BALANCE SCORE CARD ATAU SIKAP MENTAL POSITIF LEBIH DAHULU?

May 26, 2011 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Balance Score Card (BSC) merupakan alat manajemen kinerja yang termasuk paling banyak dan paling popular digunakan di dunia. Ditemukan oleh DR. Robert Kaplan dan DR. David Norton dalam publikasi artikel di majalah Harvard Business Review tahun 1992, kini BSC digunakan oleh 66 % dari 1221 perusahaan tinggkat dunia (menurut survei Bain and Company, 2008) dan nomor dua paling banyak digunakan oleh perusahaan Indonesia (menurut GML Performance Consulting).

Prinsip utama BSC adalah menekankan perlunya Indikator Keberhasilan Utama (KPI/Key Performance Indicator) dalam 4 perspektif, yaitu: Keuangan, Pelanggan, Proses Bisnis dan Pembelajaran SDM. Empat perspektif dalam BSC tersebut mencerminkan perlunya keseimbangan antara:

  • Penciptaan nilai bagai pemegang saham dengan perspektif keuangan, proses bisnis yang benar dan pemenuhan harapan pelanggan dan peningkatan kompetensi karyawannya lewat proses pembelajaran.
  • Harapan keseimbangan antara pihak eksternal (pelanggan), internal (proses bisnis) serta keseimbangan antara hal-hal tangible (keuangan) dan intangible (pelanggan dan SDM).
  • Dan terakhir, harapan terjadinya keseimbangan dalam hubungan sebab akibat, dimana perspektif Keuangan dan Pelanggan merupakan akibat dari pengelolaan proses bisnis dan SDM yang efektif sebagai drivers (pendorong).

Dalam evolusinya, BSC berkembang dari hanya sebagai alat ukur dan peringatan dini bagaikan sebuah dashborad dalam sebuah mobil, menjadi alat manajemen stratejik yang lebih luas. Sebagai alat manajemen stratejik, BSC diawali dengan penerjemahan Visi, Misi dan Sasaran Jangka Panjang Perusahaan/organisasi (destination statement) ke dalam Sasaran Stategis (SS) yang membentuk Peta Strategi. Setiap Sasaran Startegis akan menjadi acuan untuk menentukan Indikator Kerja Utama (IKU) dan Program Kerja Strategis  (PKS).

Contoh aplikasinya, sebuah perusahaan dapat menentukan salah satu SS-nya yang ingin dicapai adalah: Perluasan jaringan distribusi. IKU untuk mengukur keberhasilan 1 SS ini adalah: Pertambahan Jumlah jaringan distribusi baru, baik jaringan cabang maupun elektronik yang dibangun. Sementara, untuk memperluas jaringan distribusi baru, perusahaan perlu memiliki PKS yang spesifik dan terstruktur untuk membangunnya. Setelah PKS ditentukan, maka pembuatan anggaran investasi pembuatan jaringan dapat ditentukan.

Jadi, sistem BSC memudahkan integrasi dan penyelarasan antara perencanaan strategi (dengan SS), manajemen kinerja (dengan IKU) dan budgeting (melalui PKS dan Penganggaran). Dan dengan penentuan indikator Kinerja yang seimbang antara 4 perspektif tersebut, perusahaan dapat membangun indikator-indikator pertumbuhan di masa depan seperti: Indikator inovasi produk dan pengembangan SDM. Indikator-indikator ini dapat dipantau melalui dashborad yang harus berfungsi baik dalam memberikan sinyal peringatan dini jika terjadi  penyimpangan atau menyalakan lampu petunjuk yang memvisualiasikan pencapaian sasaran startejik organisasi.

Namun masalah baru/lebih sering terjadi ketika perusahaan masuk dalam tahap  mengimplementasikan konsep menajemen keren seperti ini. Simak penuturan ahli manajemen Ram Charan dan Geoffrey Colvin: ”Kami sering terkesima dengan pembuatan strategi…padahal, menurut estimasi kami, 70 % masalah ada di eksekusi, bukan pada pembuatan strategi…” Karena  ternyata, untuk menjalankan strategi, dibutuhkan sikap mental positif/perilaku/karakter kuat positif dan kuat, antara lain seperti: Kemauan berpikir positif, Teladan yang baik dari Pimpinan, Niat kuat dari seluruh karyawan untuk mengedepankan kinerja/target/produktifitas, Kedisiplinan dalam membuat atau mengikuti indikator yang sudah dibuat, kerendahhatian dalam membuat benchmarking pihak/organisasi/perusahaan yang akan dibuat, gotong royong yang kuat intra departemen/divisi atau inter departemen/divisi yang ada.

Satu aspek sikap mental, karakter atau perilaku di atas saja yang mengalami gangguan berat, dijamin dashboard BSC secara keseluruhan ikut-ikutan terganggu. Apalagi, jika sebenarnya aspek-aspek sikap mental penting lain juga banyak bermasalah, maka konsep indah nan canggih ini tinggal menjadi dokumen keren para petinggi perusahaan.

Lalu, apa yang perlu dilakukan? Tetap saja, dahulukan pengembangan sikap mental positif/perilaku/karakter positif yang kuat sebagai landasan hebat setiap SDM perusahaan untuk memikirkan, membuat dan menjalankan apapun aspek manajemen pendukung kemajuan perusahaan. Jika sikap dan perilaku itu banyak yang negatif, maka sebetulnya berat sekali menjalankan konsep manajemen apapun yang akan dilakukan.

Minimal, pengembangan sikap mental positif/perilaku/karakter itu harus dijalankan paralel dengan pengembangan manajemen. Tetapi jika aspek sikap ini dijalankan belakangan, maka akan terjadi begitu banyak kendala yang sebenarnya dapat dihindari dalam pelaksanaan tersebut. Jika kendala menimbulkan kerusakan atau dampak kecil, masih oke. Tetapi jika kendala tersebut menimbulkan dampak katastropik, maka semua visi misi impian bisa buyar.

Kecelakaan kereta yang amat sering terjadi di Indonesia dan menimbulkan jumlah korban yang cukup banyak sebetulnya sudah sangat mengganggu, bahkan menimbulkan citra yang buruk pada PT KAI, serta sangat mengganggu pencapaian visi misi perusahaan. Jangan sampai, hal-hal seperti ini terjadi pada perusahaan/organisasi kita…

Selamat menjalankan manajemen canggih, dengan dasar kuat sikap mental positif…

Salam BSC…

Drg. T.A. Tatag Utomo, MM., ASM

Direktur Pendidikan KPPSM
‘Pelatihan Pengembangan SIKAP MENTAL’
F.X. Oerip S. Poerwopoespito
WISMA KPPSM
Cibubur Indah III Blok F-7 Jaktim 13720
T: (021) 8716968, F: (021) 8719981
email: tatag@kppsm.com, website: www.kppsm.com
Weblog: www.pengembangankarakter.com
HP: 0818-874430, YM: tatag_kppsm@yahoo.com

FB: Tatag Utomo

FB: Pengembangan Sikap Mental Positif

Twitter: @tatagkppsm

About Tatag Utomo

Baca artikel sikap mental positif menarik lainnya :