“BEHAVIOUR TEST UNTUK MENDAPATKAN KARYAWAN BERPERILAKU POSITIF”

June 25, 2010 by Tatag · Leave a Comment 

buy essay papers

p>

Seorang peserta tes, sebut saja namanya Ruddy, kelihatan lelah sekali setelah melakuka serangkaian uji tes psikologi di sebuah peruahaan yang hendak dimasukinya. Tes berlangsung lama, beberapa jam, sehingga cukup menguras tenaganya. “Waah..tesnya lama mas. Dari jam 7, sampai jam 2 siang, baru berhenti. Itu juga nggak diselingi snack atau makan siang. Pokoknya tancap terus sampai selesai, baru berhenti. Sampai gemetaran nih tangan dan badan saya…”

Ya, tes-tes psikologi kadang memang demikian berat, karena memang ingin melihat seberapa kemampuan seorang calon karyawan peserta tes, apakah mampu atau tidak nantinya berjalan seiring dinamika perusahaan. Yang masuk kriteria lanjut ke tes berikut atau diterima, sementara yang tidak memenuhi kriteria atau lulus tes, harap menyingkir terlebih dahulu dan masuk kotak.

Tes psikologi menjadi semakin menentukan, sehingga sebuah perusahaan menengah di Jakarta sampai mempunyai sekitar 10-20 set komputer khusus untuk melakukan tes psikologi untuk rekrutmen. Dan perusahaan itu melakukan rekrutmen setiap hari, hingga ada yang menjuluki persuahaan tersebut test maniac. dengan pola pikir bahwa: Ketersediaan tenaga kerja di luar banyak, maka kesempatan untuk mendapatkan karyawan best of the best, dengan terus membuka lowongan, menyaring dan melakukan tes kepada calon karyawan baru.

Alih-alih bukan mendapat karyawan hebat, tetapi karyawan-karyawan terbaiknya yang sudah ada malah banyak keluar. Perusahaan tersebut mempunyai sekitar 600 orang karyawan, dan dalam setahun kurang lebih 200-an orang keluar mengundurkan diri. Apa pasalnya? Pasalnya, suasana kierja di perusahaan tersebut mencekam, penuh dengan tekanan dan pemimpin tertinggi sampai para manajernya otoriter dan keras. Para pemimpin di perusahaan tersebut pandai-pandai, tetapi mempunyai perilaku yang buruk. Rupanya, mereka memberikan tugas-tugas dengan tekanan. Sering marah-marah, bahkan dengan mengeluarkan kata-kata kasar kepada anak buah. Lalu memberikan beban pekerjaan terlalu besar yang cenderung tak tertangani dengan baik. Belum lagi, mereka memelihara karyawan yang dianggap dapat menjadi mata-mata perusahaan untuk melaporkan tindakan atau kesalahan yang dilakukan karyawan lain.

Ada berbagai bentu tes psikologi yang telah ada selama ini. Mulai dari TIKI (Tes Inteligensi Kumulatif Indonesia), Pauli Test, Kreplin Test, EPSP Test, TPA (Test Potensi Akademik), test Gambar, dan tes-tes lainnya. Tes-tes ini bergunan untuk mengetahui tingkat IQ, grafik pretasi kerja, konsistensi terhadap suatu konsep, mengukur kemampuan belajar, dan melihat gambaran kepribadian.

Perilaku atau “sikap mental positif” sebagai Kualitas yang Utama

Yang menjadi masalah kemudian adalah bahwa ternyata, dalam keseharian kerja, perusahaan-perusahaan masih mengeluhkan bahwa rata-rata, kualitas karyawan Indonesia masih kurang memadai, terutama kualitas perilaku/”sikap mental”nya. Padahal, Kualitas Perilaku-”sikap mental” dan Karakter dari seorang karyawanlah yang paling menentukan produktifitas dan kemajuan perusahaan, dibandingkan dengan kemampuan knowledge dan skill-nya. Kita bisa melihat pendapat berikut ini:

“Selama ini bangsa Indonesia selalu terpaku pada pembangunan infrastruktur demokrasi, tetapi melupakan keberadaan perangkat lunak berupa perubahan mentalitas pada tiap individu yang menjadi penyokong utama kehidupan demokratis demi masa depan.” Kalimat ini diucapkan Jakob Oetama dalam seminar “Rekonstruksi Kebudayaan Indonesia: Upaya Membangun Karakter Bangsa” yang diselenggarakan oleh KAGAMA (Keluarga alumni Gadjah Mada) di Jakarta, 14 September 2004.

Kemudian, Mochtar Buchori dalam artikel Kompas 26/7/06 menuturkan: “Semua kebobrokan yang kita rasakan kini lahir dari tidak adanya watak yang cukup kokoh pada diri kita bersama. Watak bangsa rapuh dan watak manusia Indonesia mudah goyah.” Ya…memang kalau direnungkan, banyak sekali kebobrokan yang terjadi disebabkan lebih karena faktor manusianya, yaitu watak tadi.

Dari faktor watak tadi, yang paling mendasarinya, ternyata adalah “sikap mental”. “Sikap mental”lah yang mempunyai peran awal sebagai pembentuk watak. Skemanya: Pikiran—menghasilkan tindakan/perilaku. Perilaku yang dilakukan terus menerus — menghasilkan tindakan. Tindakan yang dilakukan terus menerus — menghasilkan kebiasaan. Kebiasaan yang berlanjut bertahun-tahun — menghasilkan Tabiat/”sikap mental”. “sikap mental” yang diteruskan belasan tahun lebih—bisa berkembang menjadi sifat/watak. Nah, watak yang dimiliki oleh banyak orang — bisa menjadi budaya. So, dari skema tersebut, mudah terlihat bahwa “sikap mental” negatif akan bermuara pada watak negatif. Watak negatif dari sekelompok orang, akhirnya menjadi budaya negatif! Inilah yang menerpa Indonesia sekarang….

Oleh karena itu, “sikap mental positif”/perilaku positiflah yang harus dikejar oleh para pelaku eksekutif, agar dapat mempunyai kualitas menyeluruh yang baik pula. Ada rumusan menarik dari F.X. Oerip S.P (2005) tentang hal tersebut:

KMT = KF X KT X KSM

Dimana, KMT  = Kualitas Manusia Total, KF = Kualitas Fisik (asumsi skala 1-100), KT= Kualitas Tehnik (asumsi skala 1-100) dan KSM = Kualitas “Sikap Mental” (asumsi skala (-10) – 100).

Asumsi ini boleh  dirubah sendiri angka awal dan akhirnya. Yang penting untuk kualitas fisik dan teknik tidak boleh mulai dari angka 0, karena, tidak mungkin seorang manusia hidup mempunyai kemampuan nihil. Sedangkan kualitas “sikap mental”/perilaku dimulai dari nilai negatif, karena dapat merugikan orang lain. Misalnya, seorang manajer keuangan berpendidikan S 2 (asumsi nilai KT-nya 80), mampu berolahraga renang 3X seminggu di usianya yang 50 tahun (asumsi nilai KF-nya 80).Namun, ternyata beliau pelaku korupsi miliaran di perusahaan (dengan asumsi nilai KSM-nya -1 saja), maka nilai kualitas manusia totalnya menjadi 80 X 80 X (-1)= -6400!

Jika para ahli fisika sekarang sedang bergumul untuk mencari konsep the theory of everything, yang akan mampu menjelasakan segala fenomena alam di jagat raya, dalam ilmu SDM, rumusan matematis diatas menjelaskan tentang the theory of everything of human, dimana diktumnya mengatakan bahwa: “Segala yang terpenting dari manusia adalah “sikap mental”nya”. Semua ilmu pengetahuan, teknologi yang dimiliki tak akan berjalan berarti, jika perilaku atau “sikap mental” manusia pelakunya n e g a t i f. Semua Roma yang dibangun dengan susah payah pun, tetap perlu ditopang “sikap mental positif”. Jika tidak, akibatnya bisa dahsyat dan tak terkirakan. Simak 3 contoh kasus ini:

  • Kasus Citibank di Jepang. Perbankan internasional mempunyai ketentuan agar pengenalan nasabah dilakukan dengan baik dan serius untuk mencegah praktek pencucian uang. Citibank, raksasa perbankan AS, harus menerima pil pahit akibat menyepelekan ketentuan ini. Regulator keuangan Jepang, Finance Services Agency (FAS) pada September 2004 memerintahkan Citibank Jepang menutup 4 kantor cabangnya di Tokyo, Nagoya, Osaka dan Fukuoka, karena terbukti melanggar aturan perbankan. Mereka diperintahkan berhenti bertransaksi padaa tanggal 29 September 2004 dan diberi kesempatan sampai September 2005 untuk menyelesaikan semua pembukuan dan kewajiban, sebelum ijinnya dicabut! Kantor-kantor cabang ini terbukti melakukan pelanggaran seperti: Tidak mencegah transaksi yang berbau pencucian uang, longgar dalam pengenalan nasabah dan melakukan praktek perdagangan yang tidak semestinya. Sederhana? Ternyata tidak. Hukuman ini membuat Citibank kehilangan keuntungan sebesar 89 juta US $, dari sekitar total keuntungan Citibank yang sekitar 17,9 miliar US $. Belum lagi image-nya yang terkoyak. Citigroup meminta maaf atas kejadian ini, dan mengatakan juga sudah memecat 6 pegawai yang bersalah, delapan karyawan terkena pengurangan gaji, dan beberapa lainnya menerima teguran keras.
  • Kasus LuSI (lumpur Sidoardjo) PT Lapindo Brantas. Kajian teknis sumur Banjar panji I, PT Medco E&P Brantas sendiri sebagai mitra mengatakan, Lapindo jelas melakukan kelalaian, dengan tidak memasang casing ukuran 9-5/8 pada kedalaman 8500 kaki untuk mengantisipasi kemungkinan lumpur menyeruak ke bumi. Akibat yang luar biasa bisa dilihat kini. Semburan lumpur keluar dengan kecepatan 50.000 metrik ton, merusak puluhan hektar areal yang ada disekitarnya. Alih-alih untung, Lapindo bisa bangkrut terkena denda lingkungan yang besar dan rusaknya nama baik seumur hidup.

Behaviour Test

Melihat fakta dan logika penuturan di atas, maka tampaknya diperlukan suatu alat bantu tes yang berbeda, yang khusus dilakukan untuk melihat kualitas perilaku seorang karyawan atau calon karyawan. Maka, setelah menjadi pionir dan bergelut dalam pelatihan dan pengembangan khusus ilmu “sikap mental positif”, Perilaku, dan Karakter manusia selama 14 tahun (sejak 1992), KPPSM mempersembahkan alat tes baru untuk membantu perusahaan dan HRD melakukan tes perilaku untuk tujuan Rekrutmen, Seleksi dan Promosi.

Alat tes ini merupakan sesuatu yang sungguh baru di Indonesia dan dunia, dan dibuat untuk melihat kualitas perilaku-”sikap mental positif”-karakter karyawan mulai dari:

* Mind Set (Pola Pikirnya): Didasari pemikiran bahwa setiap langkah manusia pasti didasari dari pola pikirnya terlebih dahulu. Peserta harus menjawab 80 soal yang emnunjukkan kualitas mind set-nya.

* Tendency (Kecenderungan Perilakunya): Dalam tes, amat sukar melihat perilaku seseorang di perusahaan nantinya sampai keseluruhan, tetapi masih mengkin melihat kecenderungan perilakunya. Peserta tes harus menjawab 30 soal yang akan memperlihatkan kecenderungan perilakunya.

* Emotional Maturity (Kematangan emosionalnya): Ini juga yang menarik. Dalam bisnis, sering kesempatan dan peluang melayang, karena masalah perilaku yang tidak tepat secara situasi dan malah memperburuk relasi horizontal antar manusia. Tes ini untukmelihat kematangan emosional peserta, yang didasari dari perunungan sejenak sebelum bertindak memutuskan sesuatu.

* Visual Performance (Penampilan kerjanya): Tes terakhir ini (bisa dikombinasi dengan wawancara) untuk melihat beberapa jenis perilaku yang vital dan dapat memperlihatkan kinerja atau performance-nya secara langsung, serta berguna untuk melakukan analisis akhir.

Alat Behaviour Test dengan nama Tatag Utomo Be-Test bersifat dinamis (akan diperbarui setiap tahun) serta mempunyai tujuan:

-         Membantu perusahaan mendapatkan Karyawan terbaik dari segi perilaku-”sikap mental”-karaternya, sehingga akan memudahkan perusahaan mendapatkan kinerja terbaik dalam mewujudkan visi misi-nya, dan

-         Membantu mencegah perusahaan mendapatkan karyawan yang mempunyai bibit perilaku-”sikap mental”-karakter yang negatif yang cenderung sulit diubah, yang cenderung menjadi trouble maker sejati atau bahkan psikopat! —Inilah sekarang yang paling ditakutkan, karena gangguan kepribadian psikopat sangat sulit terdeteksi dan sangat sulit penyembuhannya, serta sungguh-sungguh beresiko dapat membawa perusahaan dalam kesulitan besar karena perilakunya.

Apakah ada jaminan bahwa tes ini 100 % akan berhasil mendapatkan apa yang diminta? Sangat sulit. Karena mengetes perilaku manusia, berarti mencoba melihat apa yang terkonsep jauh di dalam otak dan lubuk sanubarinya (sebagai organ intangible) yang paling dalam. Istilahnya, ‘rambut memang sama hitam, tetapi hati orang siapa yang tahu’. Tetapi, sudah jauh lebih baik dibandingkan dengan tidak dilakukan tes.

Tes-tes psikologi yang sudah ada sebelumnya juga tetap memberi celah dilolosi atau dilewati oleh orang yang sebenarnya kurang berkualitas. Apalagi para psikopat, yang rata-rata memiliki IQ tinggi, dan mampu lulus dan lolos dari berbagai tes Psikologi, bahkan mengelabui tes-tes kejiwaan klinis yang dilakukan. Alat Behaviour Test atau Be-Test ini akan melengkapi tes-tes psikologi yang ada, dan diharapkan mampu mendeteksi kemungkinan karyawan psikopat memasuki perusahaan atau yang akan menduduki posisi penting ….

Akhir kata, kita bisa merenungi perkataan Henry Kissinger bahwa: “Kepandaian bisa dibeli, tetapi tidak dengan karakter atau perilakunya”……..

Drg. T.A. Tatag Utomo, MM., ASM

Direktur Pendidikan KPPSM
‘Pelatihan Pengembangan SIKAP MENTAL’
F.X. Oerip S. Poerwopoespito
WISMA KPPSM
Cibubur Indah III Blok F-7 Jaktim 13720
T: (021) 8716968, (021) 8721933, F: (021) 8719981, (021) 8721933
email: tatag@kppsm.com, website: www.kppsm.com
blog: Indonesiacharacter@multiply.com
HP: 0818-874430, YM: tatag_kppsm@yahoo.com

FB: Tatag Utomo

FB: Pengembangan Sikap Mental Positif