Case 11: Menumbuhkan Sikap Mental ‘Berani’ pada Anak

May 26, 2011 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Yth. Bp. Tatag Utomo

Selamat siang pak, bagaimana kabar bpk ?

Semoga senantiasa dalam lindungan Tuhan Yang MahaKuasa…,

Pak Tatag, ada yang ingin saya tanyakan mengenai anak saya Nabilla, dimana ada kondisi psikologis pada anak saya kurang percaya diri dan menjadi bersikap pengecut.

Contohnya begini pak, kebetulan anak saya aktif dikegiatan beladiri pencak silat dan prestasinya cukup bagus (pernah 5x juara I, dikejuaraan pencak silat antar pelajar SD sejabodetabek, juara III dan II di kejuaraan antar pelajar SMP se DKI) , ada satu lawan bertanding yang juga adalah kakak kelasnya saya sebut saja F, dimana didalam setiap pertandingan resmi mereka pernah bertemu di semi final & final, dan setiap pertemuan ini anak sy selalu jatuh mentalnya dan tidak pernah menyelesaiakan pertandingannya.  Kejadian ini sudah 2x terjadi dimana dia selalu minder dan jatuih mental saat bertemu F kakak kelasnya tersebut (terakhir hr minggu tgl 10 April lalu, mereka bertemu di final kejuaraan beladiri yg diadakan Disorda DKI), padahal di babak penyisihan, perempat final maupun semifinal dapat dilalui dengan mantap, namun saat bertemu dengan kakak kelasnya dia langsung berubah drastis dan bersikap cengeng, yg akhirnya kalah tanpa meneruskan pertandingan.

Yang selalu diluar dugaan saya, sebelum pertandingan saat saya diskusi dengan anak saya, dia selalu menyatakan siap & bersikap biasa, namun beberapa detik sebelum pertandingan mulai dia mulai cemas, menangis dan tdk percaya dirinya kambuh, akibatnya dia selalu memberikan F kemenangan tanpa perlawanan yg berarti.

Saya tidak membebani anak saya bahwa dia harus meraih juara, apalagi kegiatan ini memang keinginan dia sendiri (bukan permintaan orang tua) dan saya juga hanya berharap anak saya mampu memberikan hal yang terbaik yang ada pada dirinya dan mampu bersikap krastria pula atas apa yang menjadi pilihannya.

Sikap mental dia tidak bermasalah saat dia menghadapi lawan2 bertandingnya, namun menjadi hal yang berbeda saat berhadapan dengan F ini.

Berdasarkan analisis dan evaluasi teknis sebenarnya anak saya cukup memilik kemampuan untuk memberikan perlawanan sepantasnya dalam pertandingan melawan F namun dia selalu kalah mental saat menghadapi F (hanya setiap bertemu F saja), yang selain kakak kelasnya di SD dulu (saat ini F bersekolah di sekolah atlit SMP Ragunan/PPLP Ragunan), juga adalah senior di tempat latihan pencak silatnya.

Mengenai F sendiri adalah anak yang baik, ramah dan santun yang sebenarnya adalah teman baiknya pula,  hanya saat bertanding F selalu bersikap serius siapapun lawan tandingnya (sikap mental sbg seorang atlit sudah terbentuk krn ybs sekolah di PPLP Ragunan) dan hal ini yang agaknya kurang dipahami anak saya.

Mohon saran bapak, bagaimana sikap dan upaya saya untuk mengembangkan sikap mental positif pada anak saya tersebut, karena pada dasarnya anak saya memiliki potensi diri yang baik.

Demikian saya sampaikan Pak Tatag, sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas perhatian dan saran bapak.

Salam hormat saya,

Joni Widayanto (Peserta Seminar “Anakku bukan Robot”)

————————————————————————————————-

Selamat malam pak Joni…merdeka!

Okey…saya sudah membaca kisah Nabila berkaitan dengan sikap mental bertandingnya yang turun, terlihat kurang percaya diri, terutama saat bertemu dengan F (yang adalah mantan kakak kelasnya di SD, anak baik, ramah namun kelihatan tegas dan kuat kepribadiannya). Membaca hal ini, saya jadi teringat karena ini adalah pengalaman saya pribadi juga sebagai atlit muda badminton waktu itu (seangkatan Ardy BW). Yang bisa jadi pertimbangan, pemikiran dan saran saya adalah:

1.       Sebetulnya Nabila secara teknis persilatan tidak mempunyai masalah yang berat. Terbukti, dia telah mampu meraih 5 X juara I di kejuaraan pencak silat antar pelajar SD seJabodetabek, juara II dan III di kejuaraan antar pelajar SMP se-DKI. Hanya, ia tampaknya mempunyai sedikit masalah ‘ketidakcocokan aura’ dengan F. Ini terjadi pada saya juga. Ketika saya masih sebagai atlit badminton, saya punya rekan, sahabat satu klub bernama Sugianto. Saya, sangat sulit dan gentar menghadapi Sugianto, sehingga ketika bertemu/latih tanding dengannya saya memang tidak pernah menang sama sekali. Padahal, Sugianto ini selalu kalah melawan Didi Sumarsono. Sementara saya sudah bisa menang melawan Didi . Melihat skema matematika ini, harusnya saya mampu menang melawan Sugianto, karena mampu mengalahkan Didi yang selalu mengalahkan Sugianto. Tetapi fakta yang terjadi adalah: Saya tidak pernah menang 1 game penuh pun (hanya sekali pernah menang satu set saja)!. Dan, ini terjadi pada badminton level dunia. Dulu kalau tidak salah, pemain bulutangkis Eropa mudah mengalahkan pemain China dan pemain Indonesia mudah mengalahkan pemain Eropa. Logikanya, pemain Indonesia mudah mengalahkan China. Namun fakta yang terjadi adalah: Pemain Indonesia lebih senang bertemu dengan Pemain Eropa daripada China, karena sering kalah dengan pemain China. Dianalisis sana sini, hasilnya adalah memang: ‘Ketidakcocokan gaya’ badmintonnya. Gaya Stylish Eropa mampu meredam permainan speed and power game pemain khas China, tetapi mudah takluk dengan permainan speed, power, tactic khas Indonesia. Dan gaya permainan Indonesia -yang sebetulnya tipikal dengan China (karena sama-sama Asia)- tidak cocok/sulit berkembang dengan gaya permainan China yang juga mengandalkan speed and power. Maka akhirnya dulu Icuk selalu ketakutan jika bertemu Yang Yang, tapi mudah mengalahkan Morten Frost Hansen. Padahal, Morten bisa mengalahkan Yang Yang!

2.        Yang penting, anda sebagai Ayahnya sikap mental positif anda sudah benar dengan ‘tidak memaksakan’ kehendak, atau ‘memaksakan menumbuhkan keberanian’ dalam diri Nabila. Mengapa? Pemaksaan adalah sikap mental negatif, jika tidak hati-hati, rawan menimbulkan trauma psikologis. Trauma psikologis pada jiwa selalu menyebabkan persoalan di kemudian hari yang sulit tersembuhkan. Ingat saja, jiwa itu bersifat seperti GELAS dalam terminologi Jawa, yaitu: NEK TUGEL. ORA ISO DILAS (kalau pecah/patah. tidak bisa dilas).

3.       Kalau perlu, adakan penggalian informasi/data tambahan, yaitu:

a)      Lihat apakah ternyata, Nabila pernah mempunyai pengalaman/trauma -terutama  mungkin semacam bullying-  dengan si F (misalnya, pernah berkelahi dan kalah, mengalami kekerasan dan tidak bisa melawan, dsb).

b)      Atau, si F memang merupakan anak yang sangat disegani di sekolah, karena mempunyai keunggulan yang kompleks dibandingkan anak-anak lainnya (misalnya, ia punya banyak kebisaan yang menonjol dalam banyak bidang sekaligus/multi talented)

c)       Atau, Nabila mempunyai sikap respek yang sangat tinggi kepada si F, karena di sekolahnya F adalah pemimpin dalam suatu kelompok dengan Nabila.

d)      Boleh juga lihat lagi secara teknis,apakah gaya bersilat si F ‘tidak cocok tipenya’ dengan gaya bersilat Nabila (konsultasikan juga dengan pelatihnya)

e)      Mungkin juga gaya/penampilan/karakter bertanding si F ‘terlalu garang dan dewasa’ yang menyebabkan Nabila takut dan getar, karena kebetulan mungkin Nabila masih membawa sisi kanak-kanak yang lebih kuat.

4.       Altenatif langkah Pemecahannya:

a)      Yang utama: Sebetulnya, tidak ada masalah yang berarti -sekali lagi- tak ada masalah berarti dalam Nabila. Mengapa? Nabila sudah mau memilih cabang olahraga yang cukup keras dan berdasarkan keinginan sendiri saja, itu sudah merupakan sikap mental positif yang hebat. Dan secara teknis, terbukti dia sudah mampu menjadi juara beberapa kali. Apalagi jika melihat tujuan sebenarnya dari olahraga beladiri adalah membentuk sikap yang baik sebanyak mungkin dalam diri seorang menusia, serta mampu menjaga kesehatan jiwa raganya dengan baik. Sedikit-sedikit ada kelemahan, itu sangat human being…Kecuali, keadaan grogi, tidak PD atau ketidakberaniannya selalu muncul setiap saat, nah itu baru masalah…

b)      Lalu? Ajak Nabila omong-omong lagi dengan penuh kasih sayang, bahwa: Anda sebagai ayah bangga, dan akan selalu bangga kepadanya, karena apapun yang terjadi, ia sudah mencoba/berusaha memberikan yang terbaik. Apapun yang terjadi, ia sudah mau ikut suatu cabang olahraga. Dan ia mau masuk dalam arena pertandingan resmi yang sebenarnya. Kalau memungkinkan, ajak omong-omong dalam suasana informal (misalnya ketika makan bersama di Mall), apa yang membuatnya gentar dan takut atau kehilangan kepercayaan diri ketika berhadapan dengan F. Yang penting disini adalah gaya bertanya Anda sebagai orangtua santai saja sebagai sahabat, bukan sebagai penyidik ya…Harapannya, Nabila mau mengungkapkan jika memang ada penyebab yang khas…

c)       Kemudian? Satu per satu kita bahas…

-          Jika sebabnya adalah poin 3 a), hilangkan traumanya tersebut dengan perlahan-lahan, sambil berjalannya waktu. Sebab, trauma kejiwaan bisa mempunyai efek antara 0-30 tahun! Dan makin keras kita berusaha menghilangkan trauma, biasanya malah bertambah lama trauma melekat. Jadi, sekali lagi, lepaskan dengan perlahan-lahan, lemah lembut dan setahap demi setahap. Lihat penyebab traumanya mulai dari bentuk yang paling sedikit menimbulkan ketakutan (misalnya melihat gambar), sampai perlahan-lahan lihat bentuknya yang asli. Jika memang dirasakan sangat perlu, bantu dengan terapi hypnosis dari psikater atau psikolog. Kalau tidak perlu juga tak apa-apa, lakukan sendiri pengurangan trauma bertahap dengan selalu mengingat/melakukan poin 4 b.

-          Jika sebabnya poin 3 b), berarti Nabila ‘keder’ dengan wibawa/kharisma si F. Jelaskan saja, bahwa jika memang F mempunyai bakat untuk mempunyai kemampuan ‘multi talenta’, ya…biarkan saja, tak perlu dilawan fakta itu, Yang jelas, sehebat-hebatnya F, pasti ia juga mempunyai kelemahan dibandingkan diri Nabila, apapun itu, sekecil apapun itu. Dan jelaskan, bahwa kita sebagai manusia mempunyai kelebihan dibandingkan dengan ‘masalah’ apapun bentuknya. Alasannya? Kita sebagai manusia punya ‘akal budi’ untuk membuat berbagai strategi, sedangkan ‘masalah’ tidak punya akal budi dan strategi untuk mengalahkan manusia kan?

-          Jika sebabnya poin 3 c), jelaskan pada Nabila bahwa sikap respeknya itu bagus, namun perlu ditempatkan secara proporsional. Respek dalam keseharian formal, tidak ada hubungan berbanding terbaik dengan waktu pertandingan. Yang berarti bahwa karena sikap repeknya pada F, Nabila tidak perlu melawan dengan serius. Malahan, sikap serius dalam bertanding -apapun hasilnya- adalah sikap menunjukkan sikap respek yang baik pada si F

-          Jika sebabnya poin 3 d) (yang mirip dengan kasus saya dalam olah raga badminton), memang banyak diselesaikan teknis. Biasanya, untuk mengalahkan lawan yang kita mempunyai ‘aura ketidakcocokan’, maka kita terpaksa mengembangkan gaya ‘all round type’. Artinya kita mencoba mempelajari banyak gaya dan teknik, sehingga jika satu gaya dan teknik tidak cocok untuk mengalahkan, kita memakai gaya dan teknik lain yang lebih tepat. Di sini, akhirnya Indonesia mempunyai Joko Supriyanto, yang merupakan pemain dengan pukulan terkomplit di dunia. Namun, ini juga tidak boleh dipaksakan. Karena untuk bisa mempunyai kemampuan all round type seperti ini, Nabila harus menyisihkan banyak waktu, tenaga dan pikiran yang lebih. Tinggal dihitung saja apakah pengorbanan tersebut sesuai dengan tujuan hakiki olahraga pencak silatnya sendiri…sebab juga ada tujuan-tujuan lain dalam hidupnya diluar pencak silat bukan? Tetapi, kalau pencak silat ini memang menjadi tujuan utama, maka segala pengorbanan harus siap untuk dilakukan…

-          Jika sebabnya poin  3 e), ini dia. Setiap kelebihan selalu menjadi kelemahan juga, jadi, kuatkan saja gaya kita sehingga akan menjadi kelebihan. Pesilat yang terlalu garang dan serius dalam bertanding boleh dilawan dengan sikap bertanding ‘seakan bercanda dan tidak serius’ sehingga akan memancing emosi si F meningkat. Emosi yang meningkat biasanya akan menurunkan konsentrasinya, Konsentrasi yang menurun, selalu akan diikuti oleh akurasi pukulan yang kurang terarah dan pertahanan yang kurang kuat. jadi,  Nabila bisa menjadi lebih mudah menghindarkan pukulannya dan memasukkan pukulan nya sendiri untuk mengalahkannya…

Akhir kata, Nabila sudah hebat dan mempunyai sikap mental positif bisa lulus CPR dan mau mempunyai kegiatan olah raga yang cukup keras dalam pencak silat. Perjalanannya masih cukup panjang, yang penting dia selalu mau bersikap positif dalam hidupnya, bahagia dalam pilihan hidupnya , menjadi pribadi ‘bermakna dalam hidupnya’ dan meraih semua tujuan hidupnya dengan jalan baik dan kalau bisa selalu membahagiakan orang lain. Sementara, sebagai orangtuanya Anda selalu mendukungnya dengan penuh kasih sayang, apapun hasil/prestasi dari Nabila dan apapun jalan yang dipihnya…

Demikianlah…semoga sharing ini membantu…O ya jangan lupa setiap kali sehabis latihan silat, semua daerah benturan ditubuhnya dibalur dengan param kocok, beras kencir atau ramuan lainnya. Itu untuk mencegah trauma mikri pada jalur meridian/refleksi/akupunktur-nya. Dan kalau Nabila mau telepon/email  saya langsung juga boleh…

About Tatag Utomo

Baca artikel sikap mental positif menarik lainnya :