TELADAN SIKAP MENTAL POSITIF MUHAMMAD YUNUS UNTUK INDONESIA

August 26, 2010 by Tatag Utomo · Leave a Comment 

Rekan eksekutif sekalian mungkin sudah sering mendengar kisah tentang Grameen Bank, sebuah bank dari negeri Bangladesh yang melayani nasabah-nasabah dari kaum papa, terutama para pengemis. Pendirian bank ini mencengangkan banyak ekonom, pengamat ekonomi ataupun para bankers,  karena menurut pandangan mereka, pendirian bank khusus kaum miskin -apalagi pengemis-, adalah tidak mungkin. Berikut adalah cerita teladan M. Yunus dan Grameen banknya yang disarikan dari koran Kompas.

Ternyata, bank yang didirikan oleh Muhammad Yunus itu berkembang bisnisnya dan sekaligus membawa misi sangat mulia, yaitu perlahan-lahan mengajak para pengemis sebagai nasabahnya untuk mulai meninggalkan profesinya dan mencari profesi lain yang lebih bermartabat.

Bank ini -yang berkantor pusat di Dhaka, Ibukota Bangladesh- dipenuhi dengan nilai-nilai filosofi kehidupan yang luar biasa. Semuanya ini dimulai dari teladan sikap mental positif/perilaku dan karakter positif dari sang pemimpinnya sendiri yakni Muhammad Yunus. Lihat saja uaraian ini:

Berdasarkan penuturan General Manajer Grameen Bank Muhammad Shahjahan, Muhammad Yunus senantiasa menempatkan dirinya sebagai karyawan biasa dan bukan bos. Ia berkantor di lantai satu, sehingga langsung dapat melihat semua permasalahan di bank-nya. Di kantornya pun tak ada barang-barang mewah sama sekali sebagai hiasan. Dan dengan suhu udara 380 C di Bangladesh (yang membuat orang Rusia pada kolaps), tak ada AC di ruangan beliau! Hanya ada kipas angin sebagai pengusir gerah. Kondisi gerah ini selain untuk menerapkan efisiensi energi, juga untuk mengingatkan bahwa karyawan lapangan Grameen Bank benar-benar bekerja dengan peluh bercucuran.

Meja untuk para karyawan Grameen adalah meja kayu sederhana yang digunakan kaum kebanyakan di Bangladesh, dengan ukuran 1 M2. Dan, seukuran itu pula meja Yunus. Ukiran-ukiran indah nan mewah? Tak bakalan ditemui di Bank ini. Uniknya pula, tak ada laci di meja-meja ini. Yunus berkata, ”Tak ada laci di meja kami. Sebab, laci membuat karyawan cenderung memasukkan dokumen ke dalamnya. Mereka menjadi lupa akan pekerjaan yang harus diselesaikan. ”

Sebagai pendiri bank dengan kaliber dan reputasi internasional serta peraih Nobel Perdamaian 2006, pendapatan Yunus sungguh membuat orang tak habis pikir. Sebagai orang nomor satu di Grameen, gajinya perbulan hanyalah 650 US $. Gaji itupun masih harus dipotong 250 US $ untuk sewa tempat tinggal Yunus di gedung Grameen Bank. Meski merupakan pendiri, rupanya hal itu tak membuatnya dikecualikan dari pembayaran sewa tempat tinggal. So, gajinya tinggal 400 US $ atau Rp. 3.786.000,-/ bulan jika diRupiahkan. Hal yang sangat  kontras dengan gaji bankir senior nasional kita yang bernilai puluhan bahkan ratusan juta rupiah sebulan.

Ternyata, disparitas gaji Yunus dengan anak buahnya sangat kecil. Jadi, penghasilan yang tak jauh berbeda antara Yunus dan anakbuahnya, membuat jurang perbedaan pendapatan nyaris tak ada. Gaji manajer keliling Grameen bank adalah 175 US $ saja. Ketika ditanya besar atau kecilkah nilai itu dalam standar negara Bangladesh, Muhammad Shahjahan menjawab,”Yang penting, pegawai merasa hidup berkecukupan.”

Gilanya lagi, mobil Yunus sebagai orang nomor satu tidaklah mewah. Ia hanya punya sebuah minibus, yang dipilih karena efsiensinya, yang bisa memuat paling tidak 6 orang. Gilanya lagi-lagi, mobil yang sudah dipakai 8 tahun ini juga tak ber-AC. Dan setelah dipakai selama 20 tahun nantinya, Yunus juga belum berencana mengganti mobil itu. Gilaa……

Bagaimana dengan para menajer keliling? Setali tiga uang, merekapun juga diliput kesederhanaan. Bagi manajer keliling yang mempunyai jarak jauh dalam kerjanya, mereka hanya dibekali sepeda. Sehingga tercipta jukukan untuk mereka sebagai ’bicycle bankers’, atau bankir bersepeda. Mereka diwajibkan menjaga sikap independen dan etika bisnis yang kuat. Mereka tak boleh tergoda tawaran-tawaran dari nasabah, termasuk air putih!

” Jadi, semangat mereka bekerja bukan pada semangat kapitalismenya, tetapi lebih pada motif merasa bahagia bisa membuat masyarakat miskin bisa hidup lebih baik,” ujar Shahjahan. Mantaaap…

So, ladies and gentlemen. Apa yang bisa kita ambil dari paparan luar biasa ini? Tentu saja ini adalah contoh sikap baik atau positif yang ekstrem dan mungkin tak bisa diterapkan an sich begitu saja di Indonesia. Ada yang menyamakan semangat atau moralitas Yunus dengan semangat Ibu Theresa dalam mengabdi pada kaum papa di India. Ibu Theresa memang dari kaum biarawati…tetapi Yunus, bagaimanapun dia adalah seorang eksekutif bank.

Semangat yang bisa diambil disini adalah semangat kebersahajaan. Bahwa kita boleh saja berusaha kaya, tetapi memang ada batasnya. Ada kata cukupnya, seperti yang diutarakan oleh ekonom Jerman terkemuka, Prof. Ulrich Ducrow dari Univesitas Heidelberg. Beliau mengutarakan prinsip ’Economy of Enough’, bahwa pertumbuhan ekonomi harus ada cukupnya. Jika tidak, kecenderungan pertumbuhan adalah bergerak menuju penghancuran diri manusia.

Kemudian adalah sikap mental positif semangat melayani. Boleh kita berusaha meraih harta keduniawian lebih, tetapi tetap didasari semangat melayani orang lain dengan sempurna. Juga, didasari oleh semangat untuk membahagiakan orang lain, bukannya semangat ingin dilayani atau semangat mengakali, membohongi, memanipulasi seperti yang dipertontonkan oleh para pemimpin, eksekutif kelas tinggi, para wakil rakyat, serta pejabat departemen atau lembaga tinggi negara lain.

Hal ini masih diperparah dengan niat membuat lakon-lakon politik dan ekonomi yang sangat membingungkan rakyat (karena tak pernah ada arah dan ending yang jelas), yang bisa dilihat dan diruntut mulai dari Century Gate, teruuuuus sampai masalah Gayus, Susno Duaji, DPR yang selalu merasa kurang sejahtera, Polri dan KPK, ledakan gas yang terus terjadi tanpa penanganan adekuat dari pemerintah. Dan sebagainya…

Mungkin kita memang tak bisa berharap pada pemerintah. Tetapi sebuah penelitian kecil dari seorang sahabat saya memperlihatkan bahwa agen perubahan yang paling mungkin adalah para eksekutif swasta. Mengapa? Karena merekalah yang sudah lebih akrab dengan sistem, SOP, peraturan, PKB, reward punishment, dan sederet perilaku manajemen lainnya. Singkatnya, mereka terbiasa untuk hidup lebih teratur, bisa mengatur dalam lingkup negara kecil yang bernama perusahaan…

Dan, sosok perilaku positif eksekutif seperti Muhammad Yunus sungguh bisa memberi inspirasi untuk kita para eksekutif, agar mampu membawa semangat-semangat sikap mental positif di atas yang ditanamkan beliau untuk kita jalani sedikit-sedikit dalam unit terkecil sehari-hari. Jika semua bisa melakukan hal seperti ini, maka kebesaran bangsa Indonesia adalah sebuah keniscayaan yang tak perlu menunggu waktu terlalu lama untuk mewujudkannya….

Salam kebersahajaan Yunus…

Drg. T.A. Tatag Utomo, MM., ASM

Direktur Pendidikan KPPSM
‘Pelatihan Pengembangan SIKAP MENTAL’
F.X. Oerip S. Poerwopoespito
WISMA KPPSM
Cibubur Indah III Blok F-7 Jaktim 13720
T: (021) 8716968, F: (021) 8719981
email: tatag@kppsm.com, website: www.kppsm.com
Weblog: www.pengembangankarakter.com
HP: 0818-874430, YM: tatag_kppsm@yahoo.com

FB: Tatag Utomo

FB: Pengembangan Sikap Mental Positif

Twitter: @tatagkppsm

About Tatag Utomo

Baca artikel sikap mental positif menarik lainnya :