Case 1: Tanya tentang Menumbuhkan Sikap Mental Positif Kepecayaan Diri

June 22, 2010 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Pak Tatag, saya punya pertanyaan: Bagaimana caranya kita dapat menumbuhkan sikap mental positif percaya diri, terutama juga kalau kita mempunyai ketidaksempurnaan fisik? Terima kasih ya atas bantuannya….

Aristanti Kurniawan, Yogyakarta

————————————————————————————————

Halo ibu Aristanti….terima kasih atas pertanyaannya yang bagus. Kami menguraikan dan membahasnya sejelas mungkin dan mudah-mudahan membantu memotivasi agar lebih percaya diri di kemudian hari…..

Sebenarnya, setiap orang pernah mengalami masalah ketidakpercayaan diri (-tidak Pede- dalam bahasa gaulnya). Minimal, sesekali. Misalnya saja ketika tiba-tiba diminta memberikan sambutan pada saat ulang tahun keluarga. Jadi, sebetulnya wajar dan tidak bersifat destruktif. Namun, kalau memang sering muncul dalam konteks yang tidak pas, sikap tidak pede ini memang bisa membawa akibat negatif.

Kita bahas dulu definisi bebasnya. Sikap Percaya Diri adalah “Sikap dimana kita merasa yakin akan mampu/pantas melakukan sesuatu hal.” Sedangkan sikap Tidak Percaya Diri mempunyai definisi kebalikannya, yaitu: “Sikap dimana kita merasa tidak yakin akan mampu/pantas  melakukan suatu hal”.

Maka, menjadi jelaslah sudah. Tidak semua sikap ‘tidak percaya diri’ itu salah. Misalnya seorang nelayan diminta menjadi MC suatu pesta (padahal tidak mempunyai kompetensi dalam per-MC-an dan belum pernah melakukan), maka wajar saja ia merasa tidak pede. Tetapi jika kita adalah seorang lulusan PGSD, lalu tidak percaya diri untuk diminta menjadi pembicara tamu di SD tetangga, rasanya hal ini kurang pas. Mengapa? Karena berbicara/mengajar di depan murid SD seharusnya sudah menjadi suatu keharusan/kebiasaan/tuntutan dan keniscayaan dari seorang guru SD. Namun, salah juga jika terjadi over pede. Karena, orang yang over pede akan cenderung menggampangkan segala sesuatunya sehingga menurunkan kewaspadaan dan kecermatan, lalu akhirnya…jatuh!

Masalahnya kemudian: Sikap ‘tidak pede’ ini bisa berkembang menjadi Sikap Minder, dimana kita merasa selalu kalah atau inferior dibandingkan dengan orang lain dalam hal apapun. Padahal, mana mungkin? Bahkan seorang Profesor Fisika paling top pun tidak bakal menguasai semua hal dengan sempurna. Bisa jadi dalam penghitungan Ketidakpastian Heisenberg, dia jagonya. Tetapi belum tentu dia bisa buat Martabak Bangka yang enak kan?. Jadi, bagi seorang pembuat martabak Bangka, dia harus tetap percaya diri jika ikut lomba membuat martabak, karena memang disitulah kemampuannya! Ini adalah extreme and contrast example.

Pertanyaan berikut yang penting adalah: Bagaimana kita dapat memupuk/merawat/menumbuhkan sikap mental positif kepercayaan diri kita, sekaligus menghilangkan rasa minder? Beberapa jalan yang bisa ditempuh adalah dengan:

  1. Memahami prinsip bahwa tiap orang pasti mempunyai kelebihan masing-masing yang telah dianugerahkan Tuhan YME pada kita. Misalnya kita adalah sarjana hukum, bukan main. Berapa orang Indonesia sih yang berkesempatan menjadi sarjana hukum? Rasanya tak sampai 1 juta orang kan? Seorang anak tetangga  saya yang menderita idiot (down syndrome), ternyata pandai bermain musik. Ia mampu memainkan beberapa lagu instrumentalia secara baik dan lengkap menggunakan sebuah keyboard atau organ melebihi rata-rata orang biasa.
  2. Mengasah atau mengembangkan kelebihan kita terus menerus sepanjang hidup. Ingat saja bahwa takdir manusia adalah mahluk ‘menjadi’, bukan ‘sudah jadi’. Jadi, sepanjang hidupnya, ia mesti mengasah kemampuan/kelebihannya terus menerus. Jika ia mempunyai kelebihan memasak, maka sampai mati ia harus belajar terus memasak untuk menemukan resep-resep, teknik dan timing masak baru yang lebih sehat, enak dan mudah membuatnya.
  3. Mencari bakat diri kita yang terpendam. Ini memang langkah yang harus diambil jika kita merasa bahwa kita tak punya kelebihan khusus dibandingkan orang lain (kemampuan yang ada rata-rata sekali). Kita harus berani mencoba beberapa hal/bidang baru untuk merasakan sendiri, apakah ada bakat di situ.
  4. Membuat penampilan diri menarik. Jika langkah nomor 1,2, 3 langkah substansif, maka langkah nomor 4 ini terasa lebih elementer, karena seakan hanya langkah yang perlu untuk artis sinetron. Tetapi ternyata….tidak. Sebaik apapun mutu diri kita, namun kalau tidak mempunyai penampilan menarik, maka..diri kita bisa terlihat membosankan. Menarik yang dimaksud disini bukan berarti kita harus berwajah tampan-cantik, berpenampilan wah dengan baju-baju berharga jutaan.. Tetapi, lebih pada menampilkan sikap mental positif berupa pembawaan diri yang baik, tulus, murah senyum, murah sapa, sopan kepada orang lain. Lebih indah lagi jika berpenampilan pakaian yang sopan, bersih  dan matching. Dalam hal ini, memang perlu belajar sedikit ilmu seni rupa untuk memadukan warna. Banyak orang kaya berbaju mahal, tetapi sangat tidak pandai memadukan warnanya. misalnya, memakai baju warna coklat dengan bawahan biru. Sangat tidak matching kan?
  5. Menyadari bahwa manusia lebih besar dari pada masalah/problema. Mengapa? Karena diri manusia mempunyai otak, akal budi dan langkah penyelesaian masalah. Sedangkan masalah (sebagai makhluk abstrak), tidak punya! Jadi, malu sebenarnya kalau kita lari dari masalah. Karena kita manusia bisa melakukan problem solving, sedangkan, masalah tidak bisa.
  6. Belajar terus menerus. Hampir sama dengan pon 2, tapi maksudnya adalah jangan pernah kita berhenti belajar untuk selalu menambah wawasan dalam berbagai ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini. Berat? Tidak juga, kalau kita mempunyai sikap mental positif kesenangan membaca dan bertanya. Baca dan belajarlah apapun, dimanapun, kapapanpun, dengan apapun, dengan siapapun dan bagaimanapun caranya. Terutama, ilmu pengetahuan yang dapat mempertajam kelebihan kita. Belum punya kesenangan membaca? Biasakan mulai dari sekarang dan sedikit-sedikit.
  7. Mengurangi atau minimal mengimbangi kelemahan diri kita. Kelemahan seorang manusia pasti ada. Kalau nggak ada, itu mah malaikat namanya. Jadi, usahakan kita mengurangi, minimal mengimbangi kekurangan kita dengan kelebihan lain. Misalnya saja kita mempunyai kekurangan sebagai insectophobia (takut serangga) kronis. Imbangi dengan kelebihan lain seperti pintar menulis puisi, atau membuat karikatur. Jadi…lebih terasa imbang kan?
  8. Khusus jika mempunyai keadaan ketidaksempurnaan fisik (disabilities). Yang perlu dipahami adalah bahwa sebetulnya setiap manusia normal-pun juga tidak sempurna. Mengapa? Karena ia tidak mungkin mempunyai sepasang telinga, testis, payudara, mata, lubang hidung yang sama ukurannya. Pasti berbeda! Dan ketidaksempurnaan ini dibuat oleh Sang Maha Membuat. Dia-lah yang memperkenankan ketidaksempurnaan terjadi pada manusia. Dan biasanya, pada penderita ketidaksempurnaan fisik, Tuhan selalu memberikan kelebihan lain yang menarik, seperti seorang buta yang biasanya mempunyai pendengaran dan perasaan yang peka. Dan, jika kita menderita ketidaksempurnaan, jangan terlalu menyembunyikan, mengompensasi dengan sikap-sikap aneh atau malah menyangkal. Terimalah, jujurlah dan kadang boleh digunakan sebagai ‘teknik mengejek diri sendiri’, yang segar seperti Tukul yang selalu mencela dirinya atau Ronaldinho yang suka menyebut dirnya ‘Si Jelek yang Manis’. Walaupun teknik juga ini harus digunakan dengan sangat berhati-hati, lihat situasi dan gunakan pertimbangan matang.

Demikianlah, anda boleh tambahkan hal lainnya untuk menyempurnakan, dan yang penting harus diingat bahwa: Orang lain pun mengalami masalah ketidakpercayaan diri, mengalami ketidaksempurnaan dan bukan hanya kita sendirian. Selamat melatih kepercayaan diri, memupus rasa minder, jangan menyerah and… May God be With You.

Salam pede….

Mas Tatag dari Cibubur

About Tatag Utomo

Baca artikel sikap mental positif menarik lainnya :