HORMAT BENDERA MERAH PUTIH (bukan menyakralkan) SEBAGAI TANDA CINTA TANAH AIR

May 26, 2011 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Sekali lagi, hal ini bisa menjadi masalah sensitif. Tetapi saya akan coba memberi pandangan dengan obyektif, berdasarkan data fakta, hati-hati dan dari sudut pandang filosofis. Surat kabar Warta Kota hari Rabu, 23 Maret 2011 pada halaman 19 memuat sebuah artikel bertajuk: “Cholil Ridwan: Haram Hormat Bendera.” (sub judul: Itu Pendapat Pribadi). Artikel itu memberitakan bahwa salah satu ketua MUI Pusat, KH. A. Cholil Ridwan menyatakan bahwa haram bagi umat Islam untuk memberi hormat bendera dan lagu kebangsaan.

Cholil menyatakan, dalam Islam, menghormati bendera memang tak diijinkan. Dia merujuk pada fatwa Saudi Arabia yang bernaung dalam Lembaga tetap Pengkajian dan Riset fatwa pada Desember 2003 yang mengharamkan seorang muslim berdiri untuk memberi hormat kepada bendera dan lagu kebangsaan.

Wartawan Warta Kota tidak berhasil mengkonfimasikan hal  ini langsung kepada beliau, namun berhasil mendapatkan tanggapan dari Bapak Amidhan yang juga salah satu ketua MUI Pusat. Bapak Amidhan mengatakan: “Itu masalah yang teramat penting, tapi kapasitasnya adalah pendapat pribadi, bukan sebagai MUI. Jadi, pendapat pribadi bukan Fatwa MUI,” katanya.

Amidhan mengisahkan bahwa sejak sekolah di SD, dia selalu diwajibkan hormat bendera Merah Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. “Saya bersemangat, bergelora, dan itu membangkitkan semangat nasionalisme. Itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan soal menyakralkan bendera Merah Putih.” Katanya. Amidhan menegaskan, Cholil belum pernah menjadi PNS. “Beliau menyatakan pendapat pribadi dan selama ini beliau tidak pernah jadi PNS, yang sering melaksanakan upacara dan menghormati bendera. Jadi, itu sekali lagi merupakan pendapat dia pribadi dan salah yang mengutipnya.” Katanya. Pendapat Cholil akhirnya ramai dibahas di pelbagai situs sosial dan tentu saja ada yang mendukung dan menolaknya.

Kemudian, Kompas, Sabtu 30 April 2011 halaman 12 memuat artikel: “Wajib, Upacara Bendera di Sekolah.” Isi beritanya adalah: Semua sekolah wajib menyelenggarakan upacara bendera secara periodik. Kegiatan ini untuk menumbuhkan kebanggaan dan kecintaan kepada Tanah Air. Sekolah juga harus mengenalkan lagu-lagu wajib nasional kepada siswa. “Kewajiban ini mulai berlaku pada tahun ajaran 2011/2012 dan akan diatur dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional.” Kata Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh kepada wartawan di Jakarta, Kamis 28/4/2011 malam.

Mendiknas mengakui, saat ini sejumlah sekolah tidak menyelenggarakan upacara bendera. Bahkan ada yang berpandangan menghormat bendera adalah perbuatan terlarang. “Terhadap pandangan seperti itu, nanti kami beri penjelasan. Namun, regulasi atau aturan soal kewajiban menyelenggarakan upacara bendera juga harus ada,” kata Mendiknas. Mendiknas mengakui, setelah reformasi, pendidikan kebangsaan termasuk pengenalan lagu-lagu wajib nasional (dan juga pendidikan Pancasila) kepada siswa mulai diabaikan. Akibatnya, banyak siswa tidak mengenal lagu-lagu wajib nasional yang sebenarnya bisa menumbuhkan kebanggan dan kecintaan kepada bangsa. “Upacara bendera dan pengenalan lagu wajib harus menjadi budaya sekolah.  Ini sama halnya dengan: Menyapa guru, menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan perbuatan-perbuatan baik lainnya,” kata Mendiknas.

Persetujuan datang dari Guru Besar dan praktisi pendidikan, Arief Rachman yang menambahkan bahwa selain pendekatan struktural untuk menumbuhkan Nasionalisme, Patriotisme dan rasa Bangga serta Cinta Tanah Air, perlu ditambahkan pendekatan kultural yang mampu memberikan pengalaman emosional dan sosial kepada siswa. Hal ini bisa dilaksanakan melalui memberikan pengalaman-pengalaman (bernegara) secara langsung dan berdialog tentang (hal-hal kenegaraan) negeri ini.

Sementara, untuk menumbuhkan sikap mental positif rasa cinta dan bangga terhadap Tanah Air bagi masyarakat di perbatasan negara, kementerian Pendidikan Nasional menjalin kerja sama dengan TNI AD. Aparat TNI AD akan membantu menumbuhkan semangat kebangsaan dengan mengajarkan membaca, menulis dan sejarah perjuangan bangsa kepada anak-anak di perbatasan, seperti di Kalimantan, Papua dan NTT. Nota kesepahaman  ditandatangai  oleh  Mendiknas Mohammad Nuh  dan Kepala Staf TNI AD Jenderal George  Toisutta, Jumat 29/4/2011 di Jakarta.

Sekarang, pendapat saya pribadi: Saya telah merenungkan hal ini juga cukup lama, sejak saya usia SMA. Sulit rasanya untuk tidak mempunyai sikap mental positif rasa cinta Tanah Air tercinta ini, karena saya lahir dengan ari-ari (plasenta) yang ditanam di tanah Indonesia. Kecuali bagi WNI yang bukan lahir di Indonesia, rasa cinta itu mungkin saja lebih sulit tumbuh. Kemudiam saya tumbuh besar dan berkembang  juga di Tanah Air tercinta ini. Semua dilakukan di sini. Hidup, makan, minum, menarik nafas dari O2 yang gratis disedikan Tuhan di udara Negara Indonesia, buang air, belajar, sekolah, kuliah, bekerja, mencari makan…ya semuanya dilaksanakan di Tanah Air tercinta ini.

Belum lagi jika saya melihat, merasakan dan meresapi keindahan, kesuburan, kemolekan Tanah Air tercinta Indonesia ini, saya semakin cinta dan bersyukur kepada Tuhan YME. Karena keindahan, kemolekan dan kesuburan negeri ini termasuk yang terbaik di dunia, dan merupakan karunia Tuhan luar biasa yang tak tergantikan. Dalam ratusan kali pelatihan di seluruh daerah Indonesia, saya selalu menyempatkan bertanya kepada para peserta (terutama yang lahir, hidup, besar, bekerja dan ari-arinya ditanam di tanah Indonesia): Dimana mereka ingin mati; di tanah Indonesia ini atau di luar negeri? Semuanya -100% dan mengaku jujur- menjawab ingin mati di Tanah Ibu Pertiwi ini. Tidak ada satupun yang menjawab ingin mati di tanah lain di luar Indonesia.

So, Ladies and gentlemen, mengkultuskan/menyakralkan kain Merah Putih memang salah. Tetapi, menghormati bendera Merah Putih dengan tulus, menyanyikan lagu kebangsaan dengan bersemangat, berusaha mencintai Tanah Air Indonesia dengan berbagai sikap positif sebagai WNI adalah sebuah keharusan dan keniscayaan kultural. Selain itu, juga bisa dilihat sebagai  bentuk rasa terima kasih kepada Tuhan, yang telah memberikan negeri yang indah ini untuk menumpang hidup, bertumbuh besar, belajar, sekolah, bekerja, berbuat baik sebagai ‘manusia menjadi’ di sini.

Secara penalaran logis, analitis dan filosofis, jika memang tidak bisa mencintai negeri ini, lebih ideal jika kita mencari tanah air baru di luar sana. Ini sangat asasi dan tidak masalah sama sekali.  Atau, Jika memang tidak bisa mencintai -aspek sekecil apapun- dari perusahaan kita, jentel sekali jika kita mencari perusahaan baru yang dapat dicintai. Yang sangat tidak logis, tidak nalar, tidak filosofis dan tidak gentlemen adalah orang-orang yang lahir, menanam ari-arinya, ikut hidup, numpang makan, numpang buang air dan bekerja di Tanah Air Indonesia, di tanah Pertiwi ini, tetapi tidak mencintai, tidak mau menghormati Tanah Air ini, bahkan menyakiti, mencemarkan nama baik, dan berbuat negatif/jahat di sini. Ini analogus juga bagaikan karyawan perusahaan yang hidup, bekerja di sebuah perusahaan, tetapi tidak mau mencintai, menghormati perusahaannya, tetapi malah membuat tindakan-tindakan negatif yang merusak dan menghancurkan nama baik perusahaannya sendiri tersebut.  Negara dan perusahaan yang hancur pada akhirnya akan merugikan mereka sendiri juga.

Dan yang terakhir, pendidikan sikap mental positif , perilaku dan karakter positif untuk Cinta dan Bangga Tanah Air adalah pendidikan untuk membuat anak/siswa/karyawan menjadi  sosok humanis bagi semua kehidupan di sekitarnya. Kita sudah melihat dengan mata-kepala sendiri, akibat melalaikan pendiikan tersebut, generasi muda kita mengalami radikalisasi, senang kekerasan dan membenci keberagaman sebagai sifat kemutlakan alam. Ujung-ujungnya, sikap ini akhirnya akan merugikan semuanya termasuk kita sebagai orangtua atau pimpinan di keluarga/perusahaan/organisasi/institusinya, dan akhirnya akan semakin membuat Negara Indonesia mendekati status sebagai  failed country.

Sebuah pengumpulan jejak pendapat dari sebuah surat kabar baru-baru ini menemukan fakta bahwa semakin banyak siswa sekolah SMU/SMA yang setuju terhadap radikalisasi, kekerasan dan anti keberagaman. Padahal, jika direnungkan, seorang yang anti keberagaman (atau mengkultuskan keseragaman) adalah pecinta utopia belaka. Bagiamana mungkin kita mempertentangkan perbedaan-perbedaan hakiki antar orang lain, jika -ternyata- tak pernah ditemukan adanya  persamaan yang persis diantara 2 buah organ dalam seorang diri manusia. Kedua belah mata, telinga, paru, ginjal, testis, payudara,  kita tak pernah akan sama persis bentuknya. Bahkan panjang tangan kiri dan kanan kita takkan pernah mempunyai sentimeter yang sama. Jika terlihat bahwa keberagaman ternyata adalah nubuat Tuhan sendiri, (yang terlihat dalam dwiorgan tubuh seorang manusia), bagaimana mungkin kita mempertentangkan perbedaan hakiki diantara orang lain??

Mari, saudara-saudara sekalian…kehancuran, perpecahan, kegagalan bisa jadi sudah membayang pada Negara kita tercinta Indonesia. Kita harus saling berpegangan tangan sebagai saudara, menguatkan sikap mental positif gotong royong, meningkatkan rasa Hormat, Cinta dan Bangga kepada Tanah Air Indonesia, meningkatkan kembali pemahaman sejati mengenai hidup dengan penuh kebaikan, kebajikan dan penuh cinta kasih diantara sesama yang sangat beragam ini.  Jika gagal, taruhannya amat besar, dan kita membuat dosa pada anak cucu kita yang sebetulnya mempunyai fitrah suci, karena mewariskan rumah besar bersama bernama Indonesia yang porak poranda…

Salam cinta Tanah Air kita Indonesia…sampai mati…merdeka!!

Drg. T.A. Tatag Utomo, MM., ASM

Direktur Pendidikan KPPSM
‘Pelatihan Pengembangan SIKAP MENTAL’
F.X. Oerip S. Poerwopoespito
WISMA KPPSM
Cibubur Indah III Blok F-7 Jaktim 13720
T: (021) 8716968, F: (021) 8719981
email: tatag@kppsm.com, website: www.kppsm.com
Weblog: www.pengembangankarakter.com
HP: 0818-874430, YM: tatag_kppsm@yahoo.com

FB: Tatag Utomo

FB: Pengembangan Sikap Mental Positif

Twitter: @tatagkppsm

About Tatag Utomo

Baca artikel sikap mental positif menarik lainnya :