HUKUMAN KERAS DALAM PERILAKU

June 3, 2013 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Dalam kelas, sering ada pertanyaan: Sebetulnya, manusia selalu masih bisa berkembang/berubah ke arah yang lebih baik atau tidak sih? Terutama, pada saat pendidikan dilakukan pada masa usia dewasa. Karena sejatinya, mereka sudah kena berbagai macam sentuhan pendidikan, seperti pendidikan keluarga, agama, lingkungan tetangga, lingkungan sekolah, pergaulan, peer group, geng, dan sebagainya.

Jawabannya adalah: Belum tentu atau…tidak. Selalu ada sedikit populasi manusia yang memang kopegh, stubborn, keras kepala, tak mau dan tak bisa berubah lagi. Mereka-mereka inilah yang sangat membuat judeg pada HRD atau personalia di perusahaan-perusahaan. Mau dikeluarkan ndak enak, tapi tidak dikeluarkan, mereka menyebarkan virus negatif dengan kecepatan 3. 10 8 m/detik.  He..he… Lalu berapa persenkah orang seperti itu? Beberapa kali kami mengamati dan melakukan penelitian bersama dengan teman-teman dari berbagai perusahaan, sebenarnya tak sampai 5 % sosok manusia yang seperti itu.

Kita akan membahas dahulu penyebabnya, mengapa mereka menjadi sosok yang ‘sangat sulit’ seperti itu. Ya, kemungkinannya: Pertama, Mereka pernah mengalami benturan kepala yang mengganggu kesehatan otak besar atau otak kecilnya. Kedua, mereka pernah mengalami trauma berat masa kecil, seperti siksaan fisik atau pelecehan seksual. Ketiga, mereka yang mengalami gangguan kejiwaan berat seperti PSIKOPAT. Keempat, mereka lama berada dalam lingkungan keluarga broken home (dari ayah-ibunya). Kelima, mengalami kelainan kromosom seperti misalnya berbakat brutal dan sadis pada sindroma Trisomi X.

Faktor pertama, kedua, keempat dan kelima merupakan faktor nasib. Yah, nasib mereka mendapatkan keadaan seperti itu. Dan memang sangat sulit mengatasinya, karena diperlukan terapi yang intens, pendampingan, obat bahkan mungkin pembedahan otak. Khususnya, faktor kelima yang memang nyaris tak bisa berbuat apa-apa, karena kelainannya terdapat dalam mesin terkecil manusia tingkat interselulernya, yakni dalam gen.

Yang menarik adalah faktor ketiga, yaitu psikopat. Seperti pernah dijelaskan dalam artikel-artikel terdahulu, 80 % penyebabnya adalah kurangnya pendidikan karakter positif pada diri mereka saat usia dini. Dan karakter/sikap mental/perilaku yang perlu dididik adalah 5 hal sederhana, yaitu: Mau dan mampu untuk mengucapkan salam (say hello), perkataan tolong (please). Mengucapkan permisi (excuse me), mengutarakan permintaan maaf (sorry) dan bilang terima kasih  (thankyou).

Sederhana? Memang sangat sederhana. Tetapi 5 kata utama itulah pembentuk dasariah yang amat kokoh dari pribadi seorang manusia. Lima kata dasar itu mewakili 5 situasi dasar manusia ketika bertemu dengan orang lain, dibantu oleh pihak lain, meminta bantuan, melakukan hal yang kemungkinan akan menganggu privasi/hak orang lain dan katika memang benar-benar bertindak salah terhadap orang lain.

Jika seseorang sangat kekurangan dalam pendidikan sikap mental atau karakter dasar itu dan memang benar-benar sudah terbentuk menjadi psikopat (misalnya sesuai dengan diagnosa psikologi dengan alat DSM IV), maka mulailah masa-masa sulit bagi orang lain di sekitar orang tersebut. Yang bersangkutan sendiri tak terlalu masalah, tetapi sekjali lagi, orang-orang disekitarnya yang berkaitan dengannyalah, yang akan menjadi stress…ketimpa pulungnye, kate orang Betawi!

Dan  para psikopat itu mempunyai ciri khas yang tak pernah meminta maaf terhadap perbuatan salahnya atau memang tak pernah menyesalinya, serta terus akan melakukan perbuatan negatifnya, manakala ada kesempatan, kelamahan situasi atau kelengahan hukum! Daaan…itulah yang terjadi pada para koruptor dan pengedar narkoba. Mereka sudah mengalami mati rasa malu, mati kepekaan sosial dan mati keinginan untuk memperbaiki diri.

Kita bisa melihat bagaimana para koruptor tak pernah menyesali perbuatannya. Lihat saja dalam pembacaan vonis Angelina Sondakh. Hakim menyebutkan bahwa yang memberatkan Angie sebagai terdakwa adalah dia tidak mengakui atau menyesali perbuatannya. Lihat juga para pengedar kakap narkoba tersebut. Bahkan sudah dalam penjarapun, mereka tetap dan mampu mengelola peredaran narkoba, memanfaatkan sipir-sipir penjara Indonesia yang lemah sekali melihat ‘si kertas merah’.

Dan show off kebrutalan korupsi terakhir ditunjukkan oleh Irjen Djoko Susilo dengan hasil korupsinya yang ampun-ampunan. 13 rumah mewah bernilai masing-masing + Rp. 3 M, tanah berhektar-hektar, 3 pompa bensin, 3 isteri dan mungkin masih banyak lagi. Padahal era beliau adalah juga era dimana KPK sudah intens memberantas korupsi. Jadi, mereka melakukannya dengan kesadaran penuh, kecepatan penuh, dan ketidakpedulian bahwa mereka telah ‘memangsa orang lain’. Memangsa uang Negara, uang rakyat kecil, bahkan nyawa orang-orang. Betul kan? Para pengedar narkoba tak peduli bahwa produk edaran mereka telah membunuh ratusan ribu anak muda tumpuan keluarga. Para koruptor tak peduli bahwa tindakan mereka membuat miskin Negara, terutama dalam melemahkan kemampuan memberikan pelayanan pada kaum kecil!

Sebagai gambaran saja, korupsi dana BLBI 1997-1998 yang sekitar 50 trilyun, pernah dihitung bisa untuk membiayai pendidikan seluruh anak SD di Indonesia sampai selesai plus pemberian makanan bergizi minimal selama 2 tahun penuh, sehingga mereka terjamin menjadi penerus bangsa yang kuat dan sehat!

So, pantaslah jika pengedar narkoba dan koruptor masuk dalam pelaku kejahatan yang LUAR BIASA BERAT! Mereka, menurut konvensi PBB, melakukan crime against humanity, bahkan juga disebut melakukan crime against civilization.

Dan so kalau begitu…jika ditangani dengan cara atau hukuman biasa? Ya ndak bakalan mempan. Secara khusus saya mengamati, dengan pola pengadilan dan penghukuman seperti di Indonesia sekarang ini, korupsi dan narkoba ndak bakalan surut, malah semakin melebar dan meluas. Kehancuran bangsa sudah mulai terjadi….pasti! Lha wong di China dengan hukuman mati saja tak terlalu membuat koruptor takut…Apalagi di Indonesia, dengan logika matematika aneh dalam menghukum: Pencuri sandal jepit seharga Rp. 12.000,- mendapatkan 5 tahun kurungan, tetapi koruptor uang Negara 34 milyar seperti Angie hanya mendapat 4 tahun penjara…he..he… Beberapa teman bahkan mengatakan pada saya, SIAP DAN RELA untuk masuk penjara 10 tahun sekalipun, kalau bisa korupsi 34 milyar! Ndak jadi masalah mas, itung-itung…tugas belajar ke luar negeri aja kan ?!*%$##^^

Kalau begitu lagi, terpaksa: Hukuman untuk untuk mereka memang harus disiapkan dengan 3 D. DIHUKUM BERAT, DIMISKINKAN, dan maaf…DIPERMALUKAN BERAT. Dan ini sebenarnya sangat mudah …hanya membutuhkan political will and consciousness will yang kuat dari pemimpin! Mau atau tidak melakukan hal ini, demi bangsa dan Negara. Ingat, pengedar narkoba dan koruptor menurut ilmu psikologi adalah para psikopat berat yang tak kan pernah menyesali perbuatannya…

Mereka tak takut hukuman mati, karena uang hasil jarahannya sangat lebih dari cukup untuk menghidupi keluarganya tujuh turunan! Maka…perenungan saya, hanya 3 cara itulah yang mempan untuk membuat efek jera dalam ilmu perilaku khsusus kejahatan berat ini.

- DIHUKUM BERAT: Ya. Hukuman mati malah ringan buat mereka. Tetapi hukuman lenih dari 100 tahun seperti yang didapat Bernard L. Madoff di Amerika akan membuat siksaan seumur hidup buat pelaku.

- DIMISKINKAN. Ini yang jauh lebih ditakutkan. Kalau tidak salah, berita koran sudah pernah memunculkan bahwa Gayus Tambunan akan dimiskinkan. Begitu juga Djoko Susilo, yang akan kapok kalau semua harta betul-betul disita, sampai tinggal pakaian dalam GT-Man-nya saja yang tinggal

- DIPERMALUKAN. Apalagi yang ini….akan lebih menakutkan lagi. Menghukum pribadi pelaku narkoba dan koruptor mungkin kurang membuat kapok. Tetapi…IKUT MEMPERMALUKAN RING I TERDEKAT KELUARGANYA, AKAN MEMBUAT PELAKU BERPIKIR ULANG. Taktik pelaksanaannya bisa bermacam-macam. Salah satunya adalah, foto mereka pribadi di tempel di banyak tempat-tempat umum dengan kasusnya masing-masing. “Inilah koruptor dan pengedar narkoba di Indonesia…Awasilah mereka, tingkah polah dan hartanya selamanya”. Mereka sendiri dan ring satu keluarga terdekat, akan mendapat catatan khusus di HALAMAN DEPAN KTP-nya selamanya sebagai KORUPTOR, PENGEDAR NARKOBA, KELUARGA PENGEDAR NARKOBA, dan KELUARGA KORUPTOR! Dijamin, mereka akan berpikir 1000 X untuk korupsi dan menjadi pengedar. Saya membayangkan misalnya mau menjadi koruptor, takut membayang kalau anak isteri saya ikut mendapat getah berat seumur hidup dengan cap sebagai keluarga pengedar atau keluarga koruptor, YANG AKAN MEMEBERATKAN SEMUA LANGKAH HIDUP MEREKA!

Tentu, metode ini bisa diperdebatkan, tetapi…coba saja renungkan. Apalagi yang bisa membuat mereka kapok untuk menjadi manusia jahat seperti itu?

Akhir kata, pendidikan karakter/sikap mental/perilaku posistif sejak usia dini sesungguhnya menjadi hal yang terpenting. Hal tersebut akan membantu manusia untuk mengurangi atau mengecilkan kemungkinannya untuk menjadi pelaku kejahatan berat kemanusiaan dikemudian hari. Sayangnya, pendidikan perlaku/karakter/sikap mental/budi pekerti masih jauh kalah gengsi dengan pelatihan atau pendidikan berbau teknis keren…seperti Penyusunan KPI, Balance Score Card, Salesmanship, TNA, K3, Intelligent Marketing, Performance Appraisal, Mekatronika, Problem Solving Decision Making,  PLC Maintenance, TQM, Blue Ocean Strategy, Corporate Finance, Discounted Cash Flow untuk Valuasi Saham…dan lain-lainya.

Selamat berperang melawan kejahatan narkoba dan korupsi…

Drg. T.A. Tatag Utomo, MM., ASM

Direktur Pendidikan KPPSM
‘Pelatihan Pengembangan SIKAP MENTAL’
F.X. Oerip S. Poerwopoespito
WISMA KPPSM
Cibubur Indah III Blok F-7 Jaktim 13720
T: (021) 8716968, F: (021) 8719981
email: tatag@kppsm.com, website: www.kppsm.com

Weblog: www.pengembangankarakter.com
HP: 0818-874430, YM: tatag_kppsm@yahoo.com

FB: Tatag Utomo

FB: Pengembangan Sikap Mental Positif

Twitter: @tatagkppsm

About Tatag Utomo

Baca artikel sikap mental positif menarik lainnya :