuk Sebuah Hamburger’ dari You Tube. Dan terangkan bahwa dengan bersikap jujur, kita akan menjadi pribadi yang bermutu dan disukai orang lain.

f)       Ajak dia ke Panti Asuhan dan berbagi kepada mereka ketika ulang tahun. Ini penting untuk menekankan konsep berbagi, sebagai konsep yang merupakan ‘lawan’ dari konsep mencuri. Bahwa Marcell beruntung, bisa mendapatkan keluarga yang berkecukupan, jauh dibanding mereka yang di Panti Asuhan.  Dan pencurian akan mengambil sebagian besar hak anak-anak miskin yang memerlukan.

4.       Terakhir, gunakan ancaman punishment jika dia melakukan hal serupa lagi. Jenis Punishment dapat juga ditentukan oleh dia sendiri untuk memilih. Tetapi sekali lagi diingat, punishment adalah langkah terakhir dalam mendidik anak untuk tidak melakukan hal negatif. Tetap dikedepankan langkah-langkah persuasif dan memberikan pengertian mendalam. Apalagi dalam memberikan pendidikan SIkap Mental Positif.

5.       Terakhir jika masih mendapat kesulitan untuk mendidiknya, bantu dengan kegiatan spiritual. Puasakan dia pada hari weton lahirnya, disertai doa yang kuat pada Tuhan YME. Karena doa yang kuat dari orangtua kepada anaknya akan sungguh didengar oleh Tuhan, dan kita percaya Tuhan tak akan mendiamkan  umatnya yang sungguh-sungguh memohon kepadanya.

Oke…selamat mendidik kejujuran untuk Marcell

Drg. T.A. Tatag Utomo, MM., ASM

Case 11: Menumbuhkan Sikap Mental ‘Berani’ pada Anak

May 26, 2011 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Yth. Bp. Tatag Utomo

Selamat siang pak, bagaimana kabar bpk ?

Semoga senantiasa dalam lindungan Tuhan Yang MahaKuasa…,

Pak Tatag, ada yang ingin saya tanyakan mengenai anak saya Nabilla, dimana ada kondisi psikologis pada anak saya kurang percaya diri dan menjadi bersikap pengecut.

Contohnya begini pak, kebetulan anak saya aktif dikegiatan beladiri pencak silat dan prestasinya cukup bagus (pernah 5x juara I, dikejuaraan pencak silat antar pelajar SD sejabodetabek, juara III dan II di kejuaraan antar pelajar SMP se DKI) , ada satu lawan bertanding yang juga adalah kakak kelasnya saya sebut saja F, dimana didalam setiap pertandingan resmi mereka pernah bertemu di semi final & final, dan setiap pertemuan ini anak sy selalu jatuh mentalnya dan tidak pernah menyelesaiakan pertandingannya.  Kejadian ini sudah 2x terjadi dimana dia selalu minder dan jatuih mental saat bertemu F kakak kelasnya tersebut (terakhir hr minggu tgl 10 April lalu, mereka bertemu di final kejuaraan beladiri yg diadakan Disorda DKI), padahal di babak penyisihan, perempat final maupun semifinal dapat dilalui dengan mantap, namun saat bertemu dengan kakak kelasnya dia langsung berubah drastis dan bersikap cengeng, yg akhirnya kalah tanpa meneruskan pertandingan.

Yang selalu diluar dugaan saya, sebelum pertandingan saat saya diskusi dengan anak saya, dia selalu menyatakan siap & bersikap biasa, namun beberapa detik sebelum pertandingan mulai dia mulai cemas, menangis dan tdk percaya dirinya kambuh, akibatnya dia selalu memberikan F kemenangan tanpa perlawanan yg berarti.

Saya tidak membebani anak saya bahwa dia harus meraih juara, apalagi kegiatan ini memang keinginan dia sendiri (bukan permintaan orang tua) dan saya juga hanya berharap anak saya mampu memberikan hal yang terbaik yang ada pada dirinya dan mampu bersikap krastria pula atas apa yang menjadi pilihannya.

Sikap mental dia tidak bermasalah saat dia menghadapi lawan2 bertandingnya, namun menjadi hal yang berbeda saat berhadapan dengan F ini.

Berdasarkan analisis dan evaluasi teknis sebenarnya anak saya cukup memilik kemampuan untuk memberikan perlawanan sepantasnya dalam pertandingan melawan F namun dia selalu kalah mental saat menghadapi F (hanya setiap bertemu F saja), yang selain kakak kelasnya di SD dulu (saat ini F bersekolah di sekolah atlit SMP Ragunan/PPLP Ragunan), juga adalah senior di tempat latihan pencak silatnya.

Mengenai F sendiri adalah anak yang baik, ramah dan santun yang sebenarnya adalah teman baiknya pula,  hanya saat bertanding F selalu bersikap serius siapapun lawan tandingnya (sikap mental sbg seorang atlit sudah terbentuk krn ybs sekolah di PPLP Ragunan) dan hal ini yang agaknya kurang dipahami anak saya.

Mohon saran bapak, bagaimana sikap dan upaya saya untuk mengembangkan sikap mental positif pada anak saya tersebut, karena pada dasarnya anak saya memiliki potensi diri yang baik.

Demikian saya sampaikan Pak Tatag, sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas perhatian dan saran bapak.

Salam hormat saya,

Joni Widayanto (Peserta Seminar “Anakku bukan Robot”)

————————————————————————————————-

Selamat malam pak Joni…merdeka!

Okey…saya sudah membaca kisah Nabila berkaitan dengan sikap mental bertandingnya yang turun, terlihat kurang percaya diri, terutama saat bertemu dengan F (yang adalah mantan kakak kelasnya di SD, anak baik, ramah namun kelihatan tegas dan kuat kepribadiannya). Membaca hal ini, saya jadi teringat karena ini adalah pengalaman saya pribadi juga sebagai atlit muda badminton waktu itu (seangkatan Ardy BW). Yang bisa jadi pertimbangan, pemikiran dan saran saya adalah:

1.       Sebetulnya Nabila secara teknis persilatan tidak mempunyai masalah yang berat. Terbukti, dia telah mampu meraih 5 X juara I di kejuaraan pencak silat antar pelajar SD seJabodetabek, juara II dan III di kejuaraan antar pelajar SMP se-DKI. Hanya, ia tampaknya mempunyai sedikit masalah ‘ketidakcocokan aura’ dengan F. Ini terjadi pada saya juga. Ketika saya masih sebagai atlit badminton, saya punya rekan, sahabat satu klub bernama Sugianto. Saya, sangat sulit dan gentar menghadapi Sugianto, sehingga ketika bertemu/latih tanding dengannya saya memang tidak pernah menang sama sekali. Padahal, Sugianto ini selalu kalah melawan Didi Sumarsono. Sementara saya sudah bisa menang melawan Didi . Melihat skema matematika ini, harusnya saya mampu menang melawan Sugianto, karena mampu mengalahkan Didi yang selalu mengalahkan Sugianto. Tetapi fakta yang terjadi adalah: Saya tidak pernah menang 1 game penuh pun (hanya sekali pernah menang satu set saja)!. Dan, ini terjadi pada badminton level dunia. Dulu kalau tidak salah, pemain bulutangkis Eropa mudah mengalahkan pemain China dan pemain Indonesia mudah mengalahkan pemain Eropa. Logikanya, pemain Indonesia mudah mengalahkan China. Namun fakta yang terjadi adalah: Pemain Indonesia lebih senang bertemu dengan Pemain Eropa daripada China, karena sering kalah dengan pemain China. Dianalisis sana sini, hasilnya adalah memang: ‘Ketidakcocokan gaya’ badmintonnya. Gaya Stylish Eropa mampu meredam permainan speed and power game pemain khas China, tetapi mudah takluk dengan permainan speed, power, tactic khas Indonesia. Dan gaya permainan Indonesia -yang sebetulnya tipikal dengan China (karena sama-sama Asia)- tidak cocok/sulit berkembang dengan gaya permainan China yang juga mengandalkan speed and power. Maka akhirnya dulu Icuk selalu ketakutan jika bertemu Yang Yang, tapi mudah mengalahkan Morten Frost Hansen. Padahal, Morten bisa mengalahkan Yang Yang!

2.        Yang penting, anda sebagai Ayahnya sikap mental positif anda sudah benar dengan ‘tidak memaksakan’ kehendak, atau ‘memaksakan menumbuhkan keberanian’ dalam diri Nabila. Mengapa? Pemaksaan adalah sikap mental negatif, jika tidak hati-hati, rawan menimbulkan trauma psikologis. Trauma psikologis pada jiwa selalu menyebabkan persoalan di kemudian hari yang sulit tersembuhkan. Ingat saja, jiwa itu bersifat seperti GELAS dalam terminologi Jawa, yaitu: NEK TUGEL. ORA ISO DILAS (kalau pecah/patah. tidak bisa dilas).

3.       Kalau perlu, adakan penggalian informasi/data tambahan, yaitu:

a)      Lihat apakah ternyata, Nabila pernah mempunyai pengalaman/trauma -terutama  mungkin semacam bullying-  dengan si F (misalnya, pernah berkelahi dan kalah, mengalami kekerasan dan tidak bisa melawan, dsb).

b)      Atau, si F memang merupakan anak yang sangat disegani di sekolah, karena mempunyai keunggulan yang kompleks dibandingkan anak-anak lainnya (misalnya, ia punya banyak kebisaan yang menonjol dalam banyak bidang sekaligus/multi talented)

c)       Atau, Nabila mempunyai sikap respek yang sangat tinggi kepada si F, karena di sekolahnya F adalah pemimpin dalam suatu kelompok dengan Nabila.

d)      Boleh juga lihat lagi secara teknis,apakah gaya bersilat si F ‘tidak cocok tipenya’ dengan gaya bersilat Nabila (konsultasikan juga dengan pelatihnya)

e)      Mungkin juga gaya/penampilan/karakter bertanding si F ‘terlalu garang dan dewasa’ yang menyebabkan Nabila takut dan getar, karena kebetulan mungkin Nabila masih membawa sisi kanak-kanak yang lebih kuat.

4.       Altenatif langkah Pemecahannya:

a)      Yang utama: Sebetulnya, tidak ada masalah yang berarti -sekali lagi- tak ada masalah berarti dalam Nabila. Mengapa? Nabila sudah mau memilih cabang olahraga yang cukup keras dan berdasarkan keinginan sendiri saja, itu sudah merupakan sikap mental positif yang hebat. Dan secara teknis, terbukti dia sudah mampu menjadi juara beberapa kali. Apalagi jika melihat tujuan sebenarnya dari olahraga beladiri adalah membentuk sikap yang baik sebanyak mungkin dalam diri seorang menusia, serta mampu menjaga kesehatan jiwa raganya dengan baik. Sedikit-sedikit ada kelemahan, itu sangat human being…Kecuali, keadaan grogi, tidak PD atau ketidakberaniannya selalu muncul setiap saat, nah itu baru masalah…

b)      Lalu? Ajak Nabila omong-omong lagi dengan penuh kasih sayang, bahwa: Anda sebagai ayah bangga, dan akan selalu bangga kepadanya, karena apapun yang terjadi, ia sudah mencoba/berusaha memberikan yang terbaik. Apapun yang terjadi, ia sudah mau ikut suatu cabang olahraga. Dan ia mau masuk dalam arena pertandingan resmi yang sebenarnya. Kalau memungkinkan, ajak omong-omong dalam suasana informal (misalnya ketika makan bersama di Mall), apa yang membuatnya gentar dan takut atau kehilangan kepercayaan diri ketika berhadapan dengan F. Yang penting disini adalah gaya bertanya Anda sebagai orangtua santai saja sebagai sahabat, bukan sebagai penyidik ya…Harapannya, Nabila mau mengungkapkan jika memang ada penyebab yang khas…

c)       Kemudian? Satu per satu kita bahas…

-          Jika sebabnya adalah poin 3 a), hilangkan traumanya tersebut dengan perlahan-lahan, sambil berjalannya waktu. Sebab, trauma kejiwaan bisa mempunyai efek antara 0-30 tahun! Dan makin keras kita berusaha menghilangkan trauma, biasanya malah bertambah lama trauma melekat. Jadi, sekali lagi, lepaskan dengan perlahan-lahan, lemah lembut dan setahap demi setahap. Lihat penyebab traumanya mulai dari bentuk yang paling sedikit menimbulkan ketakutan (misalnya melihat gambar), sampai perlahan-lahan lihat bentuknya yang asli. Jika memang dirasakan sangat perlu, bantu dengan terapi hypnosis dari psikater atau psikolog. Kalau tidak perlu juga tak apa-apa, lakukan sendiri pengurangan trauma bertahap dengan selalu mengingat/melakukan poin 4 b.

-          Jika sebabnya poin 3 b), berarti Nabila ‘keder’ dengan wibawa/kharisma si F. Jelaskan saja, bahwa jika memang F mempunyai bakat untuk mempunyai kemampuan ‘multi talenta’, ya…biarkan saja, tak perlu dilawan fakta itu, Yang jelas, sehebat-hebatnya F, pasti ia juga mempunyai kelemahan dibandingkan diri Nabila, apapun itu, sekecil apapun itu. Dan jelaskan, bahwa kita sebagai manusia mempunyai kelebihan dibandingkan dengan ‘masalah’ apapun bentuknya. Alasannya? Kita sebagai manusia punya ‘akal budi’ untuk membuat berbagai strategi, sedangkan ‘masalah’ tidak punya akal budi dan strategi untuk mengalahkan manusia kan?

-          Jika sebabnya poin 3 c), jelaskan pada Nabila bahwa sikap respeknya itu bagus, namun perlu ditempatkan secara proporsional. Respek dalam keseharian formal, tidak ada hubungan berbanding terbaik dengan waktu pertandingan. Yang berarti bahwa karena sikap repeknya pada F, Nabila tidak perlu melawan dengan serius. Malahan, sikap serius dalam bertanding -apapun hasilnya- adalah sikap menunjukkan sikap respek yang baik pada si F

-          Jika sebabnya poin 3 d) (yang mirip dengan kasus saya dalam olah raga badminton), memang banyak diselesaikan teknis. Biasanya, untuk mengalahkan lawan yang kita mempunyai ‘aura ketidakcocokan’, maka kita terpaksa mengembangkan gaya ‘all round type’. Artinya kita mencoba mempelajari banyak gaya dan teknik, sehingga jika satu gaya dan teknik tidak cocok untuk mengalahkan, kita memakai gaya dan teknik lain yang lebih tepat. Di sini, akhirnya Indonesia mempunyai Joko Supriyanto, yang merupakan pemain dengan pukulan terkomplit di dunia. Namun, ini juga tidak boleh dipaksakan. Karena untuk bisa mempunyai kemampuan all round type seperti ini, Nabila harus menyisihkan banyak waktu, tenaga dan pikiran yang lebih. Tinggal dihitung saja apakah pengorbanan tersebut sesuai dengan tujuan hakiki olahraga pencak silatnya sendiri…sebab juga ada tujuan-tujuan lain dalam hidupnya diluar pencak silat bukan? Tetapi, kalau pencak silat ini memang menjadi tujuan utama, maka segala pengorbanan harus siap untuk dilakukan…

-          Jika sebabnya poin  3 e), ini dia. Setiap kelebihan selalu menjadi kelemahan juga, jadi, kuatkan saja gaya kita sehingga akan menjadi kelebihan. Pesilat yang terlalu garang dan serius dalam bertanding boleh dilawan dengan sikap bertanding ‘seakan bercanda dan tidak serius’ sehingga akan memancing emosi si F meningkat. Emosi yang meningkat biasanya akan menurunkan konsentrasinya, Konsentrasi yang menurun, selalu akan diikuti oleh akurasi pukulan yang kurang terarah dan pertahanan yang kurang kuat. jadi,  Nabila bisa menjadi lebih mudah menghindarkan pukulannya dan memasukkan pukulan nya sendiri untuk mengalahkannya…

Akhir kata, Nabila sudah hebat dan mempunyai sikap mental positif bisa lulus CPR dan mau mempunyai kegiatan olah raga yang cukup keras dalam pencak silat. Perjalanannya masih cukup panjang, yang penting dia selalu mau bersikap positif dalam hidupnya, bahagia dalam pilihan hidupnya , menjadi pribadi ‘bermakna dalam hidupnya’ dan meraih semua tujuan hidupnya dengan jalan baik dan kalau bisa selalu membahagiakan orang lain. Sementara, sebagai orangtuanya Anda selalu mendukungnya dengan penuh kasih sayang, apapun hasil/prestasi dari Nabila dan apapun jalan yang dipihnya…

Demikianlah…semoga sharing ini membantu…O ya jangan lupa setiap kali sehabis latihan silat, semua daerah benturan ditubuhnya dibalur dengan param kocok, beras kencir atau ramuan lainnya. Itu untuk mencegah trauma mikri pada jalur meridian/refleksi/akupunktur-nya. Dan kalau Nabila mau telepon/email  saya langsung juga boleh…

HORMAT BENDERA MERAH PUTIH (bukan menyakralkan) SEBAGAI TANDA CINTA TANAH AIR

May 26, 2011 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Sekali lagi, hal ini bisa menjadi masalah sensitif. Tetapi saya akan coba memberi pandangan dengan obyektif, berdasarkan data fakta, hati-hati dan dari sudut pandang filosofis. Surat kabar Warta Kota hari Rabu, 23 Maret 2011 pada halaman 19 memuat sebuah artikel bertajuk: “Cholil Ridwan: Haram Hormat Bendera.” (sub judul: Itu Pendapat Pribadi). Artikel itu memberitakan bahwa salah satu ketua MUI Pusat, KH. A. Cholil Ridwan menyatakan bahwa haram bagi umat Islam untuk memberi hormat bendera dan lagu kebangsaan.

Cholil menyatakan, dalam Islam, menghormati bendera memang tak diijinkan. Dia merujuk pada fatwa Saudi Arabia yang bernaung dalam Lembaga tetap Pengkajian dan Riset fatwa pada Desember 2003 yang mengharamkan seorang muslim berdiri untuk memberi hormat kepada bendera dan lagu kebangsaan.

Wartawan Warta Kota tidak berhasil mengkonfimasikan hal  ini langsung kepada beliau, namun berhasil mendapatkan tanggapan dari Bapak Amidhan yang juga salah satu ketua MUI Pusat. Bapak Amidhan mengatakan: “Itu masalah yang teramat penting, tapi kapasitasnya adalah pendapat pribadi, bukan sebagai MUI. Jadi, pendapat pribadi bukan Fatwa MUI,” katanya.

Amidhan mengisahkan bahwa sejak sekolah di SD, dia selalu diwajibkan hormat bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. “Saya bersemangat, bergelora, dan itu membangkitkan semangat nasionalisme. Itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan soal menyakralkan bendera Merah Putih.” Katanya. Amidhan menegaskan, Cholil belum pernah menjadi PNS. “Beliau menyatakan pendapat pribadi dan selama ini beliau tidak pernah jadi PNS, yang sering melaksanakan upacara dan menghormati bendera. Jadi, itu sekali lagi merupakan pendapat dia pribadi dan salah yang mengutipnya.” Katanya. Pendapat Cholil akhirnya ramai dibahas di pelbagai situs sosial dan tentu saja ada yang mendukung dan menolaknya.

Kemudian, Kompas, Sabtu 30 April 2011 halaman 12 memuat artikel: “Wajib, Upacara Bendera di Sekolah.” Isi beritanya adalah: Semua sekolah wajib menyelenggarakan upacara bendera secara periodik. Kegiatan ini untuk menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan kepada Tanah Air. Sekolah juga harus mengenalkan lagu-lagu wajib nasional kepada siswa. “Kewajiban ini mulai berlaku pada tahun ajaran 2011/2012 dan akan diatur dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional.” Kata Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh kepada wartawan di Jakarta, Kamis 28/4/2011 malam.

Mendiknas mengakui, saat ini sejumlah sekolah tidak menyelenggarakan upacara bendera. Bahkan ada yang berpandangan menghormat bendera adalah perbuatan terlarang. “Terhadap pandangan seperti itu, nanti kami beri penjelasan. Namun, regulasi atau aturan soal kewajiban menyelenggarakan upacara bendera juga harus ada,” kata Mendiknas. Mendiknas mengakui, setelah reformasi, pendidikan kebangsaan termasuk pengenalan lagu-lagu wajib nasional (dan juga pendidikan Pancasila) kepada siswa mulai diabaikan. Akibatnya, banyak siswa tidak mengenal lagu-lagu wajib nasional yang sebenarnya bisa menumbuhkan kebanggan dan kecintaan kepada bangsa. “Upacara bendera dan pengenalan lagu wajib harus menjadi budaya sekolah.  Ini sama halnya dengan: Menyapa guru, menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan perbuatan-perbuatan baik lainnya,” kata Mendiknas.

Persetujuan datang dari Guru Besar dan praktisi pendidikan, Arief Rachman yang menambahkan bahwa selain pendekatan struktural untuk menumbuhkan Nasionalisme, Patriotisme dan rasa Bangga serta Cinta Tanah Air, perlu ditambahkan pendekatan kultural yang mampu memberikan pengalaman emosional dan sosial kepada siswa. Hal ini bisa dilaksanakan melalui memberikan pengalaman-pengalaman (bernegara) secara langsung dan berdialog tentang (hal-hal kenegaraan) negeri ini.

Sementara, untuk menumbuhkan sikap mental positif rasa cinta dan bangga terhadap Tanah Air bagi masyarakat di perbatasan negara, kementerian Pendidikan Nasional menjalin kerja sama dengan TNI AD. Aparat TNI AD akan membantu menumbuhkan semangat kebangsaan dengan mengajarkan membaca, menulis dan sejarah perjuangan bangsa kepada anak-anak di perbatasan, seperti di Kalimantan, Papua dan NTT. Nota kesepahaman  ditandatangai  oleh  Mendiknas Mohammad Nuh  dan Kepala Staf TNI AD Jenderal George  Toisutta, Jumat 29/4/2011 di Jakarta.

Sekarang, pendapat saya pribadi: Saya telah merenungkan hal ini juga cukup lama, sejak saya usia SMA. Sulit rasanya untuk tidak mempunyai sikap mental positif rasa cinta Tanah Air tercinta ini, karena saya lahir dengan ari-ari (plasenta) yang ditanam di tanah Indonesia. Kecuali bagi WNI yang bukan lahir di Indonesia, rasa cinta itu mungkin saja lebih sulit tumbuh. Kemudiam saya tumbuh besar dan berkembang  juga di Tanah Air tercinta ini. Semua dilakukan di sini. Hidup, makan, minum, menarik nafas dari O2 yang gratis disedikan Tuhan di udara Negara Indonesia, buang air, belajar, sekolah, kuliah, bekerja, mencari makan…ya semuanya dilaksanakan di Tanah Air tercinta ini.

Belum lagi jika saya melihat, merasakan dan meresapi keindahan, kesuburan, kemolekan Tanah Air tercinta Indonesia ini, saya semakin cinta dan bersyukur kepada Tuhan YME. Karena keindahan, kemolekan dan kesuburan negeri ini termasuk yang terbaik di dunia, dan merupakan karunia Tuhan luar biasa yang tak tergantikan. Dalam ratusan kali pelatihan di seluruh daerah Indonesia, saya selalu menyempatkan bertanya kepada para peserta (terutama yang lahir, hidup, besar, bekerja dan ari-arinya ditanam di tanah Indonesia): Dimana mereka ingin mati; di tanah Indonesia ini atau di luar negeri? Semuanya -100% dan mengaku jujur- menjawab ingin mati di Tanah Ibu Pertiwi ini. Tidak ada satupun yang menjawab ingin mati di tanah lain di luar Indonesia.

So, Ladies and gentlemen, mengkultuskan/menyakralkan kain Merah Putih memang salah. Tetapi, menghormati bendera Merah Putih dengan tulus, menyanyikan lagu kebangsaan dengan bersemangat, berusaha mencintai Tanah Air Indonesia dengan berbagai sikap positif sebagai WNI adalah sebuah keharusan dan keniscayaan kultural. Selain itu, juga bisa dilihat sebagai  bentuk rasa terima kasih kepada Tuhan, yang telah memberikan negeri yang indah ini untuk menumpang hidup, bertumbuh besar, belajar, sekolah, bekerja, berbuat baik sebagai ‘manusia menjadi’ di sini.

Secara penalaran logis, analitis dan filosofis, jika memang tidak bisa mencintai negeri ini, lebih ideal jika kita mencari tanah air baru di luar sana. Ini sangat asasi dan tidak masalah sama sekali.  Atau, Jika memang tidak bisa mencintai -aspek sekecil apapun- dari perusahaan kita, jentel sekali jika kita mencari perusahaan baru yang dapat dicintai. Yang sangat tidak logis, tidak nalar, tidak filosofis dan tidak gentlemen adalah orang-orang yang lahir, menanam ari-arinya, ikut hidup, numpang makan, numpang buang air dan bekerja di Tanah Air Indonesia, di tanah Pertiwi ini, tetapi tidak mencintai, tidak mau menghormati Tanah Air ini, bahkan menyakiti, mencemarkan nama baik, dan berbuat negatif/jahat di sini. Ini analogus juga bagaikan karyawan perusahaan yang hidup, bekerja di sebuah perusahaan, tetapi tidak mau mencintai, menghormati perusahaannya, tetapi malah membuat tindakan-tindakan negatif yang merusak dan menghancurkan nama baik perusahaannya sendiri tersebut.  Negara dan perusahaan yang hancur pada akhirnya akan merugikan mereka sendiri juga.

Dan yang terakhir, pendidikan sikap mental positif , perilaku dan karakter positif untuk Cinta dan Bangga Tanah Air adalah pendidikan untuk membuat anak/siswa/karyawan menjadi  sosok humanis bagi semua kehidupan di sekitarnya. Kita sudah melihat dengan mata-kepala sendiri, akibat melalaikan pendiikan tersebut, generasi muda kita mengalami radikalisasi, senang kekerasan dan membenci keberagaman sebagai sifat kemutlakan alam. Ujung-ujungnya, sikap ini akhirnya akan merugikan semuanya termasuk kita sebagai orangtua atau pimpinan di keluarga/perusahaan/organisasi/institusinya, dan akhirnya akan semakin membuat Negara Indonesia mendekati status sebagai  failed country.

Sebuah pengumpulan jejak pendapat dari sebuah surat kabar baru-baru ini menemukan fakta bahwa semakin banyak siswa sekolah SMU/SMA yang setuju terhadap radikalisasi, kekerasan dan anti keberagaman. Padahal, jika direnungkan, seorang yang anti keberagaman (atau mengkultuskan keseragaman) adalah pecinta utopia belaka. Bagiamana mungkin kita mempertentangkan perbedaan-perbedaan hakiki antar orang lain, jika -ternyata- tak pernah ditemukan adanya  persamaan yang persis diantara 2 buah organ dalam seorang diri manusia. Kedua belah mata, telinga, paru, ginjal, testis, payudara,  kita tak pernah akan sama persis bentuknya. Bahkan panjang tangan kiri dan kanan kita takkan pernah mempunyai sentimeter yang sama. Jika terlihat bahwa keberagaman ternyata adalah nubuat Tuhan sendiri, (yang terlihat dalam dwiorgan tubuh seorang manusia), bagaimana mungkin kita mempertentangkan perbedaan hakiki diantara orang lain??

Mari, saudara-saudara sekalian…kehancuran, perpecahan, kegagalan bisa jadi sudah membayang pada Negara kita tercinta Indonesia. Kita harus saling berpegangan tangan sebagai saudara, menguatkan sikap mental positif gotong royong, meningkatkan rasa Hormat, Cinta dan Bangga kepada Tanah Air Indonesia, meningkatkan kembali pemahaman sejati mengenai hidup dengan penuh kebaikan, kebajikan dan penuh cinta kasih diantara sesama yang sangat beragam ini.  Jika gagal, taruhannya amat besar, dan kita membuat dosa pada anak cucu kita yang sebetulnya mempunyai fitrah suci, karena mewariskan rumah besar bersama bernama Indonesia yang porak poranda…

Salam cinta Tanah Air kita Indonesia…sampai mati…merdeka!!

Drg. T.A. Tatag Utomo, MM., ASM

Direktur Pendidikan KPPSM
‘Pelatihan Pengembangan SIKAP MENTAL’
F.X. Oerip S. Poerwopoespito
WISMA KPPSM
Cibubur Indah III Blok F-7 Jaktim 13720
T: (021) 8716968, F: (021) 8719981
email: tatag@kppsm.com, website: www.kppsm.com
Weblog: www.pengembangankarakter.com
HP: 0818-874430, YM: tatag_kppsm@yahoo.com

FB: Tatag Utomo

FB: Pengembangan Sikap Mental Positif

Twitter: @tatagkppsm

BALANCE SCORE CARD ATAU SIKAP MENTAL POSITIF LEBIH DAHULU?

May 26, 2011 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Balance Score Card (BSC) merupakan alat manajemen kinerja yang termasuk paling banyak dan paling popular digunakan di dunia. Ditemukan oleh DR. Robert Kaplan dan DR. David Norton dalam publikasi artikel di majalah Harvard Business Review tahun 1992, kini BSC digunakan oleh 66 % dari 1221 perusahaan tinggkat dunia (menurut survei Bain and Company, 2008) dan nomor dua paling banyak digunakan oleh perusahaan Indonesia (menurut GML Performance Consulting).

Prinsip utama BSC adalah menekankan perlunya Indikator Keberhasilan Utama (KPI/Key Performance Indicator) dalam 4 perspektif, yaitu: Keuangan, Pelanggan, Proses Bisnis dan Pembelajaran SDM. Empat perspektif dalam BSC tersebut mencerminkan perlunya keseimbangan antara:

  • Penciptaan nilai bagai pemegang saham dengan perspektif keuangan, proses bisnis yang benar dan pemenuhan harapan pelanggan dan peningkatan kompetensi karyawannya lewat proses pembelajaran.
  • Harapan keseimbangan antara pihak eksternal (pelanggan), internal (proses bisnis) serta keseimbangan antara hal-hal tangible (keuangan) dan intangible (pelanggan dan SDM).
  • Dan terakhir, harapan terjadinya keseimbangan dalam hubungan sebab akibat, dimana perspektif Keuangan dan Pelanggan merupakan akibat dari pengelolaan proses bisnis dan SDM yang efektif sebagai drivers (pendorong).

Dalam evolusinya, BSC berkembang dari hanya sebagai alat ukur dan peringatan dini bagaikan sebuah dashborad dalam sebuah mobil, menjadi alat manajemen stratejik yang lebih luas. Sebagai alat manajemen stratejik, BSC diawali dengan penerjemahan Visi, Misi dan Sasaran Jangka Panjang Perusahaan/organisasi (destination statement) ke dalam Sasaran Stategis (SS) yang membentuk Peta Strategi. Setiap Sasaran Startegis akan menjadi acuan untuk menentukan Indikator Kerja Utama (IKU) dan Program Kerja Strategis  (PKS).

Contoh aplikasinya, sebuah perusahaan dapat menentukan salah satu SS-nya yang ingin dicapai adalah: Perluasan jaringan distribusi. IKU untuk mengukur keberhasilan 1 SS ini adalah: Pertambahan Jumlah jaringan distribusi baru, baik jaringan cabang maupun elektronik yang dibangun. Sementara, untuk memperluas jaringan distribusi baru, perusahaan perlu memiliki PKS yang spesifik dan terstruktur untuk membangunnya. Setelah PKS ditentukan, maka pembuatan anggaran investasi pembuatan jaringan dapat ditentukan.

Jadi, sistem BSC memudahkan integrasi dan penyelarasan antara perencanaan strategi (dengan SS), manajemen kinerja (dengan IKU) dan budgeting (melalui PKS dan Penganggaran). Dan dengan penentuan indikator Kinerja yang seimbang antara 4 perspektif tersebut, perusahaan dapat membangun indikator-indikator pertumbuhan di masa depan seperti: Indikator inovasi produk dan pengembangan SDM. Indikator-indikator ini dapat dipantau melalui dashborad yang harus berfungsi baik dalam memberikan sinyal peringatan dini jika terjadi  penyimpangan atau menyalakan lampu petunjuk yang memvisualiasikan pencapaian sasaran startejik organisasi.

Namun masalah baru/lebih sering terjadi ketika perusahaan masuk dalam tahap  mengimplementasikan konsep menajemen keren seperti ini. Simak penuturan ahli manajemen Ram Charan dan Geoffrey Colvin: ”Kami sering terkesima dengan pembuatan strategi…padahal, menurut estimasi kami, 70 % masalah ada di eksekusi, bukan pada pembuatan strategi…” Karena  ternyata, untuk menjalankan strategi, dibutuhkan sikap mental positif/perilaku/karakter kuat positif dan kuat, antara lain seperti: Kemauan berpikir positif, Teladan yang baik dari Pimpinan, Niat kuat dari seluruh karyawan untuk mengedepankan kinerja/target/produktifitas, Kedisiplinan dalam membuat atau mengikuti indikator yang sudah dibuat, kerendahhatian dalam membuat benchmarking pihak/organisasi/perusahaan yang akan dibuat, gotong royong yang kuat intra departemen/divisi atau inter departemen/divisi yang ada.

Satu aspek sikap mental, karakter atau perilaku di atas saja yang mengalami gangguan berat, dijamin dashboard BSC secara keseluruhan ikut-ikutan terganggu. Apalagi, jika sebenarnya aspek-aspek sikap mental penting lain juga banyak bermasalah, maka konsep indah nan canggih ini tinggal menjadi dokumen keren para petinggi perusahaan.

Lalu, apa yang perlu dilakukan? Tetap saja, dahulukan pengembangan sikap mental positif/perilaku/karakter positif yang kuat sebagai landasan hebat setiap SDM perusahaan untuk memikirkan, membuat dan menjalankan apapun aspek manajemen pendukung kemajuan perusahaan. Jika sikap dan perilaku itu banyak yang negatif, maka sebetulnya berat sekali menjalankan konsep manajemen apapun yang akan dilakukan.

Minimal, pengembangan sikap mental positif/perilaku/karakter itu harus dijalankan paralel dengan pengembangan manajemen. Tetapi jika aspek sikap ini dijalankan belakangan, maka akan terjadi begitu banyak kendala yang sebenarnya dapat dihindari dalam pelaksanaan tersebut. Jika kendala menimbulkan kerusakan atau dampak kecil, masih oke. Tetapi jika kendala tersebut menimbulkan dampak katastropik, maka semua visi misi impian bisa buyar.

Kecelakaan kereta yang amat sering terjadi di Indonesia dan menimbulkan jumlah korban yang cukup banyak sebetulnya sudah sangat mengganggu, bahkan menimbulkan citra yang buruk pada PT KAI, serta sangat mengganggu pencapaian visi misi perusahaan. Jangan sampai, hal-hal seperti ini terjadi pada perusahaan/organisasi kita…

Selamat menjalankan manajemen canggih, dengan dasar kuat sikap mental positif…

Salam BSC…

Drg. T.A. Tatag Utomo, MM., ASM

Direktur Pendidikan KPPSM
‘Pelatihan Pengembangan SIKAP MENTAL’
F.X. Oerip S. Poerwopoespito
WISMA KPPSM
Cibubur Indah III Blok F-7 Jaktim 13720
T: (021) 8716968, F: (021) 8719981
email: tatag@kppsm.com, website: www.kppsm.com
Weblog: www.pengembangankarakter.com
HP: 0818-874430, YM: tatag_kppsm@yahoo.com

FB: Tatag Utomo

FB: Pengembangan Sikap Mental Positif

Twitter: @tatagkppsm

“FILSAFAT itu OKE DAN HARUS DIPELAJARI OLEH PEMIMPIN”

May 26, 2011 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

“Waduuh…susah mas belajar filsafat.” Memang benar juga…kepala bisa mumet jika membaca buku filsafat yang kadang ditulis dengan bahasa dan pemikiran yang njelimet. Bahkan menurut Wittgenstein, filsafat hanyalah kesalahpahaman, yang disebabkan oleh kesalahan berbahasa belaka! Tetapi, filsafat dari per-definisinya adalah: Ilmu yang mengedepankan cinta terhadap kebenaran (Filo= Cinta/suka, Sofia= Kebijaksanaan). Inilah makna dan arti penting dari filsafat. Filsafat juga mengajak kita masuk ke dalam metafisika; bukan dalam arti dunia lain/gaib seperti serbuan tontonan hantu di televisi sekarang ini, tetapi dalam arti: Mencari kebenaran terdalam di balik kenyataan yang ada. Dengan kata lain, kita berusaha mencari kebenaran terbaik/universal terhadap suatu masalah. Kita bisa bagi ‘kebenaran’ dalam empat level besar, yaitu: Kebenaran Visual (yang benar secara kasat mata atau melalui indera mata), kebenaran logika (benar secara pemikiran kausalitas atau logis analitis), kebenaran filosofis (benar secara pemikiran hakikat yang terdalam) dan kebenaran Ilahi (benar menurut Tuhan). Tentu, yang paling berat adalah melihat kebenaran Tuhan sendiri. Tetapi paling tidak, filsafat mencoba membantu agar kita mendapatkan kebenaran yang filosofis, terdalam atau hakiki . Melihat tujuan yang baik ini, maka sebaiknya kita semua -apalagi seorang pemimpin organisasi/institusi/perusahaan/negara- dalam level apapun mau dan senang untuk mempelajari filsafat. Manfaatnya? Tentunya agar dapat membantu mengarahkan organisasi/institusi/perusahaan/negara yang dipimpinnya mencapai tujuan yang diimpikan dengan cara yang legal, etis, fair, logik, dan tentunya membahagiakan semua orang (paling tidak sebagian besar komunitas yang ada, jika tidak mungkin seluruhnya). Pada akhirnya, filsafat membantu membentuk sikap mental positif/perilaku/karakter positif dalam hidup sehari-hari kita. Nah, selain dari buku-buku, filsafat bisa dipelajari dari mulai saat ini dan dengan cara yang sederhana. Yaitu, dengan selalu merenungkan apakah yang akan kita pikir, katakan atau lakukan adalah yang paling benar atau tepat, membahagiakan orang lain atau jangan-jangan malah menyulitkan orang lain. Jika memang terasa tidak membahagiakan atau menyulitkan, maka kita bisa melakukan evaluasi kembali untuk perbaikan. Dan sesungguhnya, semua orang bisa dikatakan filsuf, karena sadar tidak sadar orang akan selalu berpikir untuk mendapatkan tindakan yang paling benar dan tepat Dengan demikian jika sering berolah pikir dengan cara sederhana di atas, kita -paling tidak- dapat menjadi filsuf untuk kebaikan diri sendiri, yang akhirnya diharapkan dapat memberi kontribusi luar biasa untuk perusahaan, bangsa dan negara. Selamat berfilsafat…

Salam mencari kebenaran…

Drg. T.A. Tatag Utomo, MM., ASM

Direktur Pendidikan KPPSM
‘Pelatihan Pengembangan SIKAP MENTAL’
F.X. Oerip S. Poerwopoespito
WISMA KPPSM
Cibubur Indah III Blok F-7 Jaktim 13720
T: (021) 8716968, F: (021) 8719981
email: tatag@kppsm.com, website: www.kppsm.com
Weblog: www.pengembangankarakter.com
HP: 0818-874430, YM: tatag_kppsm@yahoo.com

FB: Tatag Utomo

FB: Pengembangan Sikap Mental Positif

Twitter: @tatagkppsm