REVITALISASI KEMBALI MAKNA BURUH

May 12, 2014 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Beberapa waktu belakangan ini kita melihat pusaran berita mengenai demo buruh. Dari waktu ke waktu tuntutan tak berubah adalah masalah kesejahteraan. Walaupun, ada juga kecenderungan bahwa tuntutan-tuntutan dan pergerakan akhirnya bernuansa politis. Sebagian pihak lagi bahkan mengatakan bahwa tuntutan mengarah kepada akal-akalan atau mengarah kepada kepentingan tertentu.
Saya juga melihat, bahwa lama-lama, kalau dilihat dengan logika dan dirasakan dengan nurani, maka tuntutan dan apa yang disuarakan buruh menjadi mulai tidak wajar. Tidak masuk akal, tidak bisa melihat fakta dan kenyataan, bahkan mulai dilanda ’ketidakberpikiran’ dan mengedepankan emosi seperti layaknya mahluk bukan manusia.
Oke. Langsung kita bahas mengenai tuntutan kesejahteraan. Secara umum, siapa sih yang tak ingin sejahtera? Semua pimpinan negara pun ingin agar rakyat (dalam hal ini buruh) menjadi lebih dan semakin sejahtera, dapat hidup dengan layak. Saya pribadipun sebagai karyawan ingin juga mendapatkan kesejahteraan besar. Kalau begitu…kita tuntut terus saja kepada pemerintah, pengusaha, Asosiasi, dan semua pihak yang bisa dituntut? Tetapi masalah ikutannya kemudian tidak sesederhana itu. Dan bila buruh terus memaksakan hal yang memang SANGAT TIDAK MUDAH untuk dilaksanakan, -apalagi disertai tindakan anarkhis- maka itu akan menghancurkan semuanya…
Mari kita lihat hal-hal apa yang dapat dilihat sebagai pembahasan upah buruh yang dikatakan layak untuk bertahan hidup?

1.    PRINSIP STRUKTUR ORGANISASI DI PERUSAHAAN
Suka tidak suka, prinsip atau struktur dari manusia-manusia yang ada di perusahaan adalah Piramida. Semakin tinggi jabatan, maka akan semakin sedikit jumlah manusianya. Tetapi semakin rendah jabatannya, maka akan semakin banyak manusianya. Dan itulah pekerjanya. Secara ilmu Biologi pun rata-rata begitu. Jumlah tawon pekerja jauh lebih banyak dari pada Ratunya.

2.    PRINSIP RESIKO PENGUSAHA SEBAGAI PEMILIK MODAL
Pengusaha, memang terlihat lebih enak dan nyaman dengan penghasilannya, kemampuan mendapatkan laba atau kemampuan menggunakan pendapatan perusahaan yang dimilikinya. Tetapi dibalik itu, terdapat resiko besar yang JAUH LEBIH BESAR dibandingkan karyawannya. Jika perusahaan bangkrut, begitu banyak hal yang harus diurus oleh pengusaha. Resiko kehilangan uang dalam jumlah sangat banyak hampir pasti terjadi. Belum lagi dengan kewajiban pesangon sesuai UU yang harus dipenuhinya. Sementara karyawan? Jika perusahaan bangkrut, ya sudah…tinggal mencari tempat atau perusahaan baru, tanpa harus memikirkan tetek bengek kehidupan perusahaan yang lama.

3.    PRINSIP ‘THE LARGE NUMBER’ DARI PEKERJA
Kalau jumlah pekerja sedikit, menaikkan upah yang atau dengan jumlah spektakuler mungkin tak terlalu sulit. Tetapi dengan jumlah pekerja yang sangat banyak, maka tindakan itu bisa sangat berat dilakukan oleh pengusaha. Misalnya saja tuntutan kenaikan upah dari Rp. 2,2 menjadi Rp. 3,7 juta saja berarti kenaikan Rp. 1,5 juta. Lha kalau jumlah karyawan di sebuah perusahaan ada 100 orang saja, maka perusahaan mesti mengeluarkan tambahan Rp. 150 juta/bulan! Sementara ada jutaan buruh yang ada diseluruh Indonesia ini…

4.    Prinsip ANEH DARI PENDAPATAN PERUSAHAAN DAN GAJI KARYAWAN
Ladies and Gentlement… Coba lihat baik-baik keanehan ini: Pendapatan perusahaan tidak bisa selamanya naik. Pasti ada pasang surut, sehingga i d e a l n y a, menurut hukum linier matematika, penghasilan buruh juga turun naik dong, sesuai penghasilan perusahaan. Tetapi yang terjadi? Mau untung atau rugi, gaji buruh tetap harus naik dari tahun ke tahun, minimal sesuai inflasi. Coba renungkan lagi setelah membaca kalimat barusan ini. Kenyataannya? Ndak ada di dunia ini berlaku hukum seperti itu, yaitu memberi gaji turun naik seperti penghasilan perusahaan. Karena sederet alasan ilmiah segera diketengahkan. Apalagi dengan alasan Hak Asasi Manusia. ”Yah kan mereka sudah setiap hari hampir menghabiskan waktunya di perusahaan, wajar lah kalau penghasilan mereka naik dari tahun ke tahun.”
Sepele? Tampaknya. Namun perlu kita ingat: Kejatuhan ekonomi Amerika salah satunya adalah karena petinggi-petinggi perusahaan besar di sana selalu memberi bonus terlalu besar pada karyawannya, termasuk untuk menaikkan gaji dan memberi bonus kepada diri sendiri terlalu besar…BAHKAN KETIKA PERUSAHAAN RUGI atau NYARIS BANGKRUT. Salah satu contohnya adalah Lehmann Brothers, dengan Richard Fuld sebagai direkturnya.

5.    PRINSIP KESULITAN PERUSAHAAN YANG JAUH LEBIH BESAR DARIPADA KESULITAN PRIBADI KARYAWAN
Coba, kita hitung. Jumlah kesulitan hidup seorang karyawan: Misalnya paling tidak ada 20 item: Kesulitan bayar kos, biaya makan, uang sekolah anak, uang kesehatan, bla..bla..bla… Sekarang kita lihat baik-baik. Berarti jika perusahan mempunyai 100 orang karyawan saja, sesungguhnya perusahaan menanggung 2000 kesulitan manusia. Yaitu masing-masing 20 item kesulitan x 100 orang karyawan. BELUM LAGI, DITAMBAH KESULITAN PERUSAHAAN SENDIRI, YAITU: Kesulitan bayar gaji, bayar pajak, jalanan macet yang menggila, kesulitan menghadapi bajing loncat dalam pengiriman, menghadapi preman, bayar permintaan sumbangan Ormas atau LSM pemeras sekitar pabrik. Belum lagi menghadapi biaya siluman/pungli dari aparat yang mencapai 19-24 % dari biaya produksi (Data dari anggota Komisi IX dari Fraksi PKS Indra, dalam diskusi ‘Polemik’ soal Upah Minimum Provinsi (UMP) di rumah makan kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu 2/11/2013. Belum lagi persaingan yang makin sengit, kesulitan bahan baku, kesulitan dengan pajak, peraturan atau Undang-undang, Sulitnya menghadapi masalah buruh, bencana alam, dan masih  puluhan kesulitan lain yang riil dihadapi. Jadi, Total kesulitan Perusahaan = Σ Kesulitan Perusahaan sendiri +  Σ Kesulitan masing-masing karyawan. Wow…

6.    TENTANG JUMLAH KOMPONEN TUNTUTAN HIDUP LAYAK BURUH
Seperti pernah saya tulis, bahwa batas dari kepuasan manusia hanyalah langit biru. Dan memang kalau dituruti, tak kan ada habisnya. Padahal, ekonom Jerman Prof. Ulrich Ducrow sudah mengingatkan bahwa konsep ekonomi ’Cukup’ harus mulai diterapkan. Kalau tidak, alam takkan mampu menyangga keinginan semua manusia penghuninya. Dulu komponen kesejahteraan buruh mencapai 48 item, sekarang naik menjadi 60 item. Nanti minta menjadi 84 item…lama-lama menjadi 120 item…habislah sudah…

7.    TENTANG VALUE DARI KOMPONEN TUNTUTAN HIDUP LAYAK BURUH
Nah, ini dia. Ada komponen yang memang masuk akal untuk dimasukkan dalam daftar. Tetapi kalau bantal dan guling menjadi KHL bulanan? Rasanya tak masuk akal. Saya sendiri mengganti bantal atau guling dirumah paling cepat 6 tahun sekali. Kalau komponen bantal dan guling minta ganti tiap bulan, boleh saja, kalau logikanya, air liur kita adalah H2SO4 pekat atau HCL, atau golongan air keras lain seperti H3PO4 (asam Phosphat). Artinya, bantal guling itu hancur terkena iler kimia (air liur) malam hari yang keras. Padahal, iler hanyalah H2O biasa dengan campuran mineral seperti Calsium, Kalium dan Immunoglobulin yang ber PH netral…

8.    KESEJAHTERAAN BURUH, SELAIN TARGET PERUSAHAAN ADALAH JUGA TANGGUNGJAWAB PEMERINTAH
Ini yang penting. Perusahaan perlu mempunyai filosofi bahwa: Kesejahteraan adalah target dan bukan beban. Artinya secara filosofi, prusahaan tanpa menunggu UMP baru harus berpikir untuk memberi kesejahteraan lebih pada karyawannya seiring berjalan waktu, inflasi dan jaman. Namun, TIDAK BISA SEMUA HAL KESEJAHTERAAN BURUH DITANGGUNGKAN KEPADA PENGUSAHA. Non sense dan rata-rata perusahaan ndak bakalan mampu! Sesuai amanat UUD 45, maka seharusnya, pemerintah berandil besar untuk memberikan pelayanan yang baik, subsidi atau kemudahan dalam bidang Pendidikan, Kesehatan dan Perumahan (ditambah Transportasi). Artinya, biaya untuk 4 faktor ini menjadi lebih bisa dihemat, jika dibantu oleh pemerintah. So, kemampuan menabung buruh menjadi meningkat. Sebagai gambaran, buruh di Jepang bisa mempunyai rumah tinggal dengan jarak 80 km dari lokasi perusahaan, tetapi itu semua no problemo, karena pemerintahnya mampu memberi transportasi cepat, aman nan nyaman dengan Kereta Peluru. Lha di Indonesia? Semua itu masih dalam proses mewujudkannya yang setengah mati. Disuruh berhenti naik mobil pribadi ke bus, busnya tidak layak. Disuruh naik kereta api, panel listriknya tergenang banjir. Beli motor katanya semakin memacetkan jalan. Lalu harus naik apa?? Untuk Pendidikan dan Kesehatan memang sudah mulai ada sekolah gratis dan BPJS. Itu pun masih dengan masalah dimana-mana. Untuk perumahan, masih menjadi mimpi besar. Sebab, tanpa subsidi, pengembang hanya akan membangun rumah menengah berharga 500 juta-an ke atas. Mau kapan karyawan bisa punya rumah sendiri?

9.    PRINSIP MENUNJUKKAN PRODUKTIFITAS DAHULU BARU MENUNTUT KESEJAHTERAAN
Ini juga penting. Sebetulnya, konsepnya adalah kita sebagai karyawan memberi atau menunjukkan kemampuan produktifitas dahulu, baru kesejahteraan menyusul kemudian. Bukan sebaliknya, diberi kesejahteraan dahulu, baru produktiftas naik. Kesejahteraan yang naik sampai 50 %, apa memang mampu diimbangi dengan kira-kira peningkatan produktifitas, kemampuan dan kecerdasan sekitar 50 % juga dari karyawan Indonesia? Sangat sulit. Dan malahan, ini bisa jadi bumerang. Sebetulnya kenaikan kesejahteraan 10-20 % adalah nilai yang wajar, yang masih bisa diimbangi dengan peningkatan kemampuan dan produktifitas karyawan linier dengan itu. Tetapi kalau sudah 40-50 %, pengusaha tinggal menantang jawaban timbal balik produktifitas karyawan yang sama. Kata anak muda jaman sekarang: ”Berat boook…”

10.    PRINSIP BAHWA YANG TERBAIK UNTUK SEMUA, BIASANYA TERBAIK BAGI PRIBADI MASING-MASING DI PERUSAHAAN. TETAPI YANG TERBAIK BAGI DIRI SENDIRI, SANGAT BELUM TENTU TERBAI UNTUK SEMUANYA.
Benar kan? Kalau ditanya, seorang karyawan akan mengeluarkan angka terbaik buat gajinya yaitu misalnya Rp. 50 jt/bulan. Dengan gaji sebesar itu, perusahaan  mampu saja, tetapi karyawan langsung dikurangi 70 %, dan seorang karyawan akan didebani sekitar + 6 jabatan sekaligus! Tetapi dengan gaji sebesar sekarang, paling tidak ini adalah terbaik untuk semua karena perusahaan masih bisa eksis, memenuhi tuntutan untuk berkembang dan memberikan laba serta kesejahteraan. Ini bukan berarti tidak boleh menuntut dan pasrah bongkokan, tidak! Tetapi cara, proporsi, nilai dan logika tuntutan itu mesti benar-benar masuk akal, logis, analitis dan memberi efek baik untuk semuanya.

11.    PRINSIP BAHWA SEMUA AKAN MENGARAH PADA MEKANISASI DAN OTOMATISASI
Ini yang tak bisa dicegah. Apalagi dengan Perilaku, Sikap Mental dan Karakter karyawan yang semakin negatif. Pengusaha akan tak malu-malu lagi berpikir mengganti manusia dengan tenaga mesin. Gilanya lagi, ada perusahaan seperti restoran Mie Ramen di Jepang dan Taiwan, yang sudah menggunakan mesin, robot dan otomatisasi untuk Chef dan pelayannya! Pelayan menggunakan robot berbentuk manusia yang bisa berjalan, bercakap, menghibur dan Chef-nya menggunakan lengan mekanik robot yang bisa mencampur, meramu, memasak makanan dengan 100 % tepat dan tak berubah rasa. Harga 1 robot itu sekitar Rp. 30-40 juta rupiah, dan pengusaha restoran tersebut berencana membeli 40 robot lagi. Artinya mereka rela mengeluarkan Rp. 1,2 Milyar untuk membeli karyawan yang tak kan pernah mengeluh, ijin urusan keluarga, sakit thypus, apalagi demo!

12.    PRINSIP KESEIMBANGAN BIAYA YANG EFISIEN
Kita lihat Australia. Bahkan pemerintah Australiapun tak bisa membendung keluarnya SEMUA PERUSAHAAN OTOMOTIF disana. Pemerintah Australia tak mampu lagi memberikan jalan keluar, subsidi, atau bantuan kepada industri otomotifnya disana. Berturut-turut perusahaan seperti Mitsubishi, Honda, Holden (sebagai mobil kebanggaan Australia) dan terakhir Toyota akan menghentikan semua produksinya selambat-lambatnya pada akhir 2017. Mengapa? Salah satunya adalah upah buruh yang kelewat tinggi dan membuat harga produk mobil menjadi tak efisien dan tak bisa bersaing lagi dengan Vietnam, Korea, China dan Indonesia. Jadi, jika kita lama-lama mengarah kepada upah buruh yang terlalu tinggi, hmmm…hal in juga akan terjadi pada negara kita.

13.    PRINSIP GOLDEN RULE: APA YANG KITA LAKUKAN PADA ORANG LAIN, MESTINYA JUGA NYAMAN JIKA DILAKUKAN PADA DIRI KITA
Jadi gampangnya, cobalah kita sebagai karyawan membuka usaha kecil-kecilan. Atur dan manajemeni usaha kita seperti layaknya perusahaan kecil. Gaji saja karyawan-karyawan Anda dengan upah Rp. 2,2 juta/bulan sebagai UMP Jakarta 2013. Terasa berat bukan? Sebagai contoh: Swalayan-swalayan seperti Alfa atau Indomart mempunyai paling tidak 6 orang karyawan, dengan gaji Rp. 2,2 juta sekarang ini atau totalnya Rp. 13.200.000. Biaya operasional Listrik saja, mencapai Rp. 6 Juta/bulan. Jadi paling tidak, keuntungan penjualan sebulan harus mampu menutupi oerasional listrik dan gaji sebesar Rp. 19.200.000,atau dibulatkan dengan biaya lain-lain yang belum disebut yaitu Rp. 20.000.000,-. Mampu? Kalau jarak diantara swalayan-swalayan itu masih memenuhi kaidah dahulu, yaitu berjarak kalau tidak salah + 500 m, masih mudah mendapatkan keuntungan itu. Tetapi sekarang?? Mereka berhadap-hadapan seberang jalan, bahkan berdampingan persis! Terbayang bagaimana kue pasar konsumen menjadi rebutan…

14.    REVITALISASI MAKNA BURUH (KARYAWAN):
Nah, semangat ini terakhir yang mesti ditonjolkan. Makna buruh harus dikembalikan lagi sebagai…? Ya, sebagai pekerja dan bukan bos. That’s it!Walau ada motivator yang mengatakan kita adalah bos bagi diri sendiri, ya itu benar secara filosofis. Namun secara legal formal, kita tetap buruh atau karyawan atau pekerja, titik. Maka, sebagai pekerja atau buruh -mungkin- level kesejahteraannya akan berbeda dengan petinggi atau pemilik perusahaan. Namun…so what? Hukum alamnya memang begitu. Yang terjadi akhir-akhir ini adalah semangat, bahwa buruh harus mempunyai kesejahteraan yang terus bertumbuh dan akhirnya nyaris tak beda dengan pemilik perusahaan. Lha…kok seperti terjadi dalam sosialisme. Jadi, terasa kurang pas. Menjadi karyawan ya tetap karyawan. Tetapi tetap MULIA, karena pekerjaannya membantu atau memudahkan orang lain (baca: konsumen) dalam proses kehidupan atau bisnisnya. Bahkan TETAP BISA SUKSES SECARA FINANSIAL. Tengok saja dalam buku ’Saya Beruntung Menjadi Karyawan’ karangan Hendri Hartopo, yang menjelaskan bahwa sebagai karyawan, kita tetap bisa sukses. Syarat utamanya? Ya cerdas dalam keuangan. Utamanya dengan bersikap hemat dan ketekunan menabung dalam jangka panjang untuk mendapatkan efek multiplier-nya. Parkteknya? Sebagian karyawan (+ 70 %) perusahaan di Jabodetabek tidak cerdas dalam keuangan dan malah terlibat hutang kartu kredit. Mereka bahkan berani memiliki lebih dari 2 kartu kredit untuk gali lubang tutup lubang. Biaya rokoknya? Mencapai Rp. 10.000-20.000/hari. Pola makannya, jajan atau beli terus. Seperti yang diminta dalam daftar KHL 2013-2014 ini: Makan dan minum Rp 1.060.000 dengan rincian:

a. Makan pagi (nasi uduk telor ) 5 ribu x 30 = Rp 150 ribu
b. Makan siang (nasi soto) 9 ribu x 30 = Rp 270 ribu
c. Makan malam (nasi goreng) 8 ribu x30 = Rp 240 ribu
d. Buah-buahan per bulan Rp 100 ribu
Minuman
a. Teh 2 ribu x 30 = Rp 60 ribu
b. Kopi 2.500 x 30 = Rp 75 ribu
c. Air mineral 3 ribu x 30 = Rp 90 ribu
d. Susu 2.500 x 30 = Rp 75 ribu

Bukankah jauh lebih baik makan membawa bekal? Seperti yang dilakukan para karyawan di sebuah gedung perkantoran elit di Kuningan (yang notabene gajinya rata-rata diatas Rp. 5 jutaan/bulan), sudah banyak karyawan yang membawa bekal sendiri, masak air minum sendiri, karena jauh lebih hemat dari pada beli. Jika setiap hari hitungannya membeli nasi uduk, nasi gorang, teh, kopi dan air mineral…ya habislah uang gaji karyawan!
Kalau semua karyawan juga ingin naik mobil yang semewah pemilik, ya mungkin akan terlalu berat. Dalam kesulitan seperti sekarang ini, karyawan juga sudah terlihat cukup makmur. Ketika demo-demo kemarin dijalan, tampaklah mobil atau motor karyawan yang cukup wah, Sekelas Yamah Vixion, Byson, Honda CBR dan Mobil Toyota Avanza. Dan ketika ditanya reporter, mereka berusaha mengelak mengakui kepemilikan kendaraan tersebut dengan mengatakan bahwa itu punya pengurus Serikat Pekerja? Ho..ho..ho..

Okey, Tulisan ini dibuat bukan untuk melemahkan semangat karyawan untuk mendapatkan kesejhateraan yang semakin baik, jelas tidak! Bukan pula untuk semata membela kepentingan perusahaan. Jelas bukan. Tetapi untuk mengajak kita semua merenung, bahwa persoalan upah buruh adalah masalah kompleks yang harus dipecahkan dengan jernih, analitis, bijaksana, memeperhatikan banyak variabel serta data dan fakta… Tidak boleh menggunakan emosi dan egoisme yang sesaat dan sempit. Dan kembali mengingat makna hidup sebagai buruh atau karyawan, yang memang mempunyai keterbatasan. Jelas, desakan dengan demo anarkhis adalah jalan, perilaku, sikap mental serta karakter yang buruk, tetapi niat pengusaha untuk selalu menomorbuncitkan masalah kesejahteraan karyawan juga tidak tepat. Maka, semua dari kita dapat memberikan sumbangsih dalam masalah upah buruh ini dengan kembali melihat 14 faktor yang telah dibahas, sekaligus merevitalisasi kembali makna buruh masa kini dan mendatang. Serta, melihat juga bahwa taruhan dari kegagalan bersikap dari semua ini akan membawa pada impliasi yang berat pada tata surya kehidupan perekonomian kita semua….

Oke…selamat berdiskusi dengan damai dalam masalah upah yang memang aahhhh….

Drg. T.A. Tatag Utomo, MM., ASM
Direktur Pendidikan

KPPSM F,X. Oerip S. Poerwopoespito
Wisma KPPSM
Cibubur Indah III Blok F-7 Jaktim 13720
T: 8716968, F: 8719981, HP/WA: 0818874430
E: tatag@kppsm.com, W: www.kppsm.com
Weblog: www.pengembangankarakter.com
FB: Pengembangan Sikap Mental Positif
Twitter: @tatagkppsm  Youtube: KppsmVideo

About Tatag Utomo

Baca artikel sikap mental positif menarik lainnya :