INDONESIA PERLU REVOLUSI SIKAP MENTAL: Mengapa perlu Pelatihan & Pengembangan “Sikap Mental Positif”?

PELATIHAN PENGEMBANGAN SIKAP MENTAL: Halo pembaca…terima kasih telah mengunjungi kami di website KPPSM.COM. Kami hadir, juga melalui website ini, khusus menjadi rekan pembelajar Anda rekan eksekutif sekalian, supaya mau dan mampu mengembangkan kualitas “sikap mental”nya ke arah yang lebih positif. Ini bukan berarti Anda pasti ber”sikap mental” negatif lho…tidak begitu. Karena, bagi yang sudah positif pun kami ajak untuk terus mau mengembangkannya ke arah yang lebih positif lagi, dan ini pasti tidak ada ruginya…

Oke…mengapa kami mau bersusah payah untuk menspesialisasikan diri dalam bidang “sikap mental positif ini”? Sebab, kami punya cita-cita melihat MENTAL MANUSIA INDONESIA menjadi trade mark mental yang hebat. Kami juga melihat bahwa: Perkembangan perusahaan atau apapun nama jenis unit usahanya, ternyata sungguh-sungguh tergantung dari faktor MANUSIA-nya. Secanggih/sehebat/sebesar apapun modal, manajemen, sistem, alat atau mesin yang dipakai, semuanya bisa menjadi percuma jika faktor manusianya lemah. Perkembangan positif perusahaan Anda, akhirnya sungguh berpengaruh terhadap perkembangan/kemajuan ekonomi bangsa.

Dan dari faktor-faktor yang mempengaruhi manusia -seperti faktor fisik, teknis, pendidikan, lingkungan- yang paling berpengaruh kuat ternyata  adalah faktor “sikap mental”nya. Seorang karyawan atau eksekutif perusahaan atau organisasi mungkin saja kurang dalam hal fisik dan kualitas teknis; tetapi jika ia mempunyai kualitas “sikap mental positif” yang kuat, maka ia tetap bisa menjadi manusia yang berkualitas total adalah baik.

Tetapi jika kualitas fisik, teknik atau pendidikan hebat, tetapi “sikap mental”nya negatif, maka kualitas keseluruhannya bisa menjadi sangat negatif. Lihat saja misalnya para koruptor. Mereka mungkin saja pandai, pintar, berpendidikan. Tetapi dengan “sikap mental” negatifnya yang melakukan korupsi, maka secara keseluruhan, koruptor itu mempunyai kualitas total yang sangat negatif. Mengapa? Karena korupsi merupakan ’crime against humanity and civilization’, seperti yang dikatakan oleh PBB.

Ah…tapi saya ndak perlu membahas-bahas masalah “sikap mental” di perusahaan, perusahaan saya tetap jalan dan maju kok…? Nah itulah dia…pendidikan tentang “sikap mental positif”, ternyata merupakan pendidikan yang masih terlupakan. Minimal, terpinggirkan. Manusia, sebagai manusia yang ’terus menjadi’, memang harus terus mendapatkan pencerahan, pendidikan, pelatihan. Tetapi pendidikan pelatihan yang jauh lebih banyak adalah yang membahas faktor teknis dan fisik serta pendidikan atau keterampilan. Faktor “sikap mental positif”, masih sangat kurang diperhatikan.

Mengapa demikian? Karena, pelatihan atau pengembangan “sikap mental “memang baru memberi dampak positif dalam jangka panjang (long term). Jadi, tidak seperti masalah teknis mesin atau sistem yang bisa menghasilkan perubahan lebih cepat. Akibatnya, terjadi banyak sekali masalah yang ditimbulkan akibat “sikap mental” yang negatif dari para manusianya.

Hmmm…Sekarang, sekalian Anda yang mengecek sendiri apakah “sikap mental”-”sikap mental”/perilaku/karakter atau keadaan negatif dibawah ini memang masih banyak terlihat baik dari pimpinan, anak buah, karyawan, anggota tim/organisasi atau perusahaan di lingkungan Anda  bekerja dan beraktifitas, antara lain:

  • KARYAWAN YANG SERING NEGATIF THINGKING
  • GAMPANG DIPROVOKATORI OLEH PIHAK LUAR SEPERTI: SERIKAT PEKERJA, KARYAWAN PERUSAHAAN LAIN, MASYARAKAT SEKITAR PABRIK, dll
  • ANAK BUAH BERORIENTASI HANYA PADA UANG DAN BUKAN PRESTASI
  • PRODUCT REJECT PERUSAHAAN YANG TINGGI
  • BANYAK KETIDAKJUJURAN
  • KARYAWAN KURANG GAIRAH KERJA
  • KARYAWAN TIDAK BISA BEKERJA TOTAL DAN TUNTAS
  • SULIT BEKERJA SAMA BAIK ANTAR TEMAN SEJAWAT ATAU ANTAR DIVISI/DEPARTEMEN/UNIT
  • ANAK BUAH SENANG IJIN DAN MANGKIR
  • ANAK BUAH TIDAK LOYAL KEPADA PERUSAHAAN
  • ANAK BUAH TIDAK PATUH KEPADA PIMPINAN
  • PIMPINAN TIDAK BISA MENJADI TELADAN BAGI ANAK BUAH
  • KARYAWAN TIDAK MEMAHAMI SUNGGUH-SUNGGUH BAHWA ’BEKERJA ADALAH IBADAH’
  • KARYAWAN TIDAK DISIPLIN WAKTU
  • SULIT UNTUK BERUBAH
  • SERING IRI HATI DENGAN PIMPINAN ATAU ORANG YANG LEBIH SUKSES
  • KURANG BERTANGGUNG JAWAB DALAM KERJA
  • ANAK BUAH SERING HANYA MENUNTUT HAK, LUPA PADA KEWAJIBAN
  • PIMPINAN YANG SOMBONG
  • SENANG MENGAKALI/MENEROBOS PERATURAN/SISTEM
  • KARYAWAN MUDAH TERBAKAR ISU DAN MELAKUKAN TINDAKAN ANARKI
  • KARYAWAN MUDAH UNJUK  RASA DESTRUKTIF…

Jika jawabannya memang YA, maka inilah saatnya kami -KPPSM F.X. Oerip S. Poerwopoespito- untuk membantu!! Dengan apa? Dengan memberikan konsultasi, pelatihan dan pengambangan “Sikap Mental Positif”. Jika masalah-masalah “sikap mental” negatif  bisa minimal dikurangi atau diatasi, maka kinerja tinggi, produktifitas yang hebat, kreatifitas tak terbatas, tercapainya target perusahaan, product reject rendah, kemampuan perusahaan untuk bertahan dalam situasi krisis adalah sebuah keniscayaan. Mantap kan?


Tetapi…apa berarti saya sebagai pimpinan harus terus mengawasi anak buah supaya berperilaku positif? Nah ini dia! Pelatihan pengembangan “sikap mental positif” yang kami lakukan juga bertujuan supaya karyawan/eksekutif mau ber”sikap mental positif”/berperilaku positif deengan kesadarannya dan bukan karena diawasi, diancam SP atau law enforcement yang lain. Sebab, Anda sebagai pimpinan tentu bukan robot yang mampu memelototi anak buah selama 24 jam…


Lalu apakah memang ada perubahan yang terjadi dari pelatihan pengembangan “sikap mental positif” dari KPPSM? Oke, kita lihat data contoh hasil perubahan dibawah ini:

CONTOH-CONTOH HASIL PERUBAHAN KUANTITATIF (TANGIBLE) SETELAH MENGIKUTI PELATIHAN “SIKAP MENTAL POSITIF”

1. Rata-rata eksekutif yang merasa mengalami perkembangan perilaku setelah mengikuti Pelatihan Pengembangan “Sikap Mental Positif”

2. Perubahan Disiplin dalam Menjalankan Batch Record ProduksiTablet dari Kelompok Departemen Produksi dan QA. Penelitian dilakukan di PT Meiji Indonesia- Bangil tahun 2000.

Keterangan: Mg I (sebelum pelatihan “sikap mental”). Mg II, III, IV (setelah pelatihan dan diadakan on the job training sebagai follow up)

3. Mencegah terjadinya unjuk rasa, yang sedianya pernah akan dilakukan oleh karyawan di KPS (perusahaan fotografi) tahun 2000 dan PT.JL (pengelola gedung) Tahun 2001

4. Membantu tercapainya EBITDA 15 % di PT Indah Kiat Pulp&Paper, Tbk, melalui proses follow up renungan selama 2 tahun penuh tahun 2002-2004.

5. Membantu meningkatkan penjualan donut dari PT DL sebesar 20 % (tahun 2001)

6. Membantu PT Furindo Kencana melaksanakan dead line dengan sempurna proyek pembangunan partisi khusus di Metro Departmen Store di Mal Taman Anggrek tahun 2002.

CONTOH-CONTOH HASIL PERUBAHAN YANG KUALITATIF  (INTANGIBLE) SETELAH MENGIKUTI PELATIHAN “SIKAP MENTAL POSITIF”

Pimpinan perusahaan melihat dan merasakan adanya perkembangan pada perilaku kerja sehari-hari seperti misalnya: Lebih mudah tersenyum dan melakukan sapa, jauh lebih baik dalam berkomunikasi, positive thinking, lebih baik dalam kerja sama, hilangnya kecemburuan atau iri hati antar departemen,unit/divisi, mau minta maaf jika bersalah, dan membuat hubungan para eksekutif dengan anak-anak atau suami/isterinya di rumah menjadi lebih baik.

Kemudian bertindak sebagai sahabat Tripartit dalam menyelesaikan ketegangan antara tim departemen sales dengan tim manajemen di PT KIM (sebuah perusahaan creative media promotion) pada tahun 2006. Ketegangan mencair, dan akhirnya bisa terjalin kerjasama yang lebih baik di antara kedua pihak tersebut.