Case 12: Bila Anak Punya Sikap Mental Suka Mencuri

May 26, 2011 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Selamat malam pak Tatag. Merdeka!

Pak Tatag sebelumnya saya minta ma’af karena mengganggu waktunya.

saya cuma ingin sekedar curhat, dan minta sedikit masukan dari njenengan,ini tentang anak saya yang ke dua, Marcell.

Saya kurang tahu dari mana Marcell bisa punya sikap mental negatif baru yaitu berbohong,dan mulai meningkat jadi mencuri.

Waktu pertama berbohong kita ajak dia ngobrol tentang bahayanya berbohong.Kita beri dia sangsi tidak boleh menonton TV selama 4 hari. Setelah itu berjalan,dia ketahuan kalau punya uang Rp 5.000, padahal kita tidak penah memberi uang sebesar itu. Kita beri dia Rp 2.000, itupun selalu minta yang logam/koin karena maunya dimasukkan kecelengan.waktu kita tanya dia berbohong kalau dia diberi teman,k ita tanya nama temannya dia jawab si A, lalu diralat si B, ralat lagi si C, sampai kita(saya dan ibunya) bilang kalau kita tidak marah kalau Marcell jujur,tapi bisa marah kalau tetep saja bohong. Akhirnya dia mengaku kalau ambil punya kakaknya yang jatuh di lantai(kamar kakaknya). Kita haruskan juga dia untuk mengganti uang kakaknya itu, dantidak nonton TV maupun main komputer selama 7 hari. itu bisa berkurang 1 hari kalau dia melakukan tugasnya tanpa disuruh.

Nah…yang baru terjadi ini yang buat kita bingung bagaimana cara mengatasinya. Istri punya kebiasaan mengumpulkan uang logam yang kuning baik yang Rp. 100, 500 maupun yang 1000.Pagi tadi istri bingung uang  koin 500 berkurang, sewaktu Marcell sekolah ibunya coba cek kamar Marcell, ketemu uang-uang logam kuning tadi, cukup dilihat saja.Bangun tidur siang Marcell ditanya ibunya, dan jawabannya berbelit-belit. Akhirnya juga mengaku juga. Yang membuat saya dan istri kesal dan prihatin, dia mengambil dari kamar kita saat ibunya masak di dapur. Aduh-aduh pak Tatag…..bingung aku pak, apa yang harus kita lakukan buat Marcell.

Kami minta saran dan masukkan dari njenengan untuk masalah ini. MATUR SEMBAH NUWUN. BERKAH DALEM.

Bapak Teguh, Gunung Putri…

————————————————————————————————————————

Halo pak Teguh…

Waah saya ikut prihatin juga ya…tapi it’s okay. Semua anak mempunyai masalah-masalah baru yang timbul. Kebetulan saja, Marcell dapat masalah yang seperti ini. Oke ada beberapa hal yang akan diklarifikasi dan bisa dilakukan, yaitu:

1.       Terlihat sikap Marcell bukanlah sifat atau watak, tetapi lebih kearah karakter. Mengapa? Karena tidak dari usia dini sekali perilaku itu muncul, tetapi dari usia sekolah dasar. Dengan kata lain, perilakunya itu bukan masalah gen, tetapi terlihat sebagai faktor lingkungan.

2.       Terlebih dahulu kalau bisa, kita melihat faktor lingkungan apa yang mendorongnya berbuat demikian. Misalnya: Diperas oleh teman (ini yang saya pernah alami, yaitu diperas teman untuk selalu membawa mainan atau uang untuk diberikan kepadanya). Atau, dia ingin punya uang untuk main PS, Time Zone atau model-model permainan seperti itu yang kini banyak tumbuh. Atau ingin membeli mainan banyak, atau menyewa komik-komik Jepang seperti Naruto, Sinchan, dll

3.       Setelah tahu faktor pendoronganya, pelahan-lahan kita mulai memberi dia pengertian, yaitu:

a)      Beri tahu tentang konsep Kejujuran. Bahwa kalau Marcell tidak jujur atau suka mencuri, nanti bisa akan menjadi pencuri sesungguhnya. Dan pencuri atau perampok adalah pekerjaan yang sangat hina. Ayah dan ibu sangat malu/sedih jika nanti kamu menjadi seperti itu. Pak Teguh bisa mengeluarkan kata-kata dengan gaya bicara yang ‘berat dan dalam’, agar kuat ‘kesan bijaksananya’.

b)      Beritahu pula ia bahwa kalau butuh uang, lebih baik minta. Tetapi kalaupun diberikan usahakan agar tidak hanya dibuang-buang untuk bermain dan bermain. Harus berusaha ditabung. Ini penting untuk mengajarkan sikap mental positif keuangan yang produktif dan bukan konsumtif.

c)       Gunakan Teori  Cermin: Bayangkan kalau Marcell dalam posisi yang dicuri uangnya oleh orang lain, pasti Marcell juga akan tidak senang dan marah. Maka sebaiknya Marcell tidak melakukan hal yang sama pada orang lain. Atau Pak Teguh boleh mencoba mengambil barangnya secara diam-diam. Ketika dia kelabakan mencari, kita kembalikan sambil mengutarakan konsep Cermin di atas. Bahwa seseorang sedih dan marah jika barang-barang nya dicuri orang lain.

d)      Ingatkan tentang ajaran Tuhan. Bahwa Tuhan sedih, jika Marcell -sebagai anak-anak yang empunya sorga- melakukan tindakan mencuri.  Jika Tuhan sedih, nanti Tuhan tidak mau membantunya lagi jika masuk dalam kesulitan.

e)      Perlihatkan film tentang sikap mental positif kejujuran yang pas (boleh kasih film ‘Untuk Sebuah Hamburger’ dari You Tube. Dan terangkan bahwa dengan bersikap jujur, kita akan menjadi pribadi yang bermutu dan disukai orang lain.

f)       Ajak dia ke Panti Asuhan dan berbagi kepada mereka ketika ulang tahun. Ini penting untuk menekankan konsep berbagi, sebagai konsep yang merupakan ‘lawan’ dari konsep mencuri. Bahwa Marcell beruntung, bisa mendapatkan keluarga yang berkecukupan, jauh dibanding mereka yang di Panti Asuhan.  Dan pencurian akan mengambil sebagian besar hak anak-anak miskin yang memerlukan.

4.       Terakhir, gunakan ancaman punishment jika dia melakukan hal serupa lagi. Jenis Punishment dapat juga ditentukan oleh dia sendiri untuk memilih. Tetapi sekali lagi diingat, punishment adalah langkah terakhir dalam mendidik anak untuk tidak melakukan hal negatif. Tetap dikedepankan langkah-langkah persuasif dan memberikan pengertian mendalam. Apalagi dalam memberikan pendidikan SIkap Mental Positif.

5.       Terakhir jika masih mendapat kesulitan untuk mendidiknya, bantu dengan kegiatan spiritual. Puasakan dia pada hari weton lahirnya, disertai doa yang kuat pada Tuhan YME. Karena doa yang kuat dari orangtua kepada anaknya akan sungguh didengar oleh Tuhan, dan kita percaya Tuhan tak akan mendiamkan  umatnya yang sungguh-sungguh memohon kepadanya.

Oke…selamat mendidik kejujuran untuk Marcell

Drg. T.A. Tatag Utomo, MM., ASM

Case 11: Menumbuhkan Sikap Mental ‘Berani’ pada Anak

May 26, 2011 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Yth. Bp. Tatag Utomo

Selamat siang pak, bagaimana kabar bpk ?

Semoga senantiasa dalam lindungan Tuhan Yang MahaKuasa…,

Pak Tatag, ada yang ingin saya tanyakan mengenai anak saya Nabilla, dimana ada kondisi psikologis pada anak saya kurang percaya diri dan menjadi bersikap pengecut.

Contohnya begini pak, kebetulan anak saya aktif dikegiatan beladiri pencak silat dan prestasinya cukup bagus (pernah 5x juara I, dikejuaraan pencak silat antar pelajar SD sejabodetabek, juara III dan II di kejuaraan antar pelajar SMP se DKI) , ada satu lawan bertanding yang juga adalah kakak kelasnya saya sebut saja F, dimana didalam setiap pertandingan resmi mereka pernah bertemu di semi final & final, dan setiap pertemuan ini anak sy selalu jatuh mentalnya dan tidak pernah menyelesaiakan pertandingannya.  Kejadian ini sudah 2x terjadi dimana dia selalu minder dan jatuih mental saat bertemu F kakak kelasnya tersebut (terakhir hr minggu tgl 10 April lalu, mereka bertemu di final kejuaraan beladiri yg diadakan Disorda DKI), padahal di babak penyisihan, perempat final maupun semifinal dapat dilalui dengan mantap, namun saat bertemu dengan kakak kelasnya dia langsung berubah drastis dan bersikap cengeng, yg akhirnya kalah tanpa meneruskan pertandingan.

Yang selalu diluar dugaan saya, sebelum pertandingan saat saya diskusi dengan anak saya, dia selalu menyatakan siap & bersikap biasa, namun beberapa detik sebelum pertandingan mulai dia mulai cemas, menangis dan tdk percaya dirinya kambuh, akibatnya dia selalu memberikan F kemenangan tanpa perlawanan yg berarti.

Saya tidak membebani anak saya bahwa dia harus meraih juara, apalagi kegiatan ini memang keinginan dia sendiri (bukan permintaan orang tua) dan saya juga hanya berharap anak saya mampu memberikan hal yang terbaik yang ada pada dirinya dan mampu bersikap krastria pula atas apa yang menjadi pilihannya.

Sikap mental dia tidak bermasalah saat dia menghadapi lawan2 bertandingnya, namun menjadi hal yang berbeda saat berhadapan dengan F ini.

Berdasarkan analisis dan evaluasi teknis sebenarnya anak saya cukup memilik kemampuan untuk memberikan perlawanan sepantasnya dalam pertandingan melawan F namun dia selalu kalah mental saat menghadapi F (hanya setiap bertemu F saja), yang selain kakak kelasnya di SD dulu (saat ini F bersekolah di sekolah atlit SMP Ragunan/PPLP Ragunan), juga adalah senior di tempat latihan pencak silatnya.

Mengenai F sendiri adalah anak yang baik, ramah dan santun yang sebenarnya adalah teman baiknya pula,  hanya saat bertanding F selalu bersikap serius siapapun lawan tandingnya (sikap mental sbg seorang atlit sudah terbentuk krn ybs sekolah di PPLP Ragunan) dan hal ini yang agaknya kurang dipahami anak saya.

Mohon saran bapak, bagaimana sikap dan upaya saya untuk mengembangkan sikap mental positif pada anak saya tersebut, karena pada dasarnya anak saya memiliki potensi diri yang baik.

Demikian saya sampaikan Pak Tatag, sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas perhatian dan saran bapak.

Salam hormat saya,

Joni Widayanto (Peserta Seminar “Anakku bukan Robot”)

————————————————————————————————-

Selamat malam pak Joni…merdeka!

Okey…saya sudah membaca kisah Nabila berkaitan dengan sikap mental bertandingnya yang turun, terlihat kurang percaya diri, terutama saat bertemu dengan F (yang adalah mantan kakak kelasnya di SD, anak baik, ramah namun kelihatan tegas dan kuat kepribadiannya). Membaca hal ini, saya jadi teringat karena ini adalah pengalaman saya pribadi juga sebagai atlit muda badminton waktu itu (seangkatan Ardy BW). Yang bisa jadi pertimbangan, pemikiran dan saran saya adalah:

1.       Sebetulnya Nabila secara teknis persilatan tidak mempunyai masalah yang berat. Terbukti, dia telah mampu meraih 5 X juara I di kejuaraan pencak silat antar pelajar SD seJabodetabek, juara II dan III di kejuaraan antar pelajar SMP se-DKI. Hanya, ia tampaknya mempunyai sedikit masalah ‘ketidakcocokan aura’ dengan F. Ini terjadi pada saya juga. Ketika saya masih sebagai atlit badminton, saya punya rekan, sahabat satu klub bernama Sugianto. Saya, sangat sulit dan gentar menghadapi Sugianto, sehingga ketika bertemu/latih tanding dengannya saya memang tidak pernah menang sama sekali. Padahal, Sugianto ini selalu kalah melawan Didi Sumarsono. Sementara saya sudah bisa menang melawan Didi . Melihat skema matematika ini, harusnya saya mampu menang melawan Sugianto, karena mampu mengalahkan Didi yang selalu mengalahkan Sugianto. Tetapi fakta yang terjadi adalah: Saya tidak pernah menang 1 game penuh pun (hanya sekali pernah menang satu set saja)!. Dan, ini terjadi pada badminton level dunia. Dulu kalau tidak salah, pemain bulutangkis Eropa mudah mengalahkan pemain China dan pemain Indonesia mudah mengalahkan pemain Eropa. Logikanya, pemain Indonesia mudah mengalahkan China. Namun fakta yang terjadi adalah: Pemain Indonesia lebih senang bertemu dengan Pemain Eropa daripada China, karena sering kalah dengan pemain China. Dianalisis sana sini, hasilnya adalah memang: ‘Ketidakcocokan gaya’ badmintonnya. Gaya Stylish Eropa mampu meredam permainan speed and power game pemain khas China, tetapi mudah takluk dengan permainan speed, power, tactic khas Indonesia. Dan gaya permainan Indonesia -yang sebetulnya tipikal dengan China (karena sama-sama Asia)- tidak cocok/sulit berkembang dengan gaya permainan China yang juga mengandalkan speed and power. Maka akhirnya dulu Icuk selalu ketakutan jika bertemu Yang Yang, tapi mudah mengalahkan Morten Frost Hansen. Padahal, Morten bisa mengalahkan Yang Yang!

2.        Yang penting, anda sebagai Ayahnya sikap mental positif anda sudah benar dengan ‘tidak memaksakan’ kehendak, atau ‘memaksakan menumbuhkan keberanian’ dalam diri Nabila. Mengapa? Pemaksaan adalah sikap mental negatif, jika tidak hati-hati, rawan menimbulkan trauma psikologis. Trauma psikologis pada jiwa selalu menyebabkan persoalan di kemudian hari yang sulit tersembuhkan. Ingat saja, jiwa itu bersifat seperti GELAS dalam terminologi Jawa, yaitu: NEK TUGEL. ORA ISO DILAS (kalau pecah/patah. tidak bisa dilas).

3.       Kalau perlu, adakan penggalian informasi/data tambahan, yaitu:

a)      Lihat apakah ternyata, Nabila pernah mempunyai pengalaman/trauma -terutama  mungkin semacam bullying-  dengan si F (misalnya, pernah berkelahi dan kalah, mengalami kekerasan dan tidak bisa melawan, dsb).

b)      Atau, si F memang merupakan anak yang sangat disegani di sekolah, karena mempunyai keunggulan yang kompleks dibandingkan anak-anak lainnya (misalnya, ia punya banyak kebisaan yang menonjol dalam banyak bidang sekaligus/multi talented)

c)       Atau, Nabila mempunyai sikap respek yang sangat tinggi kepada si F, karena di sekolahnya F adalah pemimpin dalam suatu kelompok dengan Nabila.

d)      Boleh juga lihat lagi secara teknis,apakah gaya bersilat si F ‘tidak cocok tipenya’ dengan gaya bersilat Nabila (konsultasikan juga dengan pelatihnya)

e)      Mungkin juga gaya/penampilan/karakter bertanding si F ‘terlalu garang dan dewasa’ yang menyebabkan Nabila takut dan getar, karena kebetulan mungkin Nabila masih membawa sisi kanak-kanak yang lebih kuat.

4.       Altenatif langkah Pemecahannya:

a)      Yang utama: Sebetulnya, tidak ada masalah yang berarti -sekali lagi- tak ada masalah berarti dalam Nabila. Mengapa? Nabila sudah mau memilih cabang olahraga yang cukup keras dan berdasarkan keinginan sendiri saja, itu sudah merupakan sikap mental positif yang hebat. Dan secara teknis, terbukti dia sudah mampu menjadi juara beberapa kali. Apalagi jika melihat tujuan sebenarnya dari olahraga beladiri adalah membentuk sikap yang baik sebanyak mungkin dalam diri seorang menusia, serta mampu menjaga kesehatan jiwa raganya dengan baik. Sedikit-sedikit ada kelemahan, itu sangat human being…Kecuali, keadaan grogi, tidak PD atau ketidakberaniannya selalu muncul setiap saat, nah itu baru masalah…

b)      Lalu? Ajak Nabila omong-omong lagi dengan penuh kasih sayang, bahwa: Anda sebagai ayah bangga, dan akan selalu bangga kepadanya, karena apapun yang terjadi, ia sudah mencoba/berusaha memberikan yang terbaik. Apapun yang terjadi, ia sudah mau ikut suatu cabang olahraga. Dan ia mau masuk dalam arena pertandingan resmi yang sebenarnya. Kalau memungkinkan, ajak omong-omong dalam suasana informal (misalnya ketika makan bersama di Mall), apa yang membuatnya gentar dan takut atau kehilangan kepercayaan diri ketika berhadapan dengan F. Yang penting disini adalah gaya bertanya Anda sebagai orangtua santai saja sebagai sahabat, bukan sebagai penyidik ya…Harapannya, Nabila mau mengungkapkan jika memang ada penyebab yang khas…

c)       Kemudian? Satu per satu kita bahas…

-          Jika sebabnya adalah poin 3 a), hilangkan traumanya tersebut dengan perlahan-lahan, sambil berjalannya waktu. Sebab, trauma kejiwaan bisa mempunyai efek antara 0-30 tahun! Dan makin keras kita berusaha menghilangkan trauma, biasanya malah bertambah lama trauma melekat. Jadi, sekali lagi, lepaskan dengan perlahan-lahan, lemah lembut dan setahap demi setahap. Lihat penyebab traumanya mulai dari bentuk yang paling sedikit menimbulkan ketakutan (misalnya melihat gambar), sampai perlahan-lahan lihat bentuknya yang asli. Jika memang dirasakan sangat perlu, bantu dengan terapi hypnosis dari psikater atau psikolog. Kalau tidak perlu juga tak apa-apa, lakukan sendiri pengurangan trauma bertahap dengan selalu mengingat/melakukan poin 4 b.

-          Jika sebabnya poin 3 b), berarti Nabila ‘keder’ dengan wibawa/kharisma si F. Jelaskan saja, bahwa jika memang F mempunyai bakat untuk mempunyai kemampuan ‘multi talenta’, ya…biarkan saja, tak perlu dilawan fakta itu, Yang jelas, sehebat-hebatnya F, pasti ia juga mempunyai kelemahan dibandingkan diri Nabila, apapun itu, sekecil apapun itu. Dan jelaskan, bahwa kita sebagai manusia mempunyai kelebihan dibandingkan dengan ‘masalah’ apapun bentuknya. Alasannya? Kita sebagai manusia punya ‘akal budi’ untuk membuat berbagai strategi, sedangkan ‘masalah’ tidak punya akal budi dan strategi untuk mengalahkan manusia kan?

-          Jika sebabnya poin 3 c), jelaskan pada Nabila bahwa sikap respeknya itu bagus, namun perlu ditempatkan secara proporsional. Respek dalam keseharian formal, tidak ada hubungan berbanding terbaik dengan waktu pertandingan. Yang berarti bahwa karena sikap repeknya pada F, Nabila tidak perlu melawan dengan serius. Malahan, sikap serius dalam bertanding -apapun hasilnya- adalah sikap menunjukkan sikap respek yang baik pada si F

-          Jika sebabnya poin 3 d) (yang mirip dengan kasus saya dalam olah raga badminton), memang banyak diselesaikan teknis. Biasanya, untuk mengalahkan lawan yang kita mempunyai ‘aura ketidakcocokan’, maka kita terpaksa mengembangkan gaya ‘all round type’. Artinya kita mencoba mempelajari banyak gaya dan teknik, sehingga jika satu gaya dan teknik tidak cocok untuk mengalahkan, kita memakai gaya dan teknik lain yang lebih tepat. Di sini, akhirnya Indonesia mempunyai Joko Supriyanto, yang merupakan pemain dengan pukulan terkomplit di dunia. Namun, ini juga tidak boleh dipaksakan. Karena untuk bisa mempunyai kemampuan all round type seperti ini, Nabila harus menyisihkan banyak waktu, tenaga dan pikiran yang lebih. Tinggal dihitung saja apakah pengorbanan tersebut sesuai dengan tujuan hakiki olahraga pencak silatnya sendiri…sebab juga ada tujuan-tujuan lain dalam hidupnya diluar pencak silat bukan? Tetapi, kalau pencak silat ini memang menjadi tujuan utama, maka segala pengorbanan harus siap untuk dilakukan…

-          Jika sebabnya poin  3 e), ini dia. Setiap kelebihan selalu menjadi kelemahan juga, jadi, kuatkan saja gaya kita sehingga akan menjadi kelebihan. Pesilat yang terlalu garang dan serius dalam bertanding boleh dilawan dengan sikap bertanding ‘seakan bercanda dan tidak serius’ sehingga akan memancing emosi si F meningkat. Emosi yang meningkat biasanya akan menurunkan konsentrasinya, Konsentrasi yang menurun, selalu akan diikuti oleh akurasi pukulan yang kurang terarah dan pertahanan yang kurang kuat. jadi,  Nabila bisa menjadi lebih mudah menghindarkan pukulannya dan memasukkan pukulan nya sendiri untuk mengalahkannya…

Akhir kata, Nabila sudah hebat dan mempunyai sikap mental positif bisa lulus CPR dan mau mempunyai kegiatan olah raga yang cukup keras dalam pencak silat. Perjalanannya masih cukup panjang, yang penting dia selalu mau bersikap positif dalam hidupnya, bahagia dalam pilihan hidupnya , menjadi pribadi ‘bermakna dalam hidupnya’ dan meraih semua tujuan hidupnya dengan jalan baik dan kalau bisa selalu membahagiakan orang lain. Sementara, sebagai orangtuanya Anda selalu mendukungnya dengan penuh kasih sayang, apapun hasil/prestasi dari Nabila dan apapun jalan yang dipihnya…

Demikianlah…semoga sharing ini membantu…O ya jangan lupa setiap kali sehabis latihan silat, semua daerah benturan ditubuhnya dibalur dengan param kocok, beras kencir atau ramuan lainnya. Itu untuk mencegah trauma mikri pada jalur meridian/refleksi/akupunktur-nya. Dan kalau Nabila mau telepon/email  saya langsung juga boleh…

Case 10: langkah Pertama untuk Bisa ‘Bekerja Lebih dari yang Diminta’

February 14, 2011 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

“Tanya Pak Oerip…Bagaimana langkah pertama atau langkah awalnya agar kita mau menerapkan sikap mental positif  ‘Bekerja Lebih dari yang Diminta Perusahaan?”

Rionaldo, PT Pulau Intan Baja Perkasa

=====================================================

Jawab:

Langkah  pertama yang harus dilakukan adalah: Berpikir sampai akar permasalahan terdalam tentang konsep ’bekerja lebih dari yang diminta’. Mengapa konsep ini dikeluarkan, dan apa keuntungannya. Ternyata, konsep sikap mental positif/perilaku/karakter ini keluar untuk merangsang atau melatih kita menjadi pribadi yang tidak bekerja biasa-biasa saja, tetapi mencoba memberi dengan kemampuan terbaik. Dan biasanya, kemampuan terbaik akan datang jika kita tidak terlalu ’hitung-hitungan’ tentang berapa ’pendapatan’ dari kemampuan yang kita berikan. Kemampuan itu datang dari semangat untuk bekerja habis-habisan, bekerja keras dan cerdas, karena memang kita mencintai perusahaan dan pekerjaan itu (sebagai motivasi intrinsik).  Lalu apa untungnya? Salah satu keuntungan terbaik dari menerapkan konsep ini adalah: Kita terlatih menjadi sosok pribadi yang ’Kompetitif’, yang akan lebih mudah unggul dalam kancah persaingan. Akhirnya, jika kita unggul dalam kancah persaingan, keuntungan materi akan segera menyusul!

F.X. Oerip S. Poerwopoespito…

Case 9: Pemimpin Tahu Kesalahan Kita dari Teman Sejawat

August 24, 2010 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Selamat sore, boleh saya bertanya:
Bagaimana jika Pemimpin mengetahui sebuah kesalahan kita dari informasi teman sejawat kita, yang sebetulnya tidak tahu apa-apa dan memang tidak bermaksud menjerumuskan kita. Sikap mental positif  apa yang seharusnya kita lakukan?
Meifi Sanderlina, Surabaya
—————————————————–—————————————–
Jawab:
Kalau terjadi seperti ini, sikap mental positif atau perilaku positif yang tepat dilakukan adalah menghadap ke pimpinan dan minta maaf terhadap kesalahan yang sudah kita lakukan (ini dilakukan baik dia sudah tahu atau belum tahu bahwa kita sudah tahu kesalahan kita dari teman yang ‘tidak tahu apa-apa’ itu, tanpa meyebutkan bahwa kita tahu dari teman sejawat ‘yang tidak tahu apa-apa’ itu). Dan kemudian, boleh berikan semacam penegasan halus bahwa jika memang pimpinan merasa kita melakukan hal yang tidak pas dalam pekerjaan, jangan ragu untuk memanggil dan menegur kita sebagai anak buahnya secara 4 mata.
Okey…sampai jumpa pada pertanyaan berikut
Mas Tatag, KPPSM

Case 8: Tentang Tugas di Luar Jobdesc dari Pimpinan

August 18, 2010 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Tanya: Pak, bagaimana jika harus mengerjakan tugas yang diperintahkan oleh atasan, tetapi sebetulnya tugas itu tak ada dalam job desc kita. Lalu bagaimana jika pemimpin yang lebih tinggi mengetahui situasi seperti ini? Sikap Mental Positif apa yang idealnya kita lakukan sebagai anak buah?
Terima kasih
Bambang, Cibinong
——————————————————————————————–
Jawab:
ini memang agak sulit. Di dalam jobdesc, sebetulnya ada klausul tentang ‘mengerjakan tugas tambahan yang diberikan oleh pimpinan’. Dengan klausul ini, maka memang pimpinan boleh memberikan tugas tambahan yang diperlukan kepada anak buahnya. Namun, sebaiknya memang dia bisa mempertimbangkan dengan bijak bahwa tugas tambahan tersebut tetap masih dalam koridor jobdesc, dan tidak mengganggu jobdesc utama, serta tidak membuat keadaan dimana yang bisa membantu akhirnya ‘terus diminta membantu’, sehingga membuat bagian yang dibantu menjadi ‘terlena dan manja’. jadi, memang kunci teletak di pimpinan yang harus tahu mana batasannya agar tidak menjadi sebuah boomerang effect. Dari sisi kita sebagai anak buah, sikap mental positif yang dilakukan: Kita bisa memberikan pertanyaan kepada pimpinan ketika diberi tugas tambahan yang menurut kita sudah terlalu jauh dengan: ‘Maaf pak, bagaimana jika tugas utama saya menjadi terbengkalai?” atau ” Kalau begitu pak, mana yang harus saya kerjakan terlebih dahulu?”, atau juga bisa dengan kasus, “Baik pak akan saya kerjakan. Tetapi jika nanti pimpinan  memarahi saya karena meninggalkan tugas utama, apa yang  harus saya katakan?” Pertanyaan-pertanyaan ini sebetulnya adalah suatu ‘permintaan ketegasan pernyataan’, bahwa dia memang yang memerintahkan kita melakukan tugas tambahan tersebut. Dan jawaban ini tetap dibarengi dengan jawaban nomor 2 tentang Catatan Kerja Pribadi, sehingga menghindarkan kita dari tunjukan kesalahan kepada diri kita karena melakukan pekerjaan tambahan.
Oke…selamat mencoba.
Drg. T. A. Tatag Utomo, MM., ASM

Case 7: Cara Membawakan Renungan Sikap Mental Positif

August 17, 2010 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Selamat siang Mas Tatag… boleh nanya nih. Dalam menjalani program follow up dengan renungan sikap mental, berapa lama waktu yang ideal? Dan model waktunya mana sih ya terbaik: Teratur setiap tanggal/hari tertentu, atau acak saja? Bolehkah dimasukkan diskusi dalam program renungan sikap mental? Saya juga ingin mengatur program renungan untuk divisi saya yang tampak sibuk sekali, sehingga cukup sulit untuk menentukan waktunya…
Tx dan maaf pertanyaannya banyak….
Siswanto, PT Interbat Surabaya
———————————————————————————————
Jawaban:
Halo Brother Siswanto….
Ok..jadi awalnya aku memperhitungkan bahwa waktu total rata-rata untuk sebuah renungan adalah 10 menit. Namun akhirnya dalam realitasnya waktu itu kurang. Jadi berdasarkan pengalaman, waktunya kira-kira 15-30 menit. Artinya setiap peserta mendapat kesempatan mengungkapkan konsepsinya, walau hanya 30 detik sampai 1 menit.

Nah…memang kalau lebih mantap, renungan sikap mental boleh berkembang jadi diskusi yang dikaitkan dengan dunia kerja sehari-hari, diisi dengan usulan atau ide untuk perbaikan kinerja. Bisa juga dimasukkan 1 (satu) saja, sikap mental positif baru yang akan dilaksanakan bersama-sama, misalnya saja: Sikap mengucapkan salam ketika sampai di kantor….
O ya mengenai waktunya. Ada beberapa pilihan: Mau secara Interval-Tetap, Interval-Variabel atau Acak Sesuai Kebutuhan. Kalau Interval-Tetap, renungan dibuat teratur setiap -misalnya- 1 atau 2 minggu sekali.  Pada Interval-Variabel karyawan diumumkan bahwa dalam 1 bulan pasti ada 2 kali renungan sikap mental, tetapi dengan jadual yang mendadak. Pada sistem Acak, ya renungan sikap mental diadakan jika dirasakan ada kebutuhan mengenai sebuah variabel perilaku, ambil artikel yang cocok dan direnungkan/disharingkan.

Dari riset bersama kami di Indah Kiat Pulp and Paper, Tbk, renungan sikap mental membawa hasil baik dengan sistem Interval-Tetap, dimana renungan berjalan 2 tahun penuh dengan jadual yang sudah ditetapkan secara teratur. Kalau dari riset terbaru di Amerika, jadual Interval-Varibel dapat lebih memaksimalkan hasil, karena karyawan akan lebih serius menyiapkan renungan, apalagi jika dari hasil renungan dapat dimasukkan sebagai faktor penilaian kinerja karyawan.

Sementara model perenungan yang Anda rencanakan berdasarkan waktu sibuk departemen, saya kira juga tidak masalah. Itu akan lebih memudahkan. mengenai kelemahan akan kurangnya sudut pandang karena karyawannya dari grup yang sama, tidak masalah. Anda bisa masukkan pengamat (mungkin lebih pas kalau diambil dari pimpinan satu level lebih tinggi) atau peserta tamu dari departemen lain sesekali.

Ok…saya senang sekali dengan semangat anda. Yang penting jangan melakukan renungan sikap mental dengan harapan hasil jangka pendek, karena pada hakekatnya pembinaan manusai relatif merupakan long term investment. Tetapi pasti, asal kita menjalaninya dengan senang hati, sabar, teratur dan niat baik. O ya kalau bosan renungan sikap mental dengan materi dari buku, materi bisa diambil dari artikel orang lain, atau materi Mini Artikel KPPSM yang sudah mencapai nomor 130.

Nah…selamat bekerja, berkarya dan berkontemplasi. God bless u always…

Mas Tatag yang Imut dari Cibubur ..he..he..he..(begini nih kalau sudah kehabisan ide salam penutup)

Case 6: Tentang Sikap Mental Positif Peduli terhadap Toilet Perusahaan

July 27, 2010 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Tanya: Pak Tatag, dikantor saya, toiletnya sering kurang bersih. Sebagai bentuk sikap mental positif dalam rasa memiliki, saya suka memberikan usulan kepada bagian rumah tangga supaya meningkatkan pelayanan kebersihannya, toh manfaat akhirnya untuk semua karyawan juga, termasuk bagian kebersihan juga. Tetapi, masukan saya sering ditanggapi dingin; bahkan pimpinan bagian rumah tangga malah pernah memarahi saya untuk tidak terlalu mengurusi hal-hal seperti itu yang menurutnya adalah hal-hal kecil. Bagaimana tanggapannya pak, sikap mental positif apa yang mesti saya lakukan?
(Ferry Natuya, Depok)
———————————————————————————————————————————————————————–
Jawab:
Kasus memperlihatkan sikap mental positif peduli terhadap kebersihan toilet perusahaan. Ya, tindakan kita untuk membantu memberikan usul atau masukan kepada bagian yang menangani kebersihan toilet sudah tepat dan baik. Jika bagian/pimpinan tersebut malah memarahi kita, maka dia yang belum paham konsep bahwa perusahaan adalah Tubuh Imajiner, dimana semua anggota tubuh saling ber-ketergantungan satu sama lain,yang harus saling mendukung dan membantu. Jika ingin memberi masukan tentang toilet tadi dalam suasana formal, gunakan general meeting untuk menyampaikannya. Yang penting, karena budaya kita termasuk budaya High Context Culture yang lebih mengedepankan perasaan, maka usahakan masukan kita jangan sampai menyebutkan/menyinggung person-nya. Bisa dikatakan, kita memberi masukannya secara persuasif…

Sahabat Anda selalu,

Drg. T.A. Tatag Utomo, MM., ASM

Direktur Pendidikan KPPSM

case 5: Jika Pimpinan mempunyai Sikap Mental tidak Jujur

July 21, 2010 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Dear pak Oerip…Bagaimana jika pemimpin kita mempunyai sikap mental tidak jujur dalam pekerjaannya. Apakah ini masuk dalam sikap mental negatif/karakter atau kebijakan? Dan bagaimana supaya kita tidak terjebak dalam ketidakjujuran yang dilakukan pimpinan kita?

Tx…Regina, Jakarta

—————————————————————————————————————————

Jika pemimpin tidak jujur, ini kebetulan bisa masuk dalam sifat/pribadi/karakter pemimpin yang sulit diubah, tetapi juga bisa masuk dalam kebijakan, yang berdasarkan pada sisi sikap mental. Dan rasanya, sikap mental positif yang pas adalah kita harus selalu mempunyai Catatan Kerja Pribadi yang lengkap, terutama tentang perintah kerja/pekerjaan yang bersifat vital dan fatal. Gunanya? Untuk menghindarkan diri dari kesalahan yang semestinya tidak kita tanggung (jadi, bukan untuk menghindarkan diri dari tanggung jawab). Artinya, kita bertanggungjawab terhadap hal yang memang kita mesti pertanggungjawabkan, tidak lebih. Jika pun kita mau memberikan usul atau saran mengenai kasus ini, arahkan usul-saran tadi ke dalam kebijakannya, dan bukan tentang sifatnya. Misalnya: Kita memberikan usul bahwa kita harus menggunakan metode ‘Corrective Action Request‘ untuk menemukan sumber penyimpangan pekerjaan, sehingga perbaikan jitu lebih mudah dilakukan (padahal kita maksudkan ide ini adalah agar pemimpin tidak memutarbalikkan fakta jika terjadi suatu kesalahan….)

Sahabat anda selalu,

F.X. Oerip S. Poerwopoespito

Case 4: Tentang Pepatah: Boleh Menikah dengan Pekerjaan, tetapi Jangan Menikah dengan Perusahaan

July 14, 2010 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Tanya: Pak Oerip, apakah maksud pepatah yang orang suka katakan, yaitu: “Boleh menikah dengan pekerjaan, tetapi jangan menikah dengan perusahaan?” Dan kedua: “Sampai batas manakah kita perlu mengedepankan sikap mental positif kepentingan peruasahaan di atas kepentingan pribadi?”
(Meifi Sanderlina, Surabaya)
————————————————————————————————
Jawab:
Pepatah itu lebih bermaksud agar kita tidak ‘terlalu’ dalam mencintai pekerjaan, sehingga tidak kecewa jika ternyata kita tidak mendapatkan ’balasan ideal/setimpal’ dari prusahaan tempat pekerjaan itu berada, baik dari sistem, pimpinan maupun rekan sejawat. Namun menurut pandangan saya, mencintai pekerjaan idealnya kalau bisa tetap dibarengi dengan sikap mental positif mau mencintai perusahaannya.
Rasa cinta pada perusahaan itu akan membawa kebanggaan, yang akan lebih memantapkan lagi langkah kinerja kita (ini seperti eksekutif Jepang yang bisa begitu mencintai perusahaannya, dengan selalu memperkenalkan perusahaan tempatnya bekerja terlebih dahulu ketika bertemu orang lain).
Namun ya itu tadi..jika kita sudah merasa bahwa cinta kita tidak direspon semestinya oleh perusahaan, maka sah-sah saja kita  mencari tempat lain. Asal, proses kepindahan kita tersebut berjalan dengan baik sesuai aturan, dan tidak menimbulkan/meninggalkan masalah yang menyulitkan orang lain.
Nah, mengenai batasan sikap mental positif mengedepankan kepentingan perusahaan. Batasannya adalah dalam soal nyawa. Jika dalam suatu situasi kita dihadapkan pada tugas perusahaan, sementara ada anggota keluarga kita yang sakit (terutama sakit keras), maka keluarga yang sakit boleh didahulukan, setelah kita minta ijin. Mengapa? Sebab tidak ada hal lain di dunia ini yang dapat menggantikan nyawa manusia…
Jika pemimpin tidak mau tahu, maka berikan pengertian dengan baik-baik agar ia mau mengerti. Sentuhlah hatinya mengenai konsep ‘bahwa perusahaan didirikan untuk kesejahteraan manusia’, bukan untuk kesejahteraan pekerjaan, mesin, gedung atau aset lain. Dan dalam kesejahteraan itu juga termaktub kebahagiaan batin jika bisa membantu menolong anggota keluarga yang sakit keras…
Thankyou…

Case 3: “Tentang Etika dan Profit”

June 23, 2010 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Halo Pak Oerip atau Pak Tatag…mau Tanya nih…bagaimana sebetulnya mengenai profit dan etika? Apakah memang mereka tidak dapat disandingkan? Sebab, bagaimanapun dalam bisnis kan memang perlu profit untuk terus menjalankan kehidupan perusahaan atau unit bisnisnya. Jadi menurut saya kedua hal itu berjalan sendiri-sendiri. Bagaimana menurut bapak?

Irwan Tjandrakusuma, Jakarta

————————————————————————————————

Merdeka pak Irwan Tjandrakusuma…

Sebelumnya selamat atas rencana peluncuran buku ‘Uang Sebagai Sarana Pendidikan’ yang akan naik cetak bulan ini. Saya yakin buku tersebut akan memberikan sumbangsih yang besar kepada masyarakat Indonesia untuk semakin memajukan diri dengan terus berusaha menjadi manusia yang ‘in the making’.

Ya..saya setuju dengan pendapat bapak, bahwa sebetulnya profit dan etika bisa tidak perlu dipersandingkan (menurut saya mungkin lebih tepat di-dikotomikan), karena profit selalu juga menjadi landasan dalam kesejahteraan.

Hanya saja, tampaknya dalam kata ‘profit’ terkandung kecenderungan pemahaman bahwa dia harus dihasilkan melalui cara apapun. Akhirnya menjadi timbullah sikap menghalalkan segala cara untuk menghasilkan profit (walaupun aslinya N. Macchiavelli ketika membuat konsep tersebut bisa dianggap benar, karena Negara dalam situasi genting, bahaya dan dikuasai oleh kelompok penjahat, seperti ditulis oleh Miriam Budiardjo).

Dan rupanya, trend sekarang yang banyak mencuatkan konsep-konsep GCG, clean business, atau pemerintahan yang bersih-transparan-berwibawa, maka tulisan itu dibuat. Juga karena beberapa saat sebelumnya harian Kompas memuat diskusi panel tentang etika, hati dan bisnis, dimana dikotomi ini masuk dalam sesi pembahasan. Betul juga jika ada pendapat bahwa ketika kita diberikan kepercayaan untuk menghasilkan profit dalam bisnis dan gagal, kita bisa dikatakan kurang etis. Walaupun, sulit untuk dikatakan tak bermoral, karena predikat tersebut tampak terlalu berat (beda dengan koruptor yang jelas bisa  disebut tak bermoral, karena merupakan crime against humanity). Jadi, biasanya jika kita berdiskusi mengenai hal-hal etis, hal tersebut biasanya juga berkaitan dengan aspek moral.

Akhirnya saya setuju dengan pendapat anda, bahwa etika dan profit tidak perlu didikotomikan, tetapi mungkin tetap perlu dipersandingkan, dengan tujuan utama bahwa keduanya berjalan seiring, dimana profit harus selalu diupayakan dihasilkan dari hal-hal yang etis (berarti juga mengedepankan sikap mental positif, perilaku dan karakter positif).

Sekali lagi, terima kasih atas pertanyaannya…kami tunggu peluncuran bukunya….

Drg. T.A. Tatag Utomo, MM., ASM