Case 7: Cara Membawakan Renungan Sikap Mental Positif

August 17, 2010 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Selamat siang Mas Tatag… boleh nanya nih. Dalam menjalani program follow up dengan renungan sikap mental, berapa lama waktu yang ideal? Dan model waktunya mana sih ya terbaik: Teratur setiap tanggal/hari tertentu, atau acak saja? Bolehkah dimasukkan diskusi dalam program renungan sikap mental? Saya juga ingin mengatur program renungan untuk divisi saya yang tampak sibuk sekali, sehingga cukup sulit untuk menentukan waktunya…
Tx dan maaf pertanyaannya banyak….
Siswanto, PT Interbat Surabaya
———————————————————————————————
Jawaban:
Halo Brother Siswanto….
Ok..jadi awalnya aku memperhitungkan bahwa waktu total rata-rata untuk sebuah renungan adalah 10 menit. Namun akhirnya dalam realitasnya waktu itu kurang. Jadi berdasarkan pengalaman, waktunya kira-kira 15-30 menit. Artinya setiap peserta mendapat kesempatan mengungkapkan konsepsinya, walau hanya 30 detik sampai 1 menit.

Nah…memang kalau lebih mantap, renungan sikap mental boleh berkembang jadi diskusi yang dikaitkan dengan dunia kerja sehari-hari, diisi dengan usulan atau ide untuk perbaikan kinerja. Bisa juga dimasukkan 1 (satu) saja, sikap mental positif baru yang akan dilaksanakan bersama-sama, misalnya saja: Sikap mengucapkan salam ketika sampai di kantor….
O ya mengenai waktunya. Ada beberapa pilihan: Mau secara Interval-Tetap, Interval-Variabel atau Acak Sesuai Kebutuhan. Kalau Interval-Tetap, renungan dibuat teratur setiap -misalnya- 1 atau 2 minggu sekali.  Pada Interval-Variabel karyawan diumumkan bahwa dalam 1 bulan pasti ada 2 kali renungan sikap mental, tetapi dengan jadual yang mendadak. Pada sistem Acak, ya renungan sikap mental diadakan jika dirasakan ada kebutuhan mengenai sebuah variabel perilaku, ambil artikel yang cocok dan direnungkan/disharingkan.

Dari riset bersama kami di Indah Kiat Pulp and Paper, Tbk, renungan sikap mental membawa hasil baik dengan sistem Interval-Tetap, dimana renungan berjalan 2 tahun penuh dengan jadual yang sudah ditetapkan secara teratur. Kalau dari riset terbaru di Amerika, jadual Interval-Varibel dapat lebih memaksimalkan hasil, karena karyawan akan lebih serius menyiapkan renungan, apalagi jika dari hasil renungan dapat dimasukkan sebagai faktor penilaian kinerja karyawan.

Sementara model perenungan yang Anda rencanakan berdasarkan waktu sibuk departemen, saya kira juga tidak masalah. Itu akan lebih memudahkan. mengenai kelemahan akan kurangnya sudut pandang karena karyawannya dari grup yang sama, tidak masalah. Anda bisa masukkan pengamat (mungkin lebih pas kalau diambil dari pimpinan satu level lebih tinggi) atau peserta tamu dari departemen lain sesekali.

Ok…saya senang sekali dengan semangat anda. Yang penting jangan melakukan renungan sikap mental dengan harapan hasil jangka pendek, karena pada hakekatnya pembinaan manusai relatif merupakan long term investment. Tetapi pasti, asal kita menjalaninya dengan senang hati, sabar, teratur dan niat baik. O ya kalau bosan renungan sikap mental dengan materi dari buku, materi bisa diambil dari artikel orang lain, atau materi Mini Artikel KPPSM yang sudah mencapai nomor 130.

Nah…selamat bekerja, berkarya dan berkontemplasi. God bless u always…

Mas Tatag yang Imut dari Cibubur ..he..he..he..(begini nih kalau sudah kehabisan ide salam penutup)

About Tatag Utomo

Baca artikel sikap mental positif menarik lainnya :