Case 12: Bila Anak Punya Sikap Mental Suka Mencuri

May 26, 2011 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Selamat malam pak Tatag. Merdeka!

Pak Tatag sebelumnya saya minta ma’af karena mengganggu waktunya.

saya cuma ingin sekedar curhat, dan minta sedikit masukan dari njenengan,ini tentang anak saya yang ke dua, Marcell.

Saya kurang tahu dari mana Marcell bisa punya sikap mental negatif baru yaitu berbohong,dan mulai meningkat jadi mencuri.

Waktu pertama berbohong kita ajak dia ngobrol tentang bahayanya berbohong.Kita beri dia sangsi tidak boleh menonton TV selama 4 hari. Setelah itu berjalan,dia ketahuan kalau punya uang Rp 5.000, padahal kita tidak penah memberi uang sebesar itu. Kita beri dia Rp 2.000, itupun selalu minta yang logam/koin karena maunya dimasukkan kecelengan.waktu kita tanya dia berbohong kalau dia diberi teman,k ita tanya nama temannya dia jawab si A, lalu diralat si B, ralat lagi si C, sampai kita(saya dan ibunya) bilang kalau kita tidak marah kalau Marcell jujur,tapi bisa marah kalau tetep saja bohong. Akhirnya dia mengaku kalau ambil punya kakaknya yang jatuh di lantai(kamar kakaknya). Kita haruskan juga dia untuk mengganti uang kakaknya itu, dantidak nonton TV maupun main komputer selama 7 hari. itu bisa berkurang 1 hari kalau dia melakukan tugasnya tanpa disuruh.

Nah…yang baru terjadi ini yang buat kita bingung bagaimana cara mengatasinya. Istri punya kebiasaan mengumpulkan uang logam yang kuning baik yang Rp. 100, 500 maupun yang 1000.Pagi tadi istri bingung uang  koin 500 berkurang, sewaktu Marcell sekolah ibunya coba cek kamar Marcell, ketemu uang-uang logam kuning tadi, cukup dilihat saja.Bangun tidur siang Marcell ditanya ibunya, dan jawabannya berbelit-belit. Akhirnya juga mengaku juga. Yang membuat saya dan istri kesal dan prihatin, dia mengambil dari kamar kita saat ibunya masak di dapur. Aduh-aduh pak Tatag…..bingung aku pak, apa yang harus kita lakukan buat Marcell.

Kami minta saran dan masukkan dari njenengan untuk masalah ini. MATUR SEMBAH NUWUN. BERKAH DALEM.

Bapak Teguh, Gunung Putri…

————————————————————————————————————————

Halo pak Teguh…

Waah saya ikut prihatin juga ya…tapi it’s okay. Semua anak mempunyai masalah-masalah baru yang timbul. Kebetulan saja, Marcell dapat masalah yang seperti ini. Oke ada beberapa hal yang akan diklarifikasi dan bisa dilakukan, yaitu:

1.       Terlihat sikap Marcell bukanlah sifat atau watak, tetapi lebih kearah karakter. Mengapa? Karena tidak dari usia dini sekali perilaku itu muncul, tetapi dari usia sekolah dasar. Dengan kata lain, perilakunya itu bukan masalah gen, tetapi terlihat sebagai faktor lingkungan.

2.       Terlebih dahulu kalau bisa, kita melihat faktor lingkungan apa yang mendorongnya berbuat demikian. Misalnya: Diperas oleh teman (ini yang saya pernah alami, yaitu diperas teman untuk selalu membawa mainan atau uang untuk diberikan kepadanya). Atau, dia ingin punya uang untuk main PS, Time Zone atau model-model permainan seperti itu yang kini banyak tumbuh. Atau ingin membeli mainan banyak, atau menyewa komik-komik Jepang seperti Naruto, Sinchan, dll

3.       Setelah tahu faktor pendoronganya, pelahan-lahan kita mulai memberi dia pengertian, yaitu:

a)      Beri tahu tentang konsep Kejujuran. Bahwa kalau Marcell tidak jujur atau suka mencuri, nanti bisa akan menjadi pencuri sesungguhnya. Dan pencuri atau perampok adalah pekerjaan yang sangat hina. Ayah dan ibu sangat malu/sedih jika nanti kamu menjadi seperti itu. Pak Teguh bisa mengeluarkan kata-kata dengan gaya bicara yang ‘berat dan dalam’, agar kuat ‘kesan bijaksananya’.

b)      Beritahu pula ia bahwa kalau butuh uang, lebih baik minta. Tetapi kalaupun diberikan usahakan agar tidak hanya dibuang-buang untuk bermain dan bermain. Harus berusaha ditabung. Ini penting untuk mengajarkan sikap mental positif keuangan yang produktif dan bukan konsumtif.

c)       Gunakan Teori  Cermin: Bayangkan kalau Marcell dalam posisi yang dicuri uangnya oleh orang lain, pasti Marcell juga akan tidak senang dan marah. Maka sebaiknya Marcell tidak melakukan hal yang sama pada orang lain. Atau Pak Teguh boleh mencoba mengambil barangnya secara diam-diam. Ketika dia kelabakan mencari, kita kembalikan sambil mengutarakan konsep Cermin di atas. Bahwa seseorang sedih dan marah jika barang-barang nya dicuri orang lain.

d)      Ingatkan tentang ajaran Tuhan. Bahwa Tuhan sedih, jika Marcell -sebagai anak-anak yang empunya sorga- melakukan tindakan mencuri.  Jika Tuhan sedih, nanti Tuhan tidak mau membantunya lagi jika masuk dalam kesulitan.

e)      Perlihatkan film tentang sikap mental positif kejujuran yang pas (boleh kasih film ‘Untuk Sebuah Hamburger’ dari You Tube. Dan terangkan bahwa dengan bersikap jujur, kita akan menjadi pribadi yang bermutu dan disukai orang lain.

f)       Ajak dia ke Panti Asuhan dan berbagi kepada mereka ketika ulang tahun. Ini penting untuk menekankan konsep berbagi, sebagai konsep yang merupakan ‘lawan’ dari konsep mencuri. Bahwa Marcell beruntung, bisa mendapatkan keluarga yang berkecukupan, jauh dibanding mereka yang di Panti Asuhan.  Dan pencurian akan mengambil sebagian besar hak anak-anak miskin yang memerlukan.

4.       Terakhir, gunakan ancaman punishment jika dia melakukan hal serupa lagi. Jenis Punishment dapat juga ditentukan oleh dia sendiri untuk memilih. Tetapi sekali lagi diingat, punishment adalah langkah terakhir dalam mendidik anak untuk tidak melakukan hal negatif. Tetap dikedepankan langkah-langkah persuasif dan memberikan pengertian mendalam. Apalagi dalam memberikan pendidikan SIkap Mental Positif.

5.       Terakhir jika masih mendapat kesulitan untuk mendidiknya, bantu dengan kegiatan spiritual. Puasakan dia pada hari weton lahirnya, disertai doa yang kuat pada Tuhan YME. Karena doa yang kuat dari orangtua kepada anaknya akan sungguh didengar oleh Tuhan, dan kita percaya Tuhan tak akan mendiamkan  umatnya yang sungguh-sungguh memohon kepadanya.

Oke…selamat mendidik kejujuran untuk Marcell

Drg. T.A. Tatag Utomo, MM., ASM

About Tatag Utomo

Baca artikel sikap mental positif menarik lainnya :