KETIKA PERUSAHAAN MERASA TIDAK PERLU ADAKAN PELATIHAN SIKAP MENTAL, ITULAH SAATNYA SEBENARNYA DIPERLUKAN

September 6, 2014 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Hampir semua produk, dibeli atau diambil, ketika kita memang membutuhkan atau sedang memerlukannya. Jika kita perlu mobil, kita akan membelinya. Atau, kita akan mengkredit rumah, karena kita memang memerlukan tempat berteduh untuk keluarga.Kita menyekolahkan anak, karena kita membutuhkan pendidikan yang baik untuk anak-anak kita sebagai generasi penerus.

Namun, ada 1 produk yang harus dibeli, ketika kita tidak merasa membutuhkannya atau memerlukannya. Yaitu? Asuransi. Anda perlu atau tidak perlu produk tersebut, secara umum Anda atau Kita semua memerlukan atau membutuhkannya. Maka, kita harus menyediakan pos pengeluaran untuk asuransi.

Mengapa? Sebab, jika faktor resiko sudah terjadi dan kita baru mau mengambil produk asuransi, maka perusahaan asuransi tidak bakalan mau. Minimal, mereka akan melakukan investigasi sangat menyeluruh untuk mengevaluasi tingkat resiko kita kembali, atau menetapkan premi sangat besar untuk mengcovernya.

Jadi, ketika mau ambil asuransi mobil ketika mobil sudah kecelakaan…itu terlambat. Mau ambil asuransi jiwa ketika usia mencapai 70 tahun, atau malah setelah meninggal, itu sudah tidak bisa lagi. Baru mau ambil asuransi kesehatan setelah mengalami sakit berat, kemunginan besar akan ditolak. Merencanakan membeli asuransi kebakaran setelah toko kita terbakar, it’s too late!

Nah, dalam bidang pelatihanpun sama. Hampir semua materi pelatihan diperlukan ketika kita sudah merasakan kebutuhan untuk itu, biasanya yang menyangkut technical matters. Perlu pelatihan setting PLC mesin baru, karena memang ada mesin baru di pabrik kita. Perlu seminar pajak, karena memang ada UU tentang pajak yang terbaru, misalnya. Merasakan perlu seminar Balance Score Card, karena memang sistem tersebut segera akan diterapkan di perusahaan kita. Mau mengadakan pelatihan SAP, karena kita memerlukan sistem finance accounting baru yang lebih terintegrasi dengan seluruh cabang, distributor atau semua saluran pemasaran kita.

Tetapi ada 1 jenis pelatihan yang diperlukan atau tidak, tetap akan diperlukan. Pelatihan itu adalah: PELATIHAN PENGEMBANGAN SIKAP MENTAL, KARAKTER ATAU PERILAKU. Mau perusahaan baru berdiri, sudah mulai running well beberapa tahun, apalagi yang sudah well established lama, bidang ini dibutuhkan. Terlebih, jika belum ada kejadian fatal nan berat yang terjadi karena masalah sikap mental, perilaku atau karakter negatif dari karyawan, itu akan jauh lebih mudah dalam melaksanakan pelatihannya. Jika sudah terjadi peristiwa fatal akibat sikap mental negatif…itu bisa dikatakan sudah terlambat. Minimal, pelaksanaan pelatihan sikap mental sudah menjadi jauh lebih berat.

Mengapa bisa lebih berat? Karena sumber daya sudah terkuras, perasaan saling curiga sudah meningkat, kepercayaan kepada anak buah atau pimpinan sudah luntur, karena semangat mengembangkan diri telah memudar. Dan berbagai perasaan, mentalitas atau suasana negatif yang telah demikian berkembang….

So, betapa bidang Pelatihan Sikap Mental secara konsep amat mirip dengan Asuransi, yang dibutuhkan ketika kita justru merasa tidak membutuhkannya! Atau sama juga dengan prinsip menanbung atau hemat. Banyak orang memilih langkah hemat setelah kondisi krisis tiba. Padahal, yang benar adalah sebaliknya. Hemat dan menabunglah ketika kondisi sedang berlimpah. Kalau sudah pailit, apa yang mau dihemat? Just as it is, maka pelatihan Sikap Mental. Perilaku atau Karakter lebih nyaman, lebih mudah dilakukan ketika perusahaan kita sedang: Tidak ada masalah apa-apa, sedang running well, mempunyai ROI, ROA, ROE, EBITDA atau DER yang baik.

Dan pahitnya, kesalahan fatal di perusahaan kita itu bisa datang hanya dari sikap mental, perilaku atau karakter negatif dari segelintir orang saja. Yes…sometimes it just need only a few bad man to make our company is going to slump! Tidak percaya? Lihat lagi kasus-kasus dibawah ini:

  • Kasus Citibank di Jepang.

Perbankan internasional mempunyai ketentuan agar pengenalan nasabah dilakukan dengan baik dan serius untuk mencegah praktek pencucian uang. Citibank, raksasa perbankan AS, harus menerima pil pahit akibat menyepelekan ketentuan ini. Regulator keuangan Jepang, Finance Services Agency (FAS) pada September 2004 memerintahkan Citibank Jepang menutup 4 kantor cabangnya di Tokyo, Nagoya, Osaka dan Fukuoka, karena terbukti melanggar aturan perbankan. Mereka diperintahkan berhenti bertransaksi padaa tanggal 29 September 2004 dan diberi kesempatan sampai September 2005 untuk menyelesaikan semua pembukuan dan kewajiban, sebelum ijinnya dicabut! Kantor-kantor cabang ini terbukti melakukan pelanggaran seperti: Tidak mencegah transaksi yang berbau pencucian uang, longgar dalam pengenalan nasabah dan melakukan praktek perdagangan yang tidak semestinya. Sederhana? Ternyata tidak. Hukuman ini membuat Citibank kehilangan keuntungan sebesar 89 juta US $, dari sekitar total keuntungan Citibank yang sekitar 17,9 miliar US $. Belum lagi image-nya yang terkoyak. Citigroup meminta maaf atas kejadian ini, dan mengatakan juga sudah memecat 6 pegawai yang bersalah, delapan karyawan terkena pengurangan gaji, dan beberapa lainnya menerima teguran keras.—HANYA TAK LEBIH DARI 20 ORANG UNTUK MEMBUAT KERUGIAN SEBESAR INI!

  • Kasus LuSI (lumpur Sidoardjo) PT Lapindo Brantas.

Kajian teknis sumur Banjar panji I, PT Medco E&P Brantas sendiri sebagai mitra mengatakan, Lapindo jelas melakukan kelalaian, dengan tidak memasang casing ukuran 9-5/8 pada kedalaman 8500 kaki untuk mengantisipasi kemungkinan Semburan lumpur keluar dengan kecepatan 50.000 metrik ton, merusak puluhan hektar areal yang ada disekitarnya. Alih-alih untung, Lapindo bisa bangkrut terkena denda lingkungan yang besar dan rusaknya nama baik seumur hidup. Dan hingga kini 2014, kerugian lapindo konon sudah mencapai hampir Rp. 10 trilyun!—DAN KEPUTUSAN TIDAK MEMASANG


CASING TERSEBUT KEMUNGKINAN HANYALAH DARI 1 ATAU 2 ORANG PIMPINAN LAPANGAN SAJA!

  • Krisis Runtuhnya Lehman Brothers 2008

Perusahaan keuangan yang sudah berdiri sekitar 150 tahun sangat kuat dan besar yang dijuluki ’Too big to fail’ company, akhirnya collapse tahun 2008. Dan runtuhnya perusahaan ini memicu percepatan Financial Global Crisis 2008 yang menyeret seluruh dunia dalam krisis. Mengapa bisa bangkrut? Sang Direktur Richard Fuld terlalu arogan dan percaya diri, mengabaikan serangkaian fakta tentang rasio-rasio keuangannya yang semakin buruk, yang telah diteriakkan oleh pengamat dan para ahli ekonomi. Bahkan, diujung sakrtatul maut perusahaannya, Richard Fuld menolak tawaran dari perusahaan akuisisI dari Korea untuk menyelamatkan Lehman Brothers, karena menurutnya…tidak mungkin perusahaan seperti ini bisa bangkrut—SO, GARA-GARA 1 ORANG INI SAJA, LEHMAN BROTHERS LENYAP, DENGAN TOTAL LOSS SEBESAR RP. 650 TRILYUN!!!

So, ladies and gentlement, pikirkan lagi. PELATIHAN SIKAP MENTAL, PERILAKU ATAU KARAKTER SUNGGUH AMAT

DIPERLUKAN SEPANJANG MASA, TERLEBIH JUSTRU KETIKA KITA ’MERASA TIDAK MEMERLUKANNYA’, SEDANG BERJALAN BAIK, DAN SITUASI MEMANG BAIK-BAIK SAJA. Sebab:

- Pelatihan Sikap Mental,Perilaku atau Karakter merupakan ’Dasar dari Segala Pelatihan ’, karena menyangkut bagaimana manusia berperilaku se-ideal atau setepat mungkin di perusahaan. Dan perilaku adalah variabel paling mendasar yang bisa dikatakan sebagai ’behind all the system’

- Jika sudah terjadi kerugian karena masalah sikap mental yang negatif, kehilangan dan kerugian yang dialami bisa teramat besar.

Dan padahal, biaya pelatihan Sikap Mental (terlebih dari kami, KPPSM) terlalu amat sangat kecil dibandingkan kemungkinan potensial loss seperti kasus di atas…

Okay…selamat merencanakan mengadakan Pelatihan Pengembangan Sikap Mental, Perilaku atau Karakter…

Drg. T.A Tatag Utomo, MM., ASM
Direktur Pendidikan KPPSM F.X. Oerip S. Poerwopoespito
Wisma KPPSM
Cibubur Indah III Blok F-7 Jakarta Timur 13720
T: 021-8716968, F: 021-8719981
HP/WA: 0818874430
e: tatag@kppsm.com
FB: tatag utomo, FB: Pengembangan Sikap Mental Positif
Youtube: KppsmVideo
W: www.kppsm.com
Weblog: www.pengembangankarakter.com