DOA KAMI SEBAGAI ORANG KERAS KEPALA

February 19, 2014 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

”Ya Tuhan…sedang sibukkah Engkau? Kalau boleh kami ingin berbincang denganMu. Maaf kalau kami tampak lemas…kuyu…lelah atau stres. Karena tak kurang-kurangnya bencana Katastropik yang menghampiri kami, dengan efeknya, langsung ataupun tak langsung…

Sampai tanggal 17 Januari 2014 saja Tuhan, sudah terjadi 91 aneka bencana di seantero tanah air. Dan Jakarta sebagai Ibu Kota baru dihantam banjir dahsyat. Bagi kami yang tak terkena dampak langsung, kami tetap loyo berat terimbas macet yang menggila dan menggerus batas ketahanan fisik. Kini, Genung Kelud sudah meletus, dengan muntahan debu vulkaniknya mencapai 700 km lebih, sampai Bandung dan Bogor, yang membuat perekonomian daerah Jawa Timur sekitar gunung lumpuh setidaknya 3-4 hari…

Memang pasti Tuhan tahu apa yang akan kami ucapkan ketika datang menghadap, sujud kepadaMu. Ya, kami ingin keselamatan dan kesejahteraan, ingin bencana segera selesai, tak datang lagi mengganggu. Bisnis bisa jalan lagi, pundi uang kami bisa menggemuk lagi.Tapi setelah mencoba merenung dalam, kami ingin mengubah doa kami ya Tuhan…

Dan Engkau pun tahu apa perubahan doa kami. Ya, kami mohon ya Tuhan, agar Engkau membantu mengubah atau menyadarkan pikiran, budi, pekerti dan hati kami. Engkau mau lunakkan kerasnya hati kami yang terus mengacu kepada kebathilan. Melunakkan kerasnya kepala kami setelah tahu bahwa sesuatu itu salah tetapi diteruskan. Karena kalau kami pikir ya Tuhan, keras kepalanya kami ini sudah keterlaluan…sangat menyakiti hatiMu yang Suci. Bahkan mungkin semua tindakan bebal kami ini bisa dikatakan menantangMu ya Tuhan.Walaupun kalau kami ditanya satu-satu, mulut kami akan menyangkal bahwa kami berani menantangMu…

Bagaimana tidak ya Tuhan. Bencana sebesar Tsunami Aceh tetap tak menyurutkan langkah kami untuk menanam tanaman Ganja. Gempa Yogya Bantul konon malah membuat warga bukan semakin berhati lembut tetapi semakin dekat dengan kekerasan. Banjir bolak-balik di Jakarta ya Tuhan, tetap membuat tangan kami ringan membuang sampah sembarangan. Bahkan dilakukan oleh kami dalam kapasitas sebagai pengungsi banjir! Penggundulan hutan pun tetap kami teruskan atas nama Rupiah…

Letusan Gunung dimana-mana juga tak menggemingkan hati kami untuk menghentikan korupsi. Sebagai pengusahaa kami juga harus mawas diri ya Tuhan. Karena banyak diantara kami yang tetap setuju atau memandang wajar penyuapan, pelicin atau kolusi. Kami tetap meneruskan penyuapan dalam berbisnis, untuk melancarkan atau mempercepat atau memudahkan, bahkan -lebih gila lagi- membuat semua aturan, batasan atau larangannya bisa ditabrak. Kalau ndak begitu nanti bisnis ndak jalan. Begitu koor dari mulut kami ya Tuhan. Kami membuat kepintaran kami dalam bidang keuangan, untuk membuat transaksi akrobat, membuat kamuflase atau rekayasa keuangan terjadinya bisnis dengan perusahaan klien -yang notabene adalah perusahaan kami sendiri- untuk penghindaran pajak. Maaf Tuhan…Kami juga tetap tertawa meneruskan korupsi. Bahkan ketika KPK sudah hadir untuk khusus memberantasnya.

O ya Tuhan, kami juga malah membuat kepintaran kami menjadi ’keminter’. Kami yang menjadi pengacara, berusaha membenarkan apa yang salah pada klien kami, bukannya mengedepankan kebaikannya untuk dapat memperkecil hukuman. Jadi, kami memang ’Maju tak Gentar Membela yang Bayar’, dengan membuat pemutarbalikan fakta dengan membuat tafsir-tafsir kelihatan nancanggih…

Kami yang menjadi pemimpin negara juga sama Tuhan. Ketika berperang dengan negara lain, maka kami dengan rakyat bahu membahu memerangi musuh. Namun ketika tidak ada musuh dari luar, kami mulai mennyerang atau menindas rakyat kami sendiri. Kami buat peraturan, kebijakan, sistem, alat yang akhirnya memberatkan rakyat kami ya Tuhan. Semua akhirnya membuat rakyat mengeluarkan uang lebih besar dari waktu ke waktu, karena kami terus menaikkan harga sebagai kebijakannya. Dalihnya? Karena kehendak pasar…

Kala menjadi pemuka Agama juga demikian, Tuhan. Karena kesombongan kami, kami merasa mempunyai dan mengetahui kebenaran sejati, dan merasa hanya kamilah yang paling benar. Golongan lain? Salah semua, tempatnya di neraka semua. Dan kami merasa berhak membuat judgement dan penilaian-penilaian moral atas namaMu. Lebih gilanya lagi, kami membunuh atau membom orang lain dengan menyebut namaMu. Padahal dalam kebenaran Ilahi Sejati, hanya Engkaulah yang sepenuhnya Maha Mengetahui ya Tuhan, dan Padahal Engkau juga meneladankan kami cinta kasih dengan AsmaMu sebagia ’Maha Pengasih dan Penyayang’. Kami juga lupa Tuhan, bahwa membahagiakan orang lain berarti kami membahagiakan hatiMu sebagai pencipta orang lain itu. Dan kalau kami menyakiti (apalagi membunuh) orang lain, kami telah menyakiti hatiMu Tuhan…

Sebagai Wakil Rakyat, gempa berapa Richter pun tak membuat kami luruh, Tuhan. Kami tetap gunakan slogan 4 D kami (Datang, Duduk, Diam, Duit) dan mungkin sekarang tambahan dengan 4 K (korupsi, kolusi, korupsi dan kolusi lagi). Bahkan sejak mulai masuk menjadi anggota dewan, biaya belasan trilyun dikucurkan untuk kami, namun prestasi dala pengesahan Undang-Undang masih belum nampak…

Sebagai murid? Aduh malu juga kami ini. Kami senang dengan kurikulum tawuran. Dan kami tak ragu menancapkan celurit di kepala lawan kami, dengan celurit yang sangat besar. Air keras pun kami gunakan tanpa belas kasihan. Lucu ya Tuhan?

Padahal kami mengaku beragama. Namun entah kemana agama kami, ketika membawa gir sepeda, pisau belati, celurit, air keras, golok, pentung kayu berpaku untuk digunakan menyerang teman kami sesama pelajar. Sama saja dengan pembunuh ya?

Sebagai guru? Ini dia ya Tuhan. Kami juga merasa bahwa kami mendidik anak-anak dengan hebat. Padahal hasilnya, secara umum anak-anak kami bertambah stres, karena padatnya pelajaran yang bisa diperdebatkan kegunaannya, Tuhan. Mereka menjadi pribadi yang keras, sangar, tidak ramah, hanya bisa berpacar dengan gadget sehingga menjadi asosial dan bahkan intoleran terhadap sesama yang berbeda. Kami sadar tak sadar lebih membangun fisik dan harta bagi anak didik dan bukan jiwa. Padahal Tuhan, dalam lagu Indonesia Raya, leluhur kami yang budiman sudah melirikkan…’Bangunlah Jiwanya…Bangunlah Raganya…untuk Indonesia Raya’

Sebagai stasiun Televisi? Ini juga malu, Tuhan. Karena memang bagi kami yang menjadi Bos adalah Rating atau Pembayar Iklan. Yang penting orang bisa membayar iklan, pasti kami masukkan. Masalah iklannya benar atau tidak, mendidik atau tidak, urusan belakangan Tuhan. Iklan yang mendidik? Ah…nanti dulu Tuhan. Dengan strategi kami, bintang film yang terkait pornografi yang tak pernah minta maaf dan seharusnya dijatuhi hukuman soial, justru kalau ditampilkan lagi, akan membuat pengiklan senang Tuhan. Karena membuat penonton penasaran. Hebat ya Tuhan? Tetapi memang dada kami sebetulnya sering bergejolak memberontakkan suara hati. Tapi itulah Tuhan…suara hati kalah oleh ’bathi’ (keuntungan)…

Sebagai Rumah Sakit, Tuhan…aduuh. Saking khilafnya kami, pasien pun kami buang di pinggir jalan, sampai akhirnya meninggal. Semoga dia masuk dalam SurgaMu ya Tuhan dan ampuni kami yang sangat berdosa ini…

Sebagai penikmat dan pengedar narkoba ya Tuhan…kalau ini sebetulnya kami sudah benar-benar sama dengan iblis. Kami dengan sadar diri terus menyebarkan barang haram ini kepada anak dan adik-adik kami, sehingga menjadi pecandu. Kami bahkan bisa membunuh ayah dan ibu kami ketika sakauw..Kami tak tahu Tuhan, hukuman apa yang pantas bagi kami di alam kematian nanti…

Demikianlah ya Tuhan, masih banyak lagi reputasi negatif kami. Malu untuk mengutarakan semua, dan Engkau sudah mengetahui semuanya dengan sempurna. Jadi Tuhan, gelombang Tsunami, Gempa, Abu Vulkanik, Wedhus Gembel, Puting Beliung, Salju, Banjir dan Longsor besarpun ternyata tak dapat meluruhkan Angkara Murka, Keserakahan, Kesadisan, Kebiadaban, Kegoisan serta Kebebalan kami sebagai manusia. Kami sadar, Engkau sudah begitu baik dan sabar. Jika Engkau sudah tak sabar lagi, kami tak tahu apa yang akan terjadi dengan hidup kami. Karena sesungguhnya tak ada sebutir pasirpun yang sungguh-sungguh bisa menjadi milik atau kuasa kami. Semuanya adalah milikMu, tergantung KekuasaanMu dan akan kembali pula kepadaMu…

Ampuni kami ya Tuhan, sadarkankan kami mahluk yang sangat,sangat,sangat hina ini dan bukakan pikiran, hati, budi dan

pekerti kami dengan tanganMu yang lembut menempel di dahi kami…semoga kami bisa menjadi hambaMu yang semakin baik dari hari ke hari. Menghapus dosa kami dengan penuh kesadaran…”

Salam selalu mengingat Kebesaran Tuhan dalam setiap tarikan nafas kita…

Drg. T.A. Tatag Utomo, MM., ASM

Direktur Pendidikan KPPSM
‘Pelatihan Pengembangan SIKAP MENTAL’
F.X. Oerip S. Poerwopoespito
WISMA KPPSM
Cibubur Indah III Blok F-7 Jaktim 13720
T: (021) 8716968, F: (021) 8719981
email: tatag@kppsm.com, website: www.kppsm.com

Weblog: www.pengembangankarakter.com
HP: 0818-874430, YM:

tatag_kppsm@yahoo.com

FB: Tatag Utomo

FB: Pengembangan Sikap Mental Positif

Twitter: @tatagkppsm

About Tatag Utomo

Baca artikel sikap mental positif menarik lainnya :