KUASI REORGANISASI dan SIKAP MENTAL POSITIF

July 15, 2011 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Sejatinya perusahaan berdiri, ingin mempunyai struktur keuangan yang sehat. Tetapi Karena satu dan lain hal, bisa terjadi sebaliknya. Perusahaan bisa mengalami masalah, mulai dari penjualan yang drop, krisis likuiditas, salah dalam manajemen hutang atau piutang, yang akhirnya membuat laba semakin menurun, dan akhirnya memang membuat neraca keuangan perusahaan negatif terus menerus

Bagaimana cara mengatasi yang ideal? Idealnya dengan benar-benar memperbaiki masalah-masalah tersebut satu per satu. Tetapi, karena canggihnya ilmu manusia, terciptalah ilmu rekayasa keuangan yang hebat. Salah satunya adalah KUASI REORGANISASI, yang diatur dalam PSAK No.51 (revisi 2003). Kuasi organisasi adalah upaya finansial untuk memperbaiki kondisi neraca keuangan konsolidasi perusahaan tanpa langkah reorganisasi  nyata, agar dapat menunjukkan posisi keuangan yang lebih baik dan tidak dibebani kondisi defisit masa lampau. Melalui kuasi, perusahaan bisa memperbaiki struktur ekuitasnya dengan mengeliminasi defisit dan menilai kembali seluruh aset serta kewajiban sebesar nilai wajarnya.   Eliminasi defisit dilakukan terhadap akun-akun ekuitas dengan urutan prioritas sebagai berikut: Cadangan umum, cadangan khusus, selisih peniliaian aset dan kewajiban dan selisih penilaian sejenisnya, tambahan modal  disetor dan sejenisnya serta tambahan modal saham.

Beberapa perusahaan yang menjalankan kuasi reorganisasi terlihat akibat terkena dampak krisis moneter 1997 atau krisis finansial global 2008. Sebagai contoh PT Garuda  Indonesia, Tbk (GGIA) Akibat krisis moneter, Dollar AS melonjak dari Rp. 2500,- sampai sempat mencapai Rp. 17.000 per dollar AS. Beban utang yang meningkat tajam tersebut tidak diiringi dengan kinerja perusahaan yang bagus, menyebabkan Garuda terus mengalami defisit, sehingga akhir 2010, defisitnya mencapai sekitar Rp. 6,83 triliun!  Begitu juga dengan PT Bakrie & Brothers, Tbk (BNBR). Sebagai perusahaan investasi, perusahaan ini terpukul sekali dengan krisis finansial global 2008. Nilai investasi BNBR di saham-saham anak perusahaan seperti di BUMI, ELTY dan ENRG mengalami penurunan tajam. Sehingga ketika melakukan perhitungan marked to marked terhadap saham-saham itu, timbul kerugian cukup besar, karena book value saat saham itu dibeli jauh lebih tinggi.

Akhirnya, tahun 2010, defisit BNBR mencapai sekitar Rp. 27,10 triliun, yang merupakan akumulasi dari keerugian sebesar Rp. 16,4 triliun dan tahun 2008 sebesar Rp. 1,7 triliun di tahun 2009 dan sebesar Rp. 7,6 triliun tahun 2010. Masih juga ditambah kerugian akumulasi investasi saham di 3 anak perusahaan tadi sebesar Rp. 10,4 triliun. Akhirnya, BNBR resmi memproses kuasi reorganisasi untuk menghapus kerugian sebesar Rp. 38,2 triliun pada Mei 2011. Sebab, andai perusahaan ini bisa menghasilkan untung Rp. 1 triliun per tahun, maka defisit ini baru akan tertutup sampai 38 tahun!

Pada Juli 2011 di Indonesia tercatat 14 perusahaan Tbk memproses permohonan kuasi, dan baru 2 perusahaan yang menuntaskan kuasi, yakni PT KMI cable Wire Cable Tbk, dan PT Polychem Indonesia Tbk.  Beberapa perusahaan yang meminta kuasi tercatat antara lain adalah: PT Garuda Indonesia Tbk, PT Barito Pacific Tbk, PT Eterindo Wahanatama Tbk, PT Indofarma Tbk, PT Bank Artha Graha Tbk, PT Asia Natural Resources Tbk dan PT Bakrie & Brothers Tbk. Perusahaan yang meminta kuasi harus memenuhi beberapa persayaratan, diantaranya adalah perusahaan mencatatkan saldo laba negatif selama 3 tahun berturut-turut.

Tetapi itulah dia. Tehnik ini mungkin sarat dengan bau negative engineering , sehingga mungkin dekat dengan semacam ‘akrobat finansial’. Mengapa? Pertama, masalah yang terjadi tidak diselesaikan dengan menyelesaikan akar penyebab, tetapi dengan rekayasa. Ibarat menyembuhkan luka dengan membuang luka itu atau malah menyembunyikan luka dan bukan mengobatinya dengan sempurna. Dan kedua, dalam tehnik ini tidak ada reorganisasi yang nyata dalam strategi keseluruhan perusahaan, hanya memoles bagian keuangan atau akuntingnya saja. Jadi, ilmu ini kelihatan benar tetap mungkin sebetulnya tidak tepat. Maka, pemerintah pun sudah meningkatkan kehati-hatian dengan meminta laporan keuangan pertengahan tahun yang diaudit untuk proses kuasinya. Beberapa perusahaan yang menyerahkan laporan kuartalan, apalagi yang tidak teraudit, ditolak permohonan kuasinya.

Lumrahkah hal ini? Ternyata hal ini biasa dilakukan. Di Tahun 2003, BNI juga melakukan kuasi  organisasi untuk menghapus defsit sebesar Rp. 58,90 triliun. General Motors (GM) juga melakukan untuk mengeliminasi defisit pada krisis global 2008. Dan melalui strategi ini, GM bisa bangkit kembali dan terbebas dari jerat kebangkrutan. Dan PT Holchim Indonesia (SMCB) setelah selesai melakukan kuasi reorganisasi tahun 2010, di tahun 2011 kembali sudah bisa membagikan dividen sebesar Rp. 178,19 miliar atau sekitar Rp. 23 per sahamnya!

Jadi, rupanya dengan tehnik ini, perusahaan yang mengalami defisit bisa ibaratnya memulai usaha dari awal lagi, sehingga bisa berjalan dengan tanpa beban dan akhirnya kembali memupuk keuntungan yang akan dibagi kepada pemegang saham atau investor.

Namun, ada akibat lanjutannya. Para eksekutif perusahaannya akan dengan gampang mengandalkan tehnik kuasi ini jika nanti terjadi masalah keuangan berat kembali. Padahal, ternyata masalah tersebut mungkin terjadi karena masalah sikap mental negatif manusianya. Akhirnya, tehnik ini menjadi andalan. “Ah…tenang saja, nanti juga masalah di kuangan bisa diatasi dengan rekayasa kuasi.”

Mungkin karena salah satu sebab pemikiran seperti itulah, tehnik kuasi organisasi atau kuasi reorganisasi ini akan dilarang mulai tahun 2012. Pada tahun itu, Indonesia akan menggunakan standar akuntansi baru yaitu: International Financial Reporting Standard. Terlihat, proses Corporate Finanace di perusahaan harus semakin dijalankan dengan baik, benar, tepat, teliti dan sesuai standar yang semakin tinggi kesahihannya.

So…rekan eksekutif sekalian, Juli 2011 ini IHSG telah menembus rekor baru yaitu 4000, tertinggi sepanjang sejarah indeks di Bursa Efek Indonesia. Jadi, manfaatkan momentum kegairahan publik untuk berinvestasi, dengan terus mengedepankan terlebih dahulu sikap mental positif dalam pengelolaan SDM perusahaan (good people governance), agar perusahaan semakin sehat karena kinerja riil yang mencorong dan bukan sekedar karena rekayasa, apalgi akrobat keuangan. Sebab, sehebat apapun tehnik rekayasa keuangan, tetap saja ada manusia pengelola di balik rekayasa tersebut, dan yang menjalankan perusahaan secara nyata…

Salam reorganisasi yang nyata dan sehat…

Drg. T.A. Tatag Utomo, MM., ASM

Direktur Pendidikan KPPSM
‘Pelatihan Pengembangan SIKAP MENTAL’
F.X. Oerip S. Poerwopoespito
WISMA KPPSM
Cibubur Indah III Blok F-7 Jaktim 13720
T: (021) 8716968, F: (021) 8719981
email: tatag@kppsm.com, website: www.kppsm.com
Weblog: www.pengembangankarakter.com
HP: 0818-874430, YM: tatag_kppsm@yahoo.com

FB: Tatag Utomo

FB: Pengembangan Sikap Mental Positif

Twitter: @tatagkppsm

About Tatag Utomo

Baca artikel sikap mental positif menarik lainnya :