Case 4: Tentang Pepatah: Boleh Menikah dengan Pekerjaan, tetapi Jangan Menikah dengan Perusahaan

July 14, 2010 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Tanya: Pak Oerip, apakah maksud pepatah yang orang suka katakan, yaitu: “Boleh menikah dengan pekerjaan, tetapi jangan menikah dengan perusahaan?” Dan kedua: “Sampai batas manakah kita perlu mengedepankan sikap mental positif kepentingan peruasahaan di atas kepentingan pribadi?”
(Meifi Sanderlina, Surabaya)
————————————————————————————————
Jawab:
Pepatah itu lebih bermaksud agar kita tidak ‘terlalu’ dalam mencintai pekerjaan, sehingga tidak kecewa jika ternyata kita tidak mendapatkan ’balasan ideal/setimpal’ dari prusahaan tempat pekerjaan itu berada, baik dari sistem, pimpinan maupun rekan sejawat. Namun menurut pandangan saya, mencintai pekerjaan idealnya kalau bisa tetap dibarengi dengan sikap mental positif mau mencintai perusahaannya.
Rasa cinta pada perusahaan itu akan membawa kebanggaan, yang akan lebih memantapkan lagi langkah kinerja kita (ini seperti eksekutif Jepang yang bisa begitu mencintai perusahaannya, dengan selalu memperkenalkan perusahaan tempatnya bekerja terlebih dahulu ketika bertemu orang lain).
Namun ya itu tadi..jika kita sudah merasa bahwa cinta kita tidak direspon semestinya oleh perusahaan, maka sah-sah saja kita  mencari tempat lain. Asal, proses kepindahan kita tersebut berjalan dengan baik sesuai aturan, dan tidak menimbulkan/meninggalkan masalah yang menyulitkan orang lain.
Nah, mengenai batasan sikap mental positif mengedepankan kepentingan perusahaan. Batasannya adalah dalam soal nyawa. Jika dalam suatu situasi kita dihadapkan pada tugas perusahaan, sementara ada anggota keluarga kita yang sakit (terutama sakit keras), maka keluarga yang sakit boleh didahulukan, setelah kita minta ijin. Mengapa? Sebab tidak ada hal lain di dunia ini yang dapat menggantikan nyawa manusia…
Jika pemimpin tidak mau tahu, maka berikan pengertian dengan baik-baik agar ia mau mengerti. Sentuhlah hatinya mengenai konsep ‘bahwa perusahaan didirikan untuk kesejahteraan manusia’, bukan untuk kesejahteraan pekerjaan, mesin, gedung atau aset lain. Dan dalam kesejahteraan itu juga termaktub kebahagiaan batin jika bisa membantu menolong anggota keluarga yang sakit keras…
Thankyou…

About Tatag Utomo

Baca artikel sikap mental positif menarik lainnya :