Case 3: “Tentang Etika dan Profit”

June 23, 2010 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Halo Pak Oerip atau Pak Tatag…mau Tanya nih…bagaimana sebetulnya mengenai profit dan etika? Apakah memang mereka tidak dapat disandingkan? Sebab, bagaimanapun dalam bisnis kan memang perlu profit untuk terus menjalankan kehidupan perusahaan atau unit bisnisnya. Jadi menurut saya kedua hal itu berjalan sendiri-sendiri. Bagaimana menurut bapak?

Irwan Tjandrakusuma, Jakarta

————————————————————————————————

Merdeka pak Irwan Tjandrakusuma…

Sebelumnya selamat atas rencana peluncuran buku ‘Uang Sebagai Sarana Pendidikan’ yang akan naik cetak bulan ini. Saya yakin buku tersebut akan memberikan sumbangsih yang besar kepada masyarakat Indonesia untuk semakin memajukan diri dengan terus berusaha menjadi manusia yang ‘in the making’.

Ya..saya setuju dengan pendapat bapak, bahwa sebetulnya profit dan etika bisa tidak perlu dipersandingkan (menurut saya mungkin lebih tepat di-dikotomikan), karena profit selalu juga menjadi landasan dalam kesejahteraan.

Hanya saja, tampaknya dalam kata ‘profit’ terkandung kecenderungan pemahaman bahwa dia harus dihasilkan melalui cara apapun. Akhirnya menjadi timbullah sikap menghalalkan segala cara untuk menghasilkan profit (walaupun aslinya N. Macchiavelli ketika membuat konsep tersebut bisa dianggap benar, karena Negara dalam situasi genting, bahaya dan dikuasai oleh kelompok penjahat, seperti ditulis oleh Miriam Budiardjo).

Dan rupanya, trend sekarang yang banyak mencuatkan konsep-konsep GCG, clean business, atau pemerintahan yang bersih-transparan-berwibawa, maka tulisan itu dibuat. Juga karena beberapa saat sebelumnya harian Kompas memuat diskusi panel tentang etika, hati dan bisnis, dimana dikotomi ini masuk dalam sesi pembahasan. Betul juga jika ada pendapat bahwa ketika kita diberikan kepercayaan untuk menghasilkan profit dalam bisnis dan gagal, kita bisa dikatakan kurang etis. Walaupun, sulit untuk dikatakan tak bermoral, karena predikat tersebut tampak terlalu berat (beda dengan koruptor yang jelas bisa  disebut tak bermoral, karena merupakan crime against humanity). Jadi, biasanya jika kita berdiskusi mengenai hal-hal etis, hal tersebut biasanya juga berkaitan dengan aspek moral.

Akhirnya saya setuju dengan pendapat anda, bahwa etika dan profit tidak perlu didikotomikan, tetapi mungkin tetap perlu dipersandingkan, dengan tujuan utama bahwa keduanya berjalan seiring, dimana profit harus selalu diupayakan dihasilkan dari hal-hal yang etis (berarti juga mengedepankan sikap mental positif, perilaku dan karakter positif).

Sekali lagi, terima kasih atas pertanyaannya…kami tunggu peluncuran bukunya….

Drg. T.A. Tatag Utomo, MM., ASM

About Tatag Utomo

Baca artikel sikap mental positif menarik lainnya :