NBA dan SIKAP MENGERTI KESULITAN PERUSAHAAN

November 4, 2011 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Beberapa waktu lalu kita dikejutkan dengan berita bahwa kegiatan kompetisi Liga Basket Amerika atau National Basketball Association dihentikan atau dibekukan. Penyebabnya adalah belum dicapainya kesepakatan gaji para pemain NBA yang dinilai sudah terlampau mahal dengan para pemilik klub. Para pemilik klub sudah sangat berat membayar gaji para pemain basket mereka -terlebih pemain bintang- yang nilainya mencengangkan.

Berapa sih gaji mereka? Ya, untuk sekelas Kobe Bryant dari Los Angeles Lakers, ia dibayar sekitar Rp. 250 Milyar per tahun! Jauh lebih besar dari gaji termahal pemain sepakbola sekelas Christiano Ronaldo yang hanya dibayar sekitar Rp. 125-150 milyar per tahunnya.  Hmmm…jumlah gaji yang membuat 99 % umat manusia di muka bumi menjadi malas bekerja, karena memang mustahil untuk memperolah pendapatan sebesar itu. Seorang rekan dosen senior bahkan pernah mengatakan pada saya, “Apalagi dosen seperti kita mas, mbok sampai nitis (reinkarnasi atau lahir kembali-red) 7 kali ke bumi ini, kita gak bakalan dapat gaji segitu…ha..ha..ha”

Masalahnya, the party is over. Situasi gemerlap ekonomi di Amerika sudah berakhir karena keuangan di Amerika sedang berat. Negara itu dilanda hutang besar  yang menyebabkan krisis ekonomi dan mereka harus mengusahakan untuk mengecilkan hutang atau derajat DER (debt to equity ratio-nya). Pemasukan klub juga semakin terancam, karena penonton juga makin berat untuk membayar harga tiket masuk pertandingan yang semakin mahal.

Sebetulnya, harapan para pemilik klub dan organisasi NBA sederhana saja. Para pemain mau berkorban sedikit untuk mengurangi jumlah gaji mereka, sehingga liga atau kompetisi tahunan basket Amerika yang sangat tersohor itu tetap bisa berjalan. Namun, para pemain -sekali lagi dimotori oleh para pemain bintang- seperti Kobe Bryant dan Le Bron James menolak opsi itu dan memilih tidak mau bermain jika gaji mereka diturunkan.

Bahkan, akhirnya, karena semua pemain tidak mau menurunkan atau menyesuaikan gajinya, kompetisi benar-benar dihentikan total, sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Para pemain itu akhirnya berencana bermain basket di liga negara-negara lainnya seperti di Spanyol, Italia, Yunani, dan China. Tentu saja negara-negara tersebut kemungkinan akan menerima mereka dengan gembira. Masalahnya adalah: Apakah klub-klub baru tersebut  akan memberikan gaji spektakuler seperti yang di dapat di Amerika? Kemungkinan besar jawabannya adalah tidak. Apalagi dalam situasi krisis nyaris global sekarang yang dipicu oleh krisis hutang di Yunani dan merembet ke semua negara Eropa lain, seperti Spanyol, Italia, Slovenia, Inggris, bahkan Perancin dan Jerman sebagai Negara Eropa dengan keuangan yang terkuat.

Dan, ini dia paradoksnya: Kalau hanya dapat gaji yang cukup jauh lebih rendah dibandingkan di Amerka,  buat apa susah-susah pergi keluar negeri? Jauh lebih baik sebenarnya mereka tetap bermain di Amerika, dengan iklimnya yang sudah sangat par excellence dalam bidang basket, dengan sedikit pengertian untuk penyesuaian gaji baru. Toh, rata-rata gaji mereka masih tetap sangat tinggi.  Misalnya, dengan gaji diturunkan 8 % menjadi Rp. 230 milyar pertahun, Bryant masih mampu membeli Ferrari seharga Rp. 4,4 milyar setiap minggu!

Sikap Mental Yang menonjol terlihat disini adalah: Para pemain bintang NBA kurang mempunyai rasa mengerti kesulitan organisasi atau klubnya. Mereka hanya peduli dengan tingkat gajinya yang sangat spektakuler.  Mereka juga lupa bahwa klub dab organisasi NBA mempunyai tanggung jawab atau kepentingan yang jauh lebih besar dibandingkan kepentingan masing-masing pribadi pemain. Seandainya mereka mempunyai sikap mental untuk mau mencoba mengerti kesulitan organisasinya dan mau sedikit rendah hati untuk menyesuaikan gajinya, maka roda kompetisi tetap dapat berjalan. Kompetisi berjalan, jelas membawa perputaran bisnis yang sangat besar yang bermanfaat untuk kehidupan mereka sendiri dan orang banyak. Dan akhirnya akan memajukan negara mereka. Bahkan juga, dunia! Karena minimal, dengan berhentinya kompetisi NBA, dunia kehilangan salah satu tontonan/pendidikan olah raga paling wahid di dunia…

Dalam skala lebih kecil namun mempunyai analogi yang sama: Perusahaan sangat membutuhkan karyawan yang mempunyai sikap mental ‘mau mengerti kesulitan perusahaan’. Mereka adalah petarung-petarung yang tidak tinggal gelanggang begitu saja setelah mengetahui perusahaan masuk dalam kesulitan, tetapi berusaha memahami dan ikut mencari jalan keluar penyelesaian. Dan karyawan yang mau mencoba mengerti kesulitan perusahaan/organisasi akan mempunyai prinsip bahwa: ‘Yang terbaik untuk diri sendiri belum tentu terbaik untuk semua, tetapi yang terbaik untuk semua pada hakekatnya terbaik untuk diri sendiri juga.’

Selamat berempati pada kesulitan perusahaan/organisasi…

Drg. T.A. Tatag Utomo, MM., ASM

Direktur Pendidikan KPPSM
‘Pelatihan Pengembangan SIKAP MENTAL’
F.X. Oerip S. Poerwopoespito
WISMA KPPSM
Cibubur Indah III Blok F-7 Jaktim 13720
T: (021) 8716968, F: (021) 8719981
email: tatag@kppsm.com, website: www.kppsm.com
Weblog: www.pengembangankarakter.com
HP: 0818-874430, YM: tatag_kppsm@yahoo.com

FB: Tatag Utomo

FB: Pengembangan Sikap Mental Positif

Twitter: @tatagkppsm

About Tatag Utomo

Baca artikel sikap mental positif menarik lainnya :